"Mungkin faktor kenaikan tidak terlalu signifikan karena format kampanye Pak JK tidak seperti kampanye yang digunakan oleh SBY, yang mengaku diisolasi tidak dilibatkan dalam sidang kabinet," sindir tim sukses JK-Wiranto, Indra J Piliang.
Hal itu dikatakan dia menanggapi hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) tentang elektabilitas capres-cawapres di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2009).
Dikatakan Indra, bisa saja JK meniru strategi kampanye SBY saat Pemilu 2004 dimana SBY mengaku dicueki oleh Megawati Soekarnoputri. JK pun misalnya dapat mengatakan selaku Wakil Presiden, dirinya tidak dilibatkan dalam diskusi kenegaraan.
Tapi, lanjut Indra, "Kita tidak mau melakukan hal seperti itu. Biar masyarakat yang menilai sendiri bagaimana hubungan presiden dan wapres," kata dia.
Menurutnya, meski elektabilitas JK-Wiranto cuma merangkak naik secara pelan-pelan, namun survei sekarang jauh lebih transparan. Dia merasa optimistis elektabilitas "Pasangan Nusantara" itu makin naik dan perolehan suara JK-Wiranto pada saat pencontrengan akan cukup menggembirakan.
"Pasangan JK-Wiranto kita menganggap memiliki pemilih yang memiliki kualitas tinggi dan rasional. Jadi pada saat hari H, mereka tidak akan bingung dan tidak akan melakukan kesalahan pada saat memilih," jelasnya.
"Tetapi untuk pemilih yang mengidolakan Pak SBY, tetapi tidak tahu cara memilih, dan mungkin hasil survei sekarang akan berubah lagi. Jadi tidak menutup kemungkinan akan ada masalah," pungkasnya.
(irw/anw)











































