"Untuk sosialisasi ke pesantren perlu ditingkatkan, apalagi ada tantangan kebangsaan seperti adanya kejadian terorisme. Dan sekarang masyarakat semakin sadar akan pentingnya ideologi Pancasila," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (20/5/2018).
Hal itu disampaikannya saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al Banjari, Balikpapan, Kalimantan Timur. Dia meyakini, para santri di sana berpaham ahlus sunnah waljamaah, serta berharap agar generasi muda tidak terkontaminasi dengan paham yang salah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan tegas Mahyudin mengatakan, tidak setuju bila terorisme dikaitkan dengan Islam. Dirinya pun berharap agar MUI mengeluarkan fatwa tentang terorisme. MPR melakukan sosialisasi Pancasila di pesantren agar para santri tidak terkontaminasi dengan paham yang salah.
"Saya percaya terorisme bukan ajaran Islam. Kami antisipasi pemahaman yang salah dengan Pancasila," paparnya.
Kunjungan ke Ponpes Al Banjari rupanya tidak hanya dijadikan ajang sosialisasi dan bersilaturahmi. Di sana, Mahyudin dan anggota MPR lainnya juga menjalankan tugas MPR.
"Di bulan puasa ini kita perkuat ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basariyah," ujarnya.
Anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar Heti Latifah yang ikut menjadi narasumber dalam sosialisasi itu menuturkan, mereka yang berada di Al Banjari harus bangga menjadi santri. Sebelum Indonesia merdeka, santri ikut berjuang memerdekakan Indonesia.
"Banyak santri diangkat menjadi pahlawan," ujarnya.
Tak lupa, Heti mengajak para santri untuk terus memperjuangkan cita-cita pendahulunya namun dengan cara kekinian. Heti juga menegaskan agar para santri mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu menguasai ilmu ekonomi.
"Berjuang di zaman sekarang lebih sulit karena musuh tak seperti pada masa lalu. Musuh kita sekarang seperti kemiskinan dan narkoba," paparnya. (idr/idr)











































