Taktik polisi menggunakan robot bom ini tidak terprediksi sama sekali dan belum pernah terjadi sebelumnya. Cara ini menyalakan kembali kekhawatiran tentang militerisasi penegak hukum lokal di AS.
Ahli teknologi dalam perang mengatakan, penggunaan robot untuk membunuh seseorang memiliki implikasi teknologi dan hukum bagi kepolisian di abad 21.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Penembak Mati 5 Polisi di Dallas Akrab dengan Ekstremis Kulit Hitam
Militer AS sendiri telah menggunakan robot bom ini di daerah konflik seperti di Irak untuk melumpuhkan pemberontak yang bersembunyi di lokasi yang sulit atau terlalu berbahaya untuk didekati. Namun, penggunaan robot bom untuk melumpuhkan pelaku teror merupakan pertama kalinya dalam sejarah kepolisian AS.
Kepala Kepolisian Dallas, David Brown, telah membenarkan soal penggunaan robot bom ini yang dikendalikan dari jarak jauh untuk melumpuhkan tersangka. Menurutnya, tak ada pilihan lain selain menggunakan robot bom karena tersangka mengaku membawa bom dan mengancam akan meledakkannya. Namun Brown memastikan tak ada warga sipil yang terluka akibat penggunaan teknologi itu.
"Kami melihat tidak ada pilihan lain selain menggunakan robot bom dan menempatkan perangkat itu untuk meledakkan di mana tersangka itu berada," kata David Brown, Jumat (8/7). Pilihan lain, seperti misalnya penyerbuan jarak dekat menurutnya tak diambil karena bisa membahayakan polisi.
Wali Kota Dallas, Mike Rawlings mengatakan, tersangka sudah diberi pilihan untuk menyerah tanpa perlawanan, namun dia menolak. Akhirnya polisi melumpuhkan tersangka dengan robot bom.
Baca juga: Eks Tentara AS Bunuh 5 Polisi Dallas, Petugas Temukan Bahan Bom di Rumahnya
Sebenarnya belum sepenuhnya jelas mengapa polisi memilih untuk menggunakan robot bom daripada cara-cara lain untuk melumpuhkan Johnson. Belum jelas pula apakah polisi telah dilatih dalam penggunaan robot bom atau apakah tindakan itu hanya improvisasi di lapangan.
"Itu adalah peralatan robot otomatis yang sama untuk meledakkan dan menjinakkan bom C-4," kata Rawlings pada konferensi pers Jumat. Sedangkan Departemen Kepolisian Dallas tidak mau memberikan komentar.
Analisis Kebijakan Senior American Civil Liberties Union (ACLU) Jon Stanley mengungkapkan kekhawatirannya atas penggunaan robot bom ini oleh polisi.
"Ketika petugas keamanan domestik diperbolehkan melakukan aksi penyerangan paksa secara remote, aksi ini akan menjadi terlalu gampang untuk ditempuh oleh mereka," ujarnya. Dia khawatir nantinya polisi terlalu cepat mengambil keputusan menggunakan robot tanpa mempertimbangkan opsi-opsi lainnya, seperti misalnya negosiasi.
Baca juga: Ini Fakta-fakta Seputar Teror Penembakan yang Menewaskan 5 Polisi di Dallas
Departemen Kepolisian Dallas diketahui setidaknya memiliki tiga robot bom, mengacu pada sebuah laporan pada 2015. Vendor untuk perangkat tersebut adalah REMOTEC, anak perusahaan dari kontraktor pertahanan Northrop Grumman Corp yang mengkhususkan diri dalam pembuatan kendaraan robot yang dioperasikan dari jarak jauh.
Northrop Grumman sendiri saat dikonfirmasi menolak berkomentar. Pihaknya meminta semua pertanyaan diajukan ke Departemen Kepolisian Dallas.
Pentagon telah mendistribusikan setidaknya 451 robot bom ke lembaga kepolisian federal dan lokal sejak tahun 2005, mengacu pada catatan Departemen Pertahanan AS.
(hri/faj)











































