Megawati, saat melakukan penjajakan cawapres kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X (HB X), sempat mengungkap alasan historis mengapa dirinya 'mendekati' Raja Yogyakarta tersebut.
Mega mengaku, sering bermain bersama Sultan di Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat karena kedekatan kedua orangtua mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ayah Sultan HB X, masalah aktual kenegaraan saat itu. Kedekatan Soekarno dengan Sultan HB IX, akhirnya berdampak pada kedekatan Mega-Sultan HB X semasa kecil.
Akbar Tandjung, juga salah satu tokoh yang disebut-sebut sebagai kandidat cawapres Mega punya kisah dengan anak proklamator itu. Saat Rakornas IV PDIP di Solo, Akbar juga mengungkapkan bahwa dirinya satu sekolah dasar dengan Mega.
Saat itu, Akbar yang cuma anak keluarga perantau asal Medan mengaku hanya bisa 'lirik-lirikan' dengan Mega yang merupakan anak presiden.
Berbeda dengan Mega, Sultan, dan Akbar yang mengungkapkan alasan historis untuk melakukan pendekatan politik. Putri Gus Dur, Yenny Wahid, berseloroh tentang salah satu alasan (geografis) mengapa ayahnya mendukung pencapresan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.
Gus Dur, yang telah memerintahkan pendukungnya mengalihkan suara ke Gerindra, pernah bertetangga dengan mantan Danjen Kopassus itu.
Yenny menjelaskan, kakek Prabowo, Margono Djojohadikusumo dan ayah Gus Dur, Wahid Hasyim tinggal berdekatan. Keluarga Wahid tinggal di Jl Dempo No 8, Taman Amir Hamzah, Matraman, Jakarta Pusat. Sedangkan keluarga Djojohadikusumo tinggal di Jl Dempo No 10.
"Kata Gus Dur, Prabowo waktu kecil suka main di rumah eyang saya," kata Yenny saat rapat konsolidasi PKB Pro Gus Dur Jatim dan Partai Gerindra di Gedung Joeang, Jl Mayjen Sungkono, Surabaya, Jumat (27/3/2009).
Gus Dur yang merupakan presiden ke-4 RI, kata Yenny, sempat berpikir jangan-jangan presiden berikutnya berasal dari Matraman. Pasalnya, Presiden AS Barack Obama juga pernah menempati rumah No 20 setelah Barry kecil pindah dari daerah Menteng Dalam, Jakarta Selatan, tahun 1970.
"Gus Dur mengatakan jangan-jangan yang jadi presiden ke-3 dari sini adalah yang rumahnya bernomor 10," kata Yenny mengutip Gus Dur tentang rumah Prabowo.
Lepas dari apakah kisah yang diungkapkan para tokoh adalah fakta atau bukan, yang pasti kisah tersebut cukup menghibur rakyat yang sudah terlalu jengah dijejali berbagai alasan ideologis yang juga belum tentu benar dari para tokoh dan capres di tahun politik ini. Ah, dunia capres ternyata tak selebar daun kelor. (lrn/nik)











































