Hal itu disampaikan Ketua Tim Data Mega-Prabowo, Dolfie Palit di kantor Tim Kampanye Nasional Mega-Prabowo , Jl Cik Ditiro, Jakpus, Kamis (4/5/2009). Dolfie menanggapi hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang merilis elektabilitas SBY-Boediono moncer dengan 70 persen, disusul Mega-Prabowo 18 persen, dan JK-Wiranto 7 persen.
Dolfie menjelaskan, survei dilakukan dengan margin of error +/- 2 persen dan sebanyak 35 persen responden belum menentukan pilihannya. Dia mengungkapkan, elektabiltas pertama masih ditempati pasangan SBY-Boediono, kemudian Mega-Prabowo dan terakhir JK-Wiranto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dolfie pun enggan menyebut angka persis elektabilatas masing-masing calon dengan alasan survei dilakukan sebagai evaluasi internal. Bukan sebagai tandingan opini publik.
"Karena kami internal, buat apa diumumkan," ungkapnya.
Masih dari hasil survei, ia menambahkan, isu kerakyatan yang dibangun oleh Mega-Prabowo lewat berbagai kegiatan dan iklan sudah sampai di masyarakat. Sementara, untuk SBY-Boediono, masyarakat menangkap kesan pasangan ini 'kebarat-baratan'.
"Untuk JK-Wiranto terkesan kesederhanaan. Apa adanya, namun tidak seadanya," bebernya.
Pilpres 2 Putaran
Dari survei 2 mingguan yang dilakukan Tim Sukses Mega-Prabowo, Dolfie mengatakan, pihaknya belum bisa menargetkan menang satu putaran. Namun, segala sesuatunya masih mungkin terjadi melihat perkembangan politik yang terus berubah.
"Dalam Pilkada Jabar, Agum Gumelar dan Ahmad Heryawan saja bisa berbalik dalam 7 hari," tukasnya.
Mengenai sisa 35 persen responden yang belum menentukan pilihannya, Dolfie optimis , Tim Sukses Mega-Prabowo bisa merebutnya. Sebab, segementasi 35 persen responden tersebut adalah masyarakat miskin alias wong cilik.
"Mereka pendidikannya menengah ke bawah, dan pekerjaannya bukan kantoran," pungkasnya. (lrn/yid)











































