"Mayoritas responden menjawab bahwa alasan di balik langkah yang mengarah pada koalisi adalah memenangkan pilpres yang berlandaskan lebih pada pragmatisme saja," kata Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) Toto Sugiarto dalam jumpa pers hasil surveinya di Hotel Four Seasson, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (4/4/2009).
Selain itu, menurut Toto, dari hasil survei yang terhadap 2.502 responden di 33 Provinsi pada 28 Maret sampai 1 April 2009 ini menunjukan bahwa publik mengetahui tujuan koalisi sejumah partpol ini hanya untuk mengeroyok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bukan untuk memperkuat pemerintahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hanya 22,7 persen responden lainnya menjawab koalisi parpol itu untuk tujuan yang lebih mendasar, yaitu menciptakan pemerintahan yang kuat. Publik tampaknya mampu membaca motif di balik berbagai langkah elite politik ini," jelasnya.
Toto juga menerangkan, dari hasil survei yang dilakukan lembaganya itu menunjukan Presiden SBY merupakan capres eks militer yang paling banyak dipilih, yaitu sekitar 56,8 persen. Sementara, penantang dari kalangan eks militer seperti Prabowo Subianto mendapat dukungan 26,9 persen responden.
Alasan terbesar publik memilih SBY karena berdasarkan pengalaman, teruji dan terbukti mampu memimpin bangsa sekitar 25,4 persen. Sedangkan alasan memilih putra begawan ekonomi Soemitro Joyohadikusumo ini karena kebijakan yang memihak rakyat kecil non BLT. "Selain itu alasan lain memilih Prabowo karena dia tegas, wibawa dan disiplin sekitar 23,7 persen," ujar Toto.
Sementara itu, capres eks militer lainnya, seperti Wiranto hanya mendapat dukungan publik atau responden sekitar 8,9 persen. Sementara, mantan Pangdam Jaya dan Guberbur DKI Jakarta, Sutiyoso mendapat dukungan publik sekitar 1,1 persen.
(zal/ken)











































