"Ada kemungkinan SBY untuk tidak memilih jika JK tidak bisa mengkomandoi anak buahnya di DPR," kata Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) Kuskrido Ambardi di kantornya, Jl Lembang Terusan, Menteng, Jakart Pusat, Kamis (16/4/2009).
Menurut Kuskrido, bagi SBY dan Partai Demokrat, Partai Golkar adalah gadis manis yang harus diperhitungkan dan dipertimbangkan untuk diajak berkoalisi. Masalahnya, dalam kalkulasi penghitungan kursi yang ada di DPR, Partai Golkar memiliki jumlah kursi yang cukup signifikan untuk menciptakan pemerintahan yang kuat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kuskrido melanjutkan, saat ini PD dan SBY sedang mempertimbangkan apakah akan mengajak PG menjadi bagian koalisi atau tidak. Apalagi situasi di Golkar sendiri saat ini terbagi-bagi menjadi beberapa kubu yang bermain dan membuat spekulasi.
"Banyak pertimbangan bagi SBY dan PD untuk mengajak PG berkoalisi. Salah satunya adalah apakah PG tidak akan bermanuver lagi, terutama anggota DPR," ujarnya.
Selain itu, lanjut Kuskrido, SBY dan PD juga memiliki pertimbangan lain untuk merekrut JK lagi sebagai cawapres, apakah JK masih memiliki pengaruh besar di internal Golkar sendiri.
"Apakah JK masih mempunyai pengaruh. Sebab di Golkar banyak faksi-faksi seperti Akbar Tanjung, ada faksi Agung Laksono dan lain sebagainya," pungkasnya.
(zal/irw)











































