"Tidak bisa membawa sistem yang dijalankan Amerika ke Indonesia. Karena kultur dan cara komunikasinya berbeda," ujar penasihat kampanye Obama Joe Hansen.
Hal itu disampaikan Hansen dalam diskusi bertajuk "Opini Publik dan Strategi Kampanye' di Hotel Sari Pan Pasific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2009).
Menurut Hansen, ada perbedaan saat kampanye antara warga AS dengan Indonesia. Kalau di Amerika orang kampanye menggunakan surat, namun di Indonesia orang lebih banyak menonton televisi. "Surat di Indonesia hanya akan masuk tong sampah," kata Hansen.
Hansen melanjutkan, teknis survei yang digunakan AS dengan Indonesia berbeda. Di AS, survei menggunakan sampling dengan telepon karena warganya sudah memasang telepon.
"Di Indonesia lebih rumit karena warganya masih ada yang belum mempunyai telepon. Karena itu survei di Indonesia harus menggunakan quisioner," imbuh Hansen.
Hansen mengungkapkan, tim kampanye Obama menggunakan internet sebagai ajang kampanye untuk menjaring pemilih muda. Sebab pemilih muda keranjingan menggunakan internet.
"Remaja di AS saat ini jarang yang membaca koran. Sekarang mereka banyak yang menggunakan internet dan pada saat itu Obama menggunakan kampanye dengan menggunakan media baru tersebut," pungkasnya.
(nik/iy)











































