Setelah berbulan-bulan membantah, militer Myanmar untuk pertama kalinya pada Rabu (10/1) lalu menyatakan, hasil penyelidikan menunjukkan bahwa empat tentara membantu membunuh 10 tersangka militan Rohingya di desa Inn Din pada 2 September 2017. Jasad mereka diletakkan dalam sebuah lubang yang digali tergesa-gesa.
Lebih dari 600 ribu warga Rohingya telah meninggalkan Rakhine dan mengungsi ke Bangladesh sejak militer Myanmar melancarkan operasi besar-besaran pada Agustus 2017 lalu. Para pengungsi Rohingya tersebut melaporkan tentang kekejaman yang dilakukan militer Myanmar. Namun militer Myanmar membantahnya sampai akhirnya pengakuan disampaikan pada Rabu (10/1).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada akhirnya, aturan hukum di negara adalah tanggung jawab negara itu. Ini indikasi positif bahwa kami sedang mengambil langkah-langkah untuk bertanggung jawab," tutur Suu Kyi seperti diberitakan media Global New Light of Myanmar dan dilansir AFP, Sabtu (14/1/2018).
Kelompok HAM, Amnesty International menyebut pembunuhan di Inn Din sebagai "ujung gunung es" dalam hal kekejaman yang dilakukan militer sejak Agustus lalu. Amnesty pun menyerukan penyelidikan yang lebih luas dan tidak memihak.
Hingga saat ini, wilayah konflik Rakhine masih tetap dinyatakan tertutup bagi media, badan-badan kemanusiaan dan para penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). (ita/ita)