Negara Sejahtera

Negara Sejahtera

- detikNews
Selasa, 08 Jul 2008 07:55 WIB
Negara Sejahtera
Jakarta - Malam itu sekitar pukul 20.00. Jalan Dewi Sartika Cawang depan Pusat Grosir Cililitan (PGC) masih dipadati dengan kendaraan. Metromini dan mikrolet saling menghimpit memperebutkan ruas jalan. Pengendara sepeda motor saling mendahului seakan ia tak sadar keluarga sedang menunggu di kediaman. Pemandangan di pertigaan yang menuju Condet benar-benar padat. Suara klakson berirama seperti cekikan jangkrik di tengah sawah.

Di tepi-tepi jalan pedagang kaki lima melebur dengan kepadatan kendaraan. Umumnya makanan ringan, seperti keripik, minuman dingin, batagor, somay, dan banyak lagi. Sekitar ada 10-an.

Mungkin hanya berjarak sehelai rambut antara gerobak dan sepeda motor. Percis di seberang pertigaan ke arah Condet sejajar dengan PGC pedagang kaki lima menyandarkan harapan untuk esok dengan gerobak dagangannya. Itulah posisi strategisnya. Tramtib datang langsung menyebrang ke jalan Condet. Dari kejauhan lampu patromak menyala seperti kunang-kunang yang sedang hinggap. Luar biasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mendekati pukul 20.30 satu per satu pedagang kaki lima menarik gerobak ke percis depan pintu selatan PGC. Bangku-bangku plastik yang di trotoar diangkutnya juga.

Di posisi yang baru pembeli lebih banyak. Pengunjung PGC yang keluar bisa langsung jajan di tepi jalanan itu. Mungkin sambil menunggu angkutan umum.

Tak lama berselang di PW (posisi wenak), Security PGC menghampiri setiap pedagang sambil mengelus pundak dan meminta mereka pindah. Teriaklah salah seorang di antara mereka. "Jangan mundur ... !" Tapi, mereka tak kuasa. Memilih mundur dan menepikan gerobak di pinggir jalan masuk ke Terminal Cililitan. Percis di pintu masuk angkutan umum dari jalan Dewi Sartika. Hanya kata-kata kasar keluar dari bibir pedagang yang mengarah ke Security. Gerobak pun nampak seperti barisan gerbong kereta api.

David Mc Celland, seorang Sosiolog dari Amerika menyatakan pembangunan masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan perekonomian mikro di masyarakat. Dengan begitu negara akan sejahtera jika memiliki 2% dari penduduknya adalah berwirausaha.

Bukankah Presiden Indonesia saat ini sedang menggalakkan usaha mikro untuk masyarakat dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Secara tidak langsung pemerintah telah sadar pentingnya keberadaan usaha mikro yang riil di tingkat masyarakat.

PGC memang besar. Perputaran uang setiap hari di dalamnya jauh berbeda dengan pedagang yang hanya mendorong gerobak di depan bangunan megah itu. Pengelola PGC mungkin bermaksud untuk memberikan service bagi pengunjungnya. Tetapi, pedagang batagor yang minim modal juga berharap pendapatan malam itu dapat menghidupi keluarganya.

Bagaimana pembangunan kesejahteraan masyarakat akan berhasil jika pedagang kelas menengah ke bawah selalu disingkirkan.

Pedagang mulai resah. Khawatir dagangan tidak akan habis lagi. Pembeli juga semakin minim. Terlalu jauh jarak antara pintu selatan PGC dengan gerobak dagangan. Sekitar jam 21.00 "pasukan bodrek, maju ... maju ... ", teriak pedagang batagor.

M Maulana
Jl Pramuka I No 49 Mampang Depok
maulkhan@gmail.com
081382828670

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads