Keluhan
Membaca banyaknya keluhan tentang pelayanan kartu kredit maka saya punya cerita yang sangat menjengkelkan dan menyinggung perasaan. Tahun 2005, adik saya bekerja di salah satu pabrik (di sebuah desa terpencil) dapat cicilan motor. Untuk membayar cicilan tersebut diwajibkan pada pihak karyawan pabrik memiliki kartu kredit sehingga secara tidak langsung karyawan pabrik dipaksa untuk menjadi member kartu kredit tertentu.
Pada tahun 2005 tersebut adik saya hampir menyelesaikan cicilannya. Tiba-tiba datang ke rumah kami yang sempit lima orang yang mengaku dari jasa instansi kredit tersebut. Mereka meminta kembali motor adik saya karena adik saya memiliki tunggakan dari bunga yang berjalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata kejadiannya bukan hanya menimpa adik saya. Karyawan lain juga. Mereka tiga sampai empat kali datang ke rumah dan mengancam mau dibawa kemeja hijau. Mungkin mereka menganggap kami orang miskin dan bodoh hingga mudah ditipu.
Akhirnya motor yang hampir lunas itu dijual atau over kredit dan uangnya dipakai membayar tagihan para kolektor. Aneh. Jadi adik saya secara tidak langsung kena tipu kartu kredit yang masuk kampung.
Jika perusahaan yang bertarap internasional saja kepada pihak pengguna jasa yang memiliki tingkat pendidikan dan jabatan seperti itu apa lagi sikap dan pelayanan pada orang kampung yang dianggap bodoh. Penjelasan mereka berbelit-belit.
NM Kurniasari
Lemco/Cicurug Sukabumi
aisah72@hotmail.com
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.










































