"Para capres harus mempertanyakan masalah harga BBM terkait kenaikan harga minyak dunia, sebagaimana yang diungkapkan Sri Mulyani itu dalam debat terakhir nanti. Apakah SBY akan menaikkan harga BBM atau tidak, kalau tidak sampai kapan kuatnya," kata pengamat komunikasi politik UI Effendi Gazali, Rabu (1/7/2009).
Menurut Koordinator Program Magister Komunikasi Politik UI ini, jawaban para capres ini akan menjadi referensi penting bagi rakyat untuk memilih pemimpinnya. Karena dengan debat seperi ini rakyat akan bisa meyiapkan dirinya untuk menerima kebijakan apa pun terkait BBM termasuk konpensasinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai pakar komunikasi politik, Effendi menjelaskan memang dalam debat-debat antara kandidat capres di Amerika atau Eropa selalu diawali oleh isu-isu dan materi yang ramai diperdebatkan publik melalui media. Peran media untuk mengungkapkan berbagai persoalan ini akan membantu rakyat untuk memahami persoalan secara lebih utuh dan mendalam.
"Seharusnya debat itu harus mengakomodasi persoalan yang ada di masyarakat seperti yang ditulis media itu. Ini tradisi yang selalu ada di Eropa dan Amerika. Jadi debat itu tidak berdiri sendiri, tetapi ada korelasinya. Kita mengenal istilah ada pre-debat, debat dan post-debat," paparnya.
Sebelumnya Menkeu Sri Mulyani membeberkan bahwa kenaikan harga minyak dunia membuat subsidi yang ditanggung negara makin membengkak. Diperkirakan subsidi energi bakal naik 52,9% menjadi Rp 102,5 triliun.
Saat ini, harga minyak dunia mencapai US$ 70 per barel, namun harga premium masih bertahan Rp 4.500 per liter. Sedangkan volume konsumsi BBM semester kedua yang menembus sebesar 18,8 juta kiloliter
(yid/asy)











































