Keluhan
Saya salah satu nasabah Bank Mandiri. Hari Sabtu, 26 April 2008 saya melakukan transaksi di daerah Pos pengumben Jakarta Barat. Tepatnya di Apartemen Pos Pengumben. Ketika saya memasukan kartu tiba-tiba kartu saya tertelan. Di layar ada tulisan kalau mesin ATM ini sementara rusak. Karena panik saya berlari keluar dan mengatakan kepada orang yang sedang mengantri bahwa ATM tersebut rusak. Kemudian ada salah satu pengantri di belakang saya mengarahkan saya agar menelepon ke nomor yang tertera di stiker yang tertempel di mesin ATM.
Tidak sedikit pun terbersit kecurigaan saya karena stiker tersebut sangat rapih. Lengkap dengan logo mandiri yang bersih. Kemudian saya menelepon ke nomor tersebut. Telepon saya dijawab oleh seorang pria dan memandu saya membantu saya mengeluarkan kartu ATM saya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut diulang lagi karena kartu saya tidak keluar dari tempatnya. Kemudian karena tidak menemukan hasil si pria tersebut mengatakan, "baik ibu kartu ATM ibu harus saya blokir. Baik saya minta nama lengkap Ibu, tanggal lahir, lalu nama Ibu kandung dan nomor handphone. Lalu saya minta nomor pin-nya dan kemudian nanti Ibu harus mengganti nomor tersebut". Karena panik akhirnya saya mengikuti panduan yang dilakukan.
Hari Senin tanggal 28 April 2008 saya menelepon ke cabang Bank Mandiri tempat membuka rekening yaitu di Bank Mandiri Cabang Kebun Jeruk. Saya menanyakan perihal kartu saya tersebut. Ternyata setelah diproses nominal di kartu ATM saya hanya tersisa Rp 81.000.
Saya tentu saja kaget! Kemudian dikatakan bahwa kartu saya ketika melakukan
transaksi di hari tersebut dari ATM bank lain. Saya meminta bantuan Bank Mandiri melalui kamera CCTV. Tapi, ternyata pihak Mandiri mengatakan bahwa di tempat tersebut tidak terdapat kamera CCTV. Padahal, menurut saya bukankah kamera adalah salah satu prosedur wajib ATM.
Bank Mandiri akan memproses kartu saya dengan jangka waktu 2 sampai 3 hari. Saya bertanya mengenai nomor yang terdapat di ATM tersebut. Bank Mandiri mengatakan kalau nomor tersebut tidak bisa dilacak. Harus saya sendiri yang ke polisi untuk memintanya. Mendengar hal tersebut saya semakin kesal. Bank Mandiri tampak tidak ada bantuan sama sekali.
Akhirnya saya mendapatkan user id dari kartu salah satu provider di Jakarta. User id yang didapat sangat tidak meyakinkan sekali yaitu, Nama : Amin, No KTP : 0120419663895, Tangal lahir : 22 Agustus 1978.
Saya sangat bingung dengan sikap Bank Mandiri karena terkesan sulit untuk
mendapatkannya. Padahal saya saja bisa mendapatkannya dengan cepat. Kemudian saya meminta bantuannya untuk melacak. Tetapi, sepertinya hanya gigit jari yang saya dapat.
Tentu saja saya sebagai nasabah merasa tidak nyaman dari segi sekuritas dan
kenyamanan sebagai nasabah Bank Mandiri. Apalagi mendengar layanan seperti ini. Kalau begini ceritanya berarti mesin ATM Bank Mandiri sangatlah tidak aman sekali dan merupakan problem yang tidak bisa ditanggulangi oleh mereka sendiri. Bahwa mesin ATM Mandiri pada saat ini sangat tidak secure.
Hari ini, Senin tanggal 5 Mei 2008 tepatnya satu minggu lewat dua hari dari kejadian saya belum mendapatkan konfirmasi apa pun dari pihak Bank Mandiri. Setidaknya progres pun tidak saya dapatkan. Apakah ini sikap dari bank nomor satu di Indonesia.
Saya sebagai nasabah betul-betul merasa kecewa karena Bank Mandiri tidak menanggapi dengan serius problem yang terjadi pada security system-nya sendiri dan pada keamanan serta kenyamanan para nasabahnya. Entah sampai kapan hal ini akan terjadi mengingat peningkatan tekhnologi yang begitu pesat.
Sepertinya pihak bank juga acuh tak acuh terhadap kasus-kasus serupa yang akan terjadi. Pada akhirnya para nasabah Bank Mandiri seperti saya hanya bisa gigit jari.
Safira Thamrin
Srengseng Jakarta
safira.thamrin@yahoo.com
02191456546
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































