Wali Kota Risma Panen Raya Padi di Semolowaru Bahari

Wali Kota Risma Panen Raya Padi di Semolowaru Bahari

- detikNews
Sabtu, 13 Sep 2014 16:59 WIB
Wali Kota Risma Panen Raya Padi di Semolowaru Bahari
Walikota Risma saat melakukan panen raya
Surabaya - Meski berlabel kota besar, ternyata Surabaya masih punya sawah. Saat ini terdapat 77,5 hektare lahan pertanian yang tersebar di lima kelurahan se-kecamatan di Surabaya.

Dan Pemkot Surabaya tetap memberi perhatian lebih pada sektor pertanian. Buktinya adalah panen raya padi di wilayah Kecamatan Sukolilo, tepatnya di Semolowaru Bahari. 10 hektare sawah di sana dinyatakan siap panen.

Menurut Ketua Kelompok Tani (poktan) Bahari Karya Suhartoyo, komoditi utama saat musim kemarau adalah padi dan blewah. Sedangkan saat musim penghujan, petani beralih menanam sayur-sayuran serta mengubah sebagian lahan menjadi tambak bandeng dan udang.

"Dengan begitu, petani mendapat penghasilan yang berkesinambungan," katanya dalam acara panen raya di lokasi, Sabtu (13/9/2014).

Berdasarkan perhitungan Suhartoyo, satu hektare sawah mampu menghasilkan 10 ton padi. Padi tersebut lantas dijual kepada pengepul. Sayangnya, Poktan Bahari Karya belum memiliki mesin pengolah padi menjadi gabah.

"Sejauh ini kami masih menyewa. Harapannya, kami bisa punya mesin sendiri," tutur pria yang menjabat Ketua Poktan sejak 1996 ini.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan masalah ketahanan pangan memang tengah menjadi perhatian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan dunia seiring dampak global warming.

Untuk itu, Risma mengimbau tiap daerah agar mampu memaksimalkan potensi yang ada agar bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Risma mendorong para petani Surabaya untuk lebih mengutamakan kualitas produk. Sebab disadari jika lahan pertanian di Kota Pahlawan tidak terlalu luas.

"Meski lahannya kecil, kita harus punya kualitas. Yang terpenting para petani tidak hanya sekadar menghasilkan saja, tapi juga harus bisa survive dengan pendapatannya," ujar Risma.

Untuk meningkatkan income, Risma mengajak petani menggunakan pupuk organik. Pupuk organik dapat memberikan nilai tambah pada suatu produk sehingga pertanian memiliki harga jual yang lebih mahal.

"Harga beras biasa dari petani ke pengepul umumnya Rp 4.100/kg. Tapi kalau beras organik bisa sampai Rp 8.000/kg. Ini kan bagus bagi kesejahteraan petani. Nanti, urusan pupuknya kami bantu dari dinas pertanian," ujar Risma.

Kepala Dinas Pertanian (distan) Surabaya Joestamadji tak memungkiri bahwa sektor pertanian Surabaya skalanya tidak sebesar daerah-daerah lain di Jatim. Kontribusinya hanya 0,07 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB). Namun demikian, bukan berarti pertanian di Surabaya tidak berkualitas.

"Justru di tengah minimnya lahan ini, kami berupaya fokus pada kualitas produk," ujar Joestamadji.

(iwd/iwd)
Berita Terkait