DetikNews
Kamis 08 Februari 2018, 00:10 WIB

Ketika Petani di Sumbar Berlatih Jadi Jurnalis Warga

Andi Abdullah Sururi - detikNews
Ketika Petani di Sumbar Berlatih Jadi Jurnalis Warga Foto: istimewa
Padang - Seolah tak mau kalah dengan para jurnalis yang tengah besiap memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari mendatang, para petani dari berbagai kabupaten di Sumatera Barat, ikut berkumpul di kota Padang, sejak Selasa (6/2) hingga Rabu (7/2).

Sejumlah kurang lebih 25 petani yang rata-rata masih berusia muda itu, datang untuk mengikuti pelatihan jurnalisme warga yang dihelat oleh para pegiat jurnalisme warga dan pegiat pertanian.



Dalam pelatihan yang dilaksanakan di kawasan Jalan Beringin, Kota Padang itu, para petani yang sebagiannya adalah kaum perempuan tampak antusias mengikuti jalannya pelatihan.

Para petani mula-mula mendapatkan materi terkait pertanian dan dunia digital. Dalam kesempatan itu mereka mendapatkan pemahaman terkait betapa pentingnya bagi petani untuk dapat memproduksi konten yang berbobot dan diproduksi melalui standar-standar jurnalisme yang baik untuk disebarkan melalui berbagai media baik berupa blog, situs yang memuat karya jurnalis warga, maupun media sosial.

Diajarkan pula kepada mereka dasar-dasar jurnalisme dan dasar-dasar jurnalisme warga (citizen journalism). Lewat materi ini, para petani diberi pemahaman untuk dapat membentuk kerangka berpikir seperti seorang jurnalis agar mampu mengendus isu yang memiliki nilai berita dan bagaimana cara-cara melakukan perencanaan peliputan, melakukan wawancara, mengumpulkan data dan melakukan verifikasi fakta. Di bagian akhir para petani belajar mengenai dasar-dasar menulis berita dan berlatih membuat perencanaan peliputan.

Ketika masuk ke sesi tanya jawab dan diskusi, mereka tampak antusias untuk menggali lebih dalam terkait isu-isu pertanian. Yuhesmawati dan Salmi Hidayati dari kelompok tani Annisa Karya, Nagari Lubuk Malako, Kabupaten Solok Selatan misalnya, dengan antusias mengungkapkan berbagai isu terkait pertanian di desanya. "Kami ini ada masalah menarik di kampung terkait bantuan untuk pertanian padi dan juga masalah perambahan sawit," kata Yuhesmawati.

Terkait bantuan padi misalnya, dia bercerita, ada Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang kerap mendesak petani untuk bertanam padi dengan metode tertentu yang sedang trend di Jawa yaitu Jajar Legowo. "Padahal menurut kami, cara tanam seperti itu tidak efektif, kami untuk menanam benih yang sudah siap tanam saja perlu waktu lama membuat menyusun tanaman agar sesuai dengan aturan tanam jajar legowo. Padahal dari segi hasil sama saja," katanya.

Uniknya, saat para petani menolak instruksi PPL, kemudian bantuan untuk para petani berupa benih malah ditarik dan tidak diberikan lagi. "Ini saya mau mencoba untuk menuliskannya, makanya saya antusian untuk bisa belajar bagaimana cara meliput masalah seperti ini dan menuangkan dalam tulisan secara berimbang," katanya.

Lain lagi dengan Salmi yang peduli pada pekebun karet yang mulai meninggalkan budidaya karet dan beralih ke sawit. "Harga karet jatuh, hanya 3.000-4.000 rupiah saja per kilogram. Jadi banyak yang beralih ke perkebunan sawit, penghasilan sebulan bisa sampai 10 juta rupiah," katanya.

Ketika Petani di Sumbar Berlatih Jadi Jurnalis WargaFoto: istimewa

Sayangnya, peralihan ke sawit ini membuat petani berani merambah ke area hutan lindung untuk menambah luas lahan. "Saya memang ingin sekali menulis cerita ini, tujuannya agar pemerintah memperhatikan petani karet, berupaya meningkatkan harga karet agar petani tak beralih ke sawit yang bisa menimbulkan dampak lingkungan," katanya.

Para petani sendiri mengaku senang dengan adanya pelatihan ini. Mereka berharap dengan mampu menulis dan menjadi jurnalis warga, mereka bisa mengabarkan berbagai sisi kehidupan petani kepada publik agar ada kepedulian pada nasib petani.

Delita dari kelompok tani Bunda Berkarya misalnya, mengaku senang karena dengan mampu menulis dia bisa mengabarkan produk-produk hasil karya kelompok taninya kepada khalayak luas. "Sangat senang melakukan pelatihan ini. Dulu saya tidak tahu cara memasarkan produk kelompok kami, sekarang sedikit mulai tahu cara membuat berita untuk mengabarkan produk karya kami yang akan bisa dibaca banyak orang," katanya.

"Dengan pelatihan ini, kami jadi tahu bagaimana cara mencari dan mengolah informasi yang menarik, cara mengirim berita lewat internet dan tentunya membuat berita tentang perkembangan produk sirup pala yang kami produksi untuk bisa dikabarkan kepada khalayak luas," kata Amelia Eka Putri, dari kelompok tani Bayang Bungo Indah, Nagari Koto Berapak.

Pada kesempatan terpisah, usai pelatihan, sebagian pemuda tani yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pemuda Tani Sumatera Barat (FKPT Sumbar) mendeklarasikan dukungan mereka kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) untuk maju dalam ajang Pemilihan Presiden 2019-2024. Deklarasi dukungan terhadap TGB tersebut disampaikan di Q te Cafe, Kota Padang, Rabu (7/2).

Ketika Petani di Sumbar Berlatih Jadi Jurnalis WargaFoto: istimewa

Juru Bicara FKPT Sumbar M. Arif mengatakan, dukungan kepada TGB dari para pemuda tani Sumbar muncul setelah melihat komitmen dan prestasi TGB terhadap pembangunan pertanian, pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan, selama menjabat sebagai Gubernur NTB. "Kami berharap prestasi ini bisa dilanjutkan di level nasional," kata Arif yang juga lahir dari keluarga petani ini.

Dia menjelaskan, di bidang pertanian, komitmen TGB bisa dinilai dari keberaniannya untuk menjadikan sektor tersebut sebagai unggulan pembangunan ekonomi bersama pembangunan pariwisata. "Beliau berani menyingkirkan sektor pertambangan yang dinilai hanya memberikan keuntungan kecil, tidak menciptakan pemerataan dan berdampak buruk pada lingkungan," ujar Arif.

Tak hanya komitmen, TGB juga menunjukkan kinerja yang sangat baik di bidang pertanian. Salah satunya adalah komoditas padi dan jagung di NTB yang mengalami surplus produksi. Produksi padi NTB per tahun mencapai 2,3 juta ton, sedangkan jagung mencapai 2,1 juta ton per tahun.

Selain itu TGB juga menunjukkan pembelaan terhadap produksi pangan lokal dengan menolak impor. Saat pemerintah pusat memutuskan untuk melakukan impor beras, dan beras impor itu hendak dimasukkan ke NTB, TGB menolak.

"Dia bahkan berani meminta pemerintah pusat lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan impor beras, dan mengingatkan pemerintah pusat agar tidak mendemoralisasi petani dengan impor," tegas Arif.

TGB juga berani bersikap kritis terhadap pemerintah pusat terkait impor jagung. TGB protes karena jagung petani dihargai Bulog Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per kg. Namun, ternyata Bulog justru impor jagung dengan harga Rp 3.000 per kg.

Dia menegaskan, jika harga jagung petani dihargai sama dengan jagung impor, tentu kesejahteraan petani akan lebih meningkat. Saat ini tingkat kesejahteraan petani secara relatif terus menurun. Nilai tukar produk pertanian terus menurun dibanding nilai tukar produk industri.

Keteguhan TGB ini terbukti karena ternyata sektor pertanian yang dibangun justru menjadi pemicu tumbuhnya perekonomian sekaligus pemerataan ekonomi di NTB. Pertumbuhan ekonomi NTB adalah salah satu yang tertinggi di Indonesia.



Arif mengatakan, FKPT Sumbar berkeyakinan dengan prestasinya saat ini, TGB akan mampu mentransformasikan keberhasilan pembangunan ekonomi dan pemerataan ekonomi, khususnya lewat pembangunan pertanian, akan mampu ditransformasikan ke level nasional, jika Zainul Majdi menjadi pemimpin nasional.

"Kalau TGB mau capres kami senang, bila hanya berkenan sebagai cawapres kami dukung, namun kami doakan Tuan Guru mau menerima dukungan kami sebagai calon presiden," pungkas Arif.



(a2s/ash)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed