"Hidup normal saja. Berhenti makan sebelum kenyang. Tidur seolah-olah kau mati. Olahraga dan nikmatilah hidup ini apa adanya," ujar Emil santai setelah peluncuran dan sosialisasi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang pertambangan ramah lingkungan di Hotel Sultan, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (27/7/2011).
Olahraga rutin yang dilakukan Emil yakni renang, bersepeda, dan jalan kaki. Pria yang lahir di Lahar, Sumut 8 Juni 1930 itu berolahraga minimal 3 kali seminggu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Emil yang merupakan alumni Fakultas Ekonomi UI tahun 1959 ini mengisahkan asal muasal dirinya terjun ke dunia lingkungan hidup. Sebagai seorang ekonom, dunia ini adalah dunia baru baginya.
Dirinya pun sempat heran mengapa mantan Presiden Soeharto dahulu memberikan kursi Menteri Lingkungan Hidup tersebut kepada dirinya. Namun, Soeharto membuka matanya akan arti bagaimana seorang ekonom bisa mengatur lingkungan hidup.
"Beliau bilang ekologi itu rumah tangga alam dan ekonomi itu rumah tangga manusia. Jadi bagaimana menggunakan alur pikiran rumah tangga manusia dalam mengatur rumah tangga alam," jelasnya.
Sejak tahun 1978 itulah, Emil akhirnya nyemplung ke dunia lingkungan hidup. Awalnya Emil mengaku tidak mengerti mengenai dunia tersebut. Namun pria beranak dua ini mulai belajar perlahan-lahan, saling tukar pikiran dengan yang ahli di bidang lingkungan dan pasang mata. Dari situlah Emil baru mengetahui penyebab rusaknya lingkungan hidup Indonesia.
"Karena ekonomi juga. Jadi ada baiknya jika kita mengerti ekonomi," imbuhnya.
Emil pun mengharapkan di tahun 2050 kelak, anak-cucu semua makhluk di dunia bisa menghirup udara bebas racun serta bisa tinggal di tanah airnya sendiri.
"Anak cucu kita akan berjumlah 9 miliar pada tahun 2050. Indonesia 350 juta. Harapannya bagaimana agar anak cucu kita bisa hidup di Tanah Air yang tidak tenggelam dan menghirup udara bebas dari racun," harapnya.
Bagaimana untuk mewujudkan itu semua? Menurut Emil, pembangunan dan sumber daya alam harus berjalan terus. "Caranya bukan dengan menggali habis tapi meningkatkan nilai tambah alam dan jangan diekspor tapi harus ditingkatkan lagi," ungkapnya.
(gus/nwk)










































