Trump Ancam Putus Hubungan, China Cari Titik Temu

Round-Up

Trump Ancam Putus Hubungan, China Cari Titik Temu

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 16 Mei 2020 06:23 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping
Foto ilustrasi: Presdein China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump (Reuters/detikcom)
Jakarta -

Hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Republik Rakyat China (RRC) tengah panas. Presiden AS Donald Trump mengancam pemutusan hubungan dengan China, namun China tak lantas ikut panas.

Pada awal pekan, Trump mengancam akan menarik diri dari kesepakatan dagang dengan China. Ada kesepakatan dagang parsial yang ditandatangani Januari lalu, yang menandai gencatan senjata dalam perang dagang kedua negara.

Para pejabat AS tengah mencari cara untuk menghukum China dan meminta kompensasi atas segala kerugian yang disebabkan pandemi Corona. Pada Selasa (12/5) lalu, para Senator Republikan mengajukan legislasi yang akan memberikan wewenang kepada Trump untuk menjatuhkan sanksi terhadap China, jika negara itu tidak memberikan pertanggungjawaban penuh terkait pandemi Corona.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jelang akhir pekan ini, muncul kabar terbaru soal ketegangan AS-China. Trump menyatakan dirinya tidak ingin bicara dengan Presiden China, Xi Jinping. Trump memperingatkan bahwa dirinya bisa saja memutus hubungan AS dengan China terkait cara penanganan pandemi virus Corona (COVID-19).

"Saya memiliki hubungan sangat baik (dengan Xi), tapi saya -- saat ini saya tidak ingin bicara dengannya," ucap Trump merujuk pada Presiden Xi dalam wawancara dengan media AS, Fox Business, dilansir AFP, Jumat (15/4).

ADVERTISEMENT

"Saya sangat kecewa pada China. Saya beritahu Anda hal itu sekarang," tegasnya.

Saat ditanya bagaimana AS akan bertindak, Trump tidak memberikan jawaban spesifik, namun menyampaikan komentar bernada ancaman. "Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Kita bisa melakukan sesuatu. Kita bisa memutuskan seluruh hubungan," tegasnya.

"Jika Anda melakukannya, apa yang akan terjadi?" imbuh Trump. "Anda akan menyelamatkan US$ 500 miliar jika Anda memutus seluruh hubungan," sebutnya.

Beberapa pekan terakhir, Trump menuduh China menutupi skala sebenarnya dari wabah virus Corona, yang akhirnya menyebar luas ke berbagai negara dan kini menewaskan lebih dari 300 ribu orang secara global. China membatas keras tuduhan itu dan bersikeras menyatakan pihaknya telah memberikan semua data yang ada sesegera mungkin kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Mereka bisa menghentikannya di China yang menjadi asalnya. Tapi itu tidak terjadi. Sungguh menyedihkan apa yang terjadi pada dunia dan pada negara kita, dengan semua kematian yang ada," imbuh Trump.

Duta Besar China untuk Inggris, Liu Xiaoming, menyampaikan bantahan keras dalam wawancara dengan Sky News. "Tidak ada yang ditutup-tutupi sama sekali. China adalah korban. China bukanlah pelaku," tegasnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, mendorong AS untuk berkompromi dengan China dan memperkuat kerja sama dalam memerangi pandemi virus Corona. China memilih mencari titik temu dengan AS ketimbang melanjutkan keributan.

"Menjaga perkembangan stabil untuk hubungan China-AS menjadi kepentingan fundamental bagi rakyat kedua negara, dan itu kondusif bagi perdamaian dan stabilitas dunia," sebut Zhao dalam press briefing terbaru menanggapi komentar Trump.

"Pada saat ini, China dan AS harus terus memperkuat kerja sama melawan epidemi, mengalahkan epidemi sesegera mungkin, merawat para pasien dan memulihkan perekonomian dan produksi. Tapi itu membutuhkan AS untuk bertemu di tengah jalan dengan China," imbuhnya.

Halaman 2 dari 3
(dnu/dnu)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini
Selengkapnya



Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Ajang penghargaan persembahan detikcom bersama Polri kepada sosok polisi teladan. Baca beragam kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini.
Hide Ads