Sambil menangis Baiq Nuril mengungkapkan perasaannya atas putusan MA. Saat ditemui wartawan di kediamannya di Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, dia pun merasa berat dengan putusan 6 bulan penjara subsider 3 bulan dan denda Rp 500 juta itu.
"Luar biasa. Sedangkan saya aja, boro-boro mau bayar denda 500 juta, untuk keperluan anak aja sudah kayak begini. Untuk keperluann sekolah apa. Ini pun untuk kebutuhan sehari-hari aja masih kurang," ungkapnya kepada detikcom, Senin (12/11/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baiq Nuril memiliki 3 orang anak. Anaknya yang pertama baru masuk SMA dan tinggal bersama neneknya di Lombok Tengah, anaknya yang kedua kelas 1 SMP. Sedangkan anak yang ketiga baru duduk di kelas 1 sekolah dasar.
Sejak 2016 lalu ketika kasus yang menimpa dirinya mulai mencuat di kalangan guru dan pegawai di SMAN 7 Mataram, Baiq Nuril dinonjobkan bekerja sebagai staf honorer TU oleh M yang pada waktu itu masih menjabat sebagai kepala sekolah.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, Baiq Nuril membuka Taman Pendidikan Alquran di rumahnya. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Honor yang didapatkannya pun tak seberapa. Di sela waktu mengasuh anak dan mengajar ngaji, Baiq Nuril juga menerima pesanan kue dan jajanan dari para tetangga sekitar tempat tinggalnya.
Sedangkan Lalu Muhammad Isnaini (40) suami Baiq Nuril bekerja serabutan. Dia juga nyambi ikut bekerja sebagai ojek online. Isnaini lama menganggur sejak berhenti bekerja sebagai pramuniaga di Gili Trawangan.
(rvk/asp)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini