Telepon MBS di Balik Trump Tunda Serangan ke Iran

Telepon MBS di Balik Trump Tunda Serangan ke Iran

Tim detikcom - detikNews
Senin, 03 Agu 2026 06:00 WIB
Saudi Crown Prince Mohammed bin Salman reacts next to US President Donald Trump during the US-Saudi Investment Forum, in Riyadh, Saudi Arabia, May 13, 2025. (Reuters)
Foto: Ilustrasi Presiden AS Donald Trump dan Pangeran MBS (Reuters)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan serangan AS ke Iran. Ternyata, ada peran dari Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman terkait batalnya serangan tersebut.

Awalnya Trump, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Sabtu (1/8/2026), juga menegaskan tekadnya untuk memenangkan perang melawan Iran, yang dimulai oleh serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu.

"Kita hanya ingin menang. Kita melakukannya dengan sangat baik. Kita berusaha untuk bersikap sebaik mungkin dalam situasi seperti itu. Namun, mereka sedang dihancurkan," kata Trump saat memimpin rapat kabinet di Camp David, kompleks peristirahatan kepresidenan di Maryland, pada Jumat (31/7) waktu setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sangat sederhana. Iran tidak akan memiliki senjata nuklir," ucap Presiden AS itu.

"Kita akan menghantam Iran dengan sangat keras dan, Anda tahu, pada titik tertentu mereka akan berkata, 'Kami benar-benar tidak tahan lagi'," tegas Trump dalam rapat kabinet tersebut.

Ancaman terbaru itu dilontarkan saat media-media AS melaporkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran terhadap Iran, yang diperkirakan terjadi paling cepat akhir pekan ini, termasuk terhadap target-target infrastruktur energi Teheran.

Selama lebih dari lima bulan perang berkecamuk, konflik ini tampaknya belum akan berakhir, terutama sejak kembali berlanjutnya aksi saling serang.

Dalam pernyataannya, Trump juga menepis laporan-laporan yang menyebutkan bahwa Iran masih berada dalam posisi yang kuat.

"Kondisi Iran sangat buruk. Mereka sangat tidak jujur. Mereka sangat tidak terhormat dalam urusan ini," sebutnya.

Respons Iran

Iran merespons ancaman ini dengan rencana 'memperketat' penutupan Selat Hormuz. Iran tak takut dengan ancaman Trump.

Dilansir Al-Jazeera, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Bagher Zolghadr mengatakan Teheran akan 'memperketat' penutupan Selat Hormuz jika AS terus melanjutkan ancaman dan blokade lautnya terhadap Iran.

"Kelanjutan blokade maritim dan provokasi perang rezim AS akan semakin memperketat penutupan Selat Hormuz dan juga menutup selat dan titik-titik strategis lainnya," kata Zolghadr, menurut kantor berita IRNA.

Ia memperingatkan bahwa "ekonomi global, pasar energi, dan pemilih Amerika akan menanggung akibatnya" dari penutupan tersebut.

AS Batal Serang Iran

Trump kini mengatakan membatalkan serangan AS ke Iran. Trump menyebut ada batasan dari kesepakatan yang telah disetujui.

Dilansir Al-Jazeera, Minggu (2/8), Trump mengatakan di akun Truth Social miliknya bahwa awalnya AS siap untuk melancarkan "Teror, Kekuatan, dan Kekuasaan yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II" terhadap Iran.

Namun, ia menambahkan bahwa "kami baru saja diminta" oleh Iran dan negara-negara lain untuk menunda serangan apa pun karena "batasan kesepakatan telah disetujui".

Kesepakatan tersebut mencakup "pembukaan total" Selat Hormuz dan "pengakhiran ancaman nuklir Iran".

"Amerika Serikat siap siaga dan siap menyerang Republik Islam Iran, dengan tingkat teror militer, kekuatan, dan kekuasaan yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II. Meskipun demikian, Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya baru saja meminta kami untuk menunda serangan apa pun karena batasan kesepakatan telah disetujui," kata Trump.

Kesepakatan itu termasuk pembukaan Selat Hormuz dan akhir dari ancaman senjata nuklir.

"Ini termasuk pembukaan segera, lengkap, dan total Selat Hormuz, dan mengakhiri ancaman nuklir Iran," ujarnya.

Dia mengatakan bahwa ini demi masa depan Iran. Trump ingin semua kesepakatan dicapai.

"Berdasarkan permintaan ini, saya telah setuju, demi kepentingan dunia di masa depan dan juga demi kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur, untuk membatalkan serangan tersebut, dengan syarat dapat segera mencapai kesepakatan. Negara Israel bergabung dengan saya dalam komitmen ini. Mari bekerja, semuanya, dan selesaikan ini," ungkapnya.

"Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini! Presiden Donald J. Trump," lanjut Trump.

Peran Pangeran MBS

Ada laporan yang mengungkap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menelepon Trump sebelum pembatalan tersebut.

Laporan ini ditayangkan oleh situs berita AS Axios. Situs itu melaporkan bahwa berdasarkan sumber internal, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menelepon Trump pada hari Sabtu (1/8).

MBS disebutkan mendesak Trump untuk membatalkan serangan dan kembali ke negosiasi.

Halaman 2 dari 3
(rdp/rdp)


Berita Terkait