Keluhan
Saya prihatin dengan pelecehan bangsa ini terhadap mata uang Rupiah, dan pemujaan terhadap uang asing (terutama US Dollar). Sebagai contoh yang saya sering alami:Pertama, Kalau tukar uang asing di bank atau money changer mereka selalu mensyaratkan hanya menerima emisi tertentu. Tak boleh ada bekas lipatan. Tak boleh ada bekas stapler. Tak boleh kotor, dll..
Konsekuensinya uang ditolak atau paling untung nilainya dipotong. Sebaliknya kalau kita di luar negeri uang asing dalam bentuk apa pun akan diterima sepanjang tak palsu. Heran, mereka saja bisa terima, kok kita malah pilih-pilih banget.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang lebih sakit, kalau anda beli tiket Air Asia dari Malaysia ke luar negeri, anda bisa bayar dengan Rupiah. Tapi, dengan Garuda harus US Dollar. Sedihnya. Rupiah malah lebih dihormati orang Malaysia daripada perusahaan pemerintah Indonesia.
Heran kalau kita ke luar negeri mau tak mau kita harus tukar ke uang lokal karena
semua transaksi harus dalam mata uang lokal. Tak peduli kita tinggal di hotel yang jaringan internasional pun. Mereka beli tiket pesawat dan semuanya pun selalu dalam uang lokal mereka sendiri.
Mereka pun heran kenapa disini mesti banyak harga ditulis dan harus dibayar dalam US Dollar, bukan Rupiah. Kalau alasan kurs Rupiah sangat fluktuatif saya kira tak masuk akal. Mereka juga membayar gaji pegawai, listrik, telepon, bensin, dll. dalam rupiah, yang pastinya kena risiko fluktuasi dari konversi US Dollar yang mereka terima ke Rupiah.
Ada yang bisa bantu menjelaskan atau malah mungkin meluruskan agar bangsa ini lebih cinta Rupiah? Saya tak tahu siapa yang bisa menanggapi. Bank Indonesia, atau Menteri Keuangan, atau malah Presiden SBY sendiri?
Wassalam,
Irman Nurfirman
Jl Taman Permata Parahyangan VI/32 Tangerang
irmann@telkom.net
59493453
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































