"Soal identitas, sesuai dengan permintaan stasiun TV kita akan cantumkan," ujar Direktur Eksekutif CPI Hendrasmo kepada detikcom, Rabu (18/2/2009)
Hendrasmo meminta kepada masyarakat untuk melihat iklan tersebut dari segi substansi bukan dari teknis yang selama ini diperdebatkan. Karena pesan dari iklan tersebut bukan hanya untuk menyerang pemerintahan SBY, namun agar masyarakat melihat untuk tidak memilih pemimpin yang tidak menepati janjinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini yang dipertanyakan oleh Jaringan Nusantara, organisasi massa pendukung SBY, adalah siapa penanggung jawab iklan tersebut. Hendrasmo menilai ituย hal yang sepele untuk diperdebatkan.
"Pesan iklan ini yang seharusnya menjadi wacana publik, bukan masalah teknis seperti pencantuman nama pengiklan," kata Hendrasmo.
Seperti diberitakan, iklan berdurasi 34 detik ber-tagline "Katakan Tidak Pada Pemimpin Yang Tidak Penuhi Janji" tayang di 3 televisi. Iklan yang menyerang SBY itu tanpa identitas sehingga Jaringan Nusantara mengancam akan mengadukan ke Bawaslu.
Iklan sejenis hari ini muncul di koran nasional. Namun iklan itu tidak misterius karena menuliskan pemasangnya yaitu Perhimpunan Peduli Indonesia (PPI). Iklan itu disebut sebagai "iklan layanan masyarakat".
"Itu salah satu klien kami yang bekerjasama," ujar Hendrasmo. (mpr/nrl)











































