Curahan hati ini dilontarkan warga yang ikut program bedah rumah karena 'istana baru' mereka tidak sempurna. Aneka reaksi warga tercurahkan, dari soal plafon rumah yang belum terpasang hingga rumah yang semula punya 3 kamar tidur, setelah dibedah, berubah menjadi 1 kamar tidur. Bukan hanya bangunan yang belum sempurna, warga juga mengeluh karena dimintai uang sebesar Rp 150 ribu untuk instalasi listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
detikcom menelusuri dan melihat langsung rumah beberapa warga yang dibedah Pemprov. Lokasinya terletak di Jalan Kelapa Dua RT 15 RW 03 Cilincing, Jakarta Utara. "Saya merasa bersyukur, karena rumah jadi lebih layak. Cuma masih belum ada plafonnya," kata Dani.
Sarwiti, warga lain, mengeluhkan soal pembangunan rumahnya yang tidak sesuai dan terkesan setengah hati itu. Dia mengatakan semula rumahnya tidak akan dibongkar semua, sehingga tidak mengubah denah ruangan dan kamar. Tapi, setelah dibedah, di dalam rumahnya hanya ada satu kamar. "Kalau awalnya kita dikasih tahu ya rumahnya cuma dapat kamar 1 ya puas nggak puas. Tadinya di samping dapur ada kamar, sekarang nggak," ujar Sarwiti.
Rumah warga sesudah dibedah. Bedah rumah Pemprov DKI. (Kim/detikcom) |
Bedah rumah ini merupakan program Pemprov DKI Jakarta. Pemprov DKI 'membedah' 83 rumah di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Bedah rumah tersebut dilakukan secara cuma-cuma bagi warga yang rumahnya tidak layak huni.
Rumah warga sebelum dibedah. (Akhmad Mustaqim/detikcom) |
Kadis Perumahan DKI Arifin mengatakan hal tersebut di luar tanggung jawabnya. "Untuk bedah rumah, coba langsung tanya ke Pak Wali (Wali Kota Jakarta Utara Wahyu Haryadi) karena yang lebih tahu masalah itu," ujar Arifin saat dihubungi detikcom, Kamis (6/7).
Sementara itu, anggota Komisi Pembangunan DPRD DKI Jakarta Bestari Barus mengatakan program bedah rumah yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta harus memandang kenyamanan warga. "Itu kan kalau penyerapan APBD, maka kita ingin tahu mana, penting masyarakat laporkan ke Komisi D atau melalui saya langsung. Sehingga kita bisa memanggil dinas terkait untuk memberi penjelasan kenapa vendor yang ditunjuk kerjanya seperti itu," tutur Bestari.
Rumah warga sesudah dan sebelum dibedah. (Akhmad Mustaqim/detikcom) |
Menanggapi keluhan warga itu, Gubernur DKI Jakarta angkat bicara. Djarot justru mengajak warga bergotong royong membangun rumah mereka.
"Sekarang begini, dari rumah sebelumnya seperti apa, sesudahnya seperti apa. Lebih layak atau tidak? Pasti ada pintunya dong," kata Djarot di Balai Kota, di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (6/7).
Dia meminta warga yang rumahnya dibedah turut campur tangan dalam program itu. "Saya minta tolong yang pemilik rumah tentunya juga harus bergotong royong, membantu dong, ikut dong terlibat di situ, ikut bantu. Minimal kalau masih kuat ya ikut ngecat, masanglah," ungkap Djarot. (aan/tor)












































Rumah warga sesudah dibedah. Bedah rumah Pemprov DKI. (Kim/detikcom)
Rumah warga sebelum dibedah. (Akhmad Mustaqim/detikcom)
Rumah warga sesudah dan sebelum dibedah. (Akhmad Mustaqim/detikcom)