Banyak yang Tidak Ingin Melihat PKB Besar

Operasi Intelijen di Parpol?

Banyak yang Tidak Ingin Melihat PKB Besar

- detikNews
Rabu, 11 Feb 2009 10:15 WIB
Banyak yang Tidak Ingin Melihat PKB Besar
Jakarta - Ketua DPW PKB Jawa Timur Imam Nahrowi membenarkan salah satu penyebab pecahnya
parpol besar di Indonesia termasuk PKB akibat ulah dari gerakan yang tak terlihat. Sayangnya Imam mengaku sulit membuktikan sinyalemen itu karena gerakannya terorganisir rapi dan sitematis.

"Pasti ada disain besar itu (operasi intelejen) untuk memanfaatkan partai demi kepentingannya. Namun ini susah dibuktikan karena dilakukan secara rapi dan sistematis. Tapi bisa dirasakan gerakannya," kata Imam pada detikcom Rabu (11/2/2009).

Menurut anggota Komisi V DPR ini, partai yang dilahirkan dari NU ini memang selalu menjadi momok bagi orang-orang yang tidak ingin melihat PKB besar. Alasannya, jika PKB solid, partai-partai lain yang menginginkan dukungan dari kaum nahdliyin akan kesulitan mendapatkan dukungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam sejarahnya, partai yg dilahirkn NU memang selalu ditakuti, dan dikhawatirkan. Karena itu kita menyadari dan memahmi, memang sejak awal kita harus siap menghadapi gerakan seperti itu," terang Imam.

Imam membenarkan konflik internal PKB yang terbaru antara Muhaimin dan Yenny merupakan bagian dari operasi inteljen juga. Sayangnya Imam tidak mau menyebutkan siapa oknum yang dimaksud.

"Saya tak ingin mengarah kesana, tapi saya kira semua kita tahu lah siapa sih
yang main dan siapa yang dijadikan boneka. Media dulu pernah menulis kok," terang
Imam.

Saat ditanya mengenai manuver Yenny yang terus melakukan pengembosan PKB Muhaimin dengan menggalang koalisi dengan Partai lain, Imam menilai gerakan itu merupakan bagian dari operasi intelejen merusak PKB dan sekaligus ujian komitmen kesetiaan seorang kader kepada partai dan penjuangannya.

"Itu bagiannya. Selain itu ini untuk menguji keistiqomahan bagi seorang kader. Masyarakat akan menilai siapa yang sesunguhnya kader dan oportunis yang memanfaatkan partai," kata Imam.

Apakah dorongan koalisi itu murni berasal dari gerakan membangun demokratisasi
yang sehat,"Saya kita semua itu didasarkan karena ada deal tertentu yang berangkat dari ketidakpuasan. Tidak mungkin ihlas, pasti ada sesuatunya," pungkas Imam. (yid/nwk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads