"Kami ingin masyaraat yang tinggal di lereng-lereng maupun di sekitar aliran sungai menyadari jika akhir-akhir ini cuacanya berubah sangat cepat dan diprediksi pada bulan April ini intensitas hujan cukup tinggi disertai angin kencang," kata Wagub yang akrab dipanggil Gus Ipul usai menutup Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka di Trenggalek, Jumat (14/4/2017) malam.
Menurutnya, sesuai data di Pemprov Jatim, terdapat lebih dari 300 titik di seluruh wilayah Jawa Timur yang rentan terjadi bencana alam banjir, longsor maupun angin puting beliung. "Ada 300 titik di seluruh wilayah Jawa Timur yang rentan terjadi bencana," tegasnya.
Dia menjelaskan, titik rawan tersebut saat ini telah menjadi fokus pengawasan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di masing-masing kabupaten maupun kota. Pihaknya berharap seluruh masyarakat ikut berpartisipasi dalam upaya antisipasi bencana dengan mengurasi risiko terjadinya korban nyawa maupun harta benda.
"Masyarakat harus benar-benar waspada, terlebih apabila terddapat retakan tanah di lereng perbukitan," ujarnya kepada wartawan.
Sementara disinggung terkait penanganan pascabencana tanah longsor yang terjadi di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, orang nomor dua di Pemprov Jatim ini mengaku akan fokus pada pembangunan hunian tetap untuk para korban yang rumahnya tertimbun longsor.
"Jadi pembagiannya susah jelas, pemerintah provinsi akan menangani relokasi permanennya, untuk pengadaan tanahnya Pak Bupati. Nah, dari 35 rumah yang tertimbun longsor itu, 20 diantaranya sudah memiliki lahan sendiri, sehingga nanti pembangunannya akan lebih cepat," katanya.
Gus Ipul menjelaskan, anggaran pembangunan hunian relokasi akan ditanggung oleh Pemprov Jatim, sedangkan tenaganya akan dikerahkan dari tim dari Kodam V Brawijaya.
Selain mendapatkan rumah permanen, para korban tanah longsor juga akan mendapatkan bantuan jaminan hidup (jadup) sebesar Rp 900 per bulan. Bantuan tersebut akan diberikan hingga para pengungsi bisa kembali hidup normal.
Sejumlah bencana alam terjadi pada bulan ini di Jawa Timur. Bencana alam terbesar dengan jumlah korban terbanyak terjadi di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten pPonorogo, tercatat 28 warga dinyatakan hilang tertimbun longsor, dari jumlah tersebut hanya empat korban yang berhasil ditemukan. Selain korban jiwa, tanah longsor tersebut juga menimbun 30 lebih rumah penduduk.
Bencana serupa juga terjadi di Nganjuk, sejumlah warga juga dikabarkan hilang. Sedangkan peningkatan debit air sungai juga menelan korban jiwa, seperti yang terjadi di Madiun dan Gresik. (fat/fat)