Di Negeri Ini yang Lemah Silahkan Minggir

Di Negeri Ini yang Lemah Silahkan Minggir

- detikNews
Jumat, 23 Nov 2007 09:50 WIB
Jakarta - Alkisah, ada negeri yang indah di khatulistiwa yang sebagian besar rupanya diciptakan ketika Tuhan tersenyum. Konon menurut sejarah yang pernah ada penghuninya ramah, murah senyum, dan senang membantu.

Tetapi, keramahan itu hanya tercatat dalam buku-buku sejarah dan kadang hanya dalam brosur-brosur pariwisata. Memang, penghuni negeri itu sangat ramah dengan orang asing.

Tapi, ramahnya penghuni negeri itu kepada orang asing hanya kosmetik belaka. Sebab, mereka mudah dibodohi akibat tak percaya diri dan ingin dikasihani. Akhirnya lupa menghormati bangsa sendiri. Negeri yang lebih senang menerima nasihat dari orang asing ini seakan-akan mereka lebih mengerti persoalan negeri ini dibanding bangsanya sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenyataannya, putra bangsa ini, banyak yang jauh lebih baik dibandingkan mereka. Bahkan, kalau ada putra bangsa yang membuat prestasi luar biasa lebih dihormati oleh bangsa lain daripada di negerinya sendiri.

Negeri sangat cinta kekerasan. Dianggapnya kekerasan bisa menyelesaikan segala sesuatunya. Entah dari mana kesimpulan itu datang. Mungkin karena sejak zaman merdeka sampai dengan zaman reformasi kekerasan dianggap cara yang ampuh untuk memperoleh kemenangan dan kekayaan. Sebelum reformasi, pemimpin tertinggi bangsa anti kritik. Setiap ada kritik penyelesaiannya hanya ada dua, dianggap pembangkang atau diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Di lapangan terserah para aparat menterjemahkannya. Agar bapak senang, maka dilakukan culik sana culik sini. Habisi sana habisi sini. Kebiasaan berperilaku demikian, maka para aparat, dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi berperilaku seenak sendiri.

Jika jadi aparat, mereka bebas semaunya sendiri, dan ugal-ugalan dalam bermasyarakat. Jika terkena dampaknya bisanya marah-marah, mudah saja peluru keluar untuk perkara sepele. Benar atau tidak kelakuannya, itu nomor tiga puluh. Aparat di negeri ini bebas merdeka untuk menggunakan fasilitas umum. Jika ditagih, bogem mentah tak segan melayang. Yang ada, mereka malah minta bagian, alias jatah untuk perutnya sendiri.

Karena aparat berkuasa, maka senioritas menjadi segala-galanya. Yang yunior, apalagi orang sipil harus siap-siap menjadi pesuruh. Artinya harus patuh akan perintah apapun juga. Perintah aparat adalah sabda bagi rakyat jelata.

Rupanya, semua kejadian kekerasan itu ditiru dan dijadikan contoh oleh para rakyat sipilnya. Rakyat sipil itu juga meniru perilaku para aparat negara itu. Terutama yangΒ  merasa diri senior, mereka merasa berhak menindas para yuniornya.

Rupanya insan-insan muda di institusi pendidikan negeri itu juga melihat dan menyaksikan lewat televisi dan media. Anak-anak itu lalu berfikir, bahwa kekerasan itu sangat bagus untuk dicontoh. Seperti para aparat juga, supaya ada keuntungan yang bisa diambil.

Di Sekolah Dasar. Belum lama ini, empat orang anak SD mengeroyok temannya sendiri hingga tewas. Padahal mereka baru kelas empat sekolah dasar. Belajar dari mana mereka begitu, kalau bukan dari kelakuan bangsanya sendiri.

Dua hari yang lalu, ada anak penyandang autis. Ketika badannya dipegang oleh dokter
sehabis pulang sekolah, mengaduh nyeri dan kesakitan. Ketika dilihat, badannya biru lebam akibat penganiayaan. Untungnya anak itu sudah bagus perkembangannya saat ini, sehingga bisa mengadu kepada orang tuanya. Tidak tanggung-tanggung, lima orang temannya memukulnya di dada, punggung, perut, kepala. Hampir di seluruh bagian tubuhnya.

Ternyata bapak gurunya tidak tahu. Selain itu, gurunya tidak berani berinteraksi dengan orang tua anak yang memukul anak itu. Wah, sungguh mau dikemanakan pendidikan di negeri itu, ketika pendidik tak mampu menangani anak didik, serta para orang tuanya tak mau tahu soal pendidikan anak-anaknya. Kejadian ini, tidak sampai masuk media memang. Hanya diselesaikan dengan cara kekeluargaan.

Di Sekolah Menengah Atas. Di negeri itu lagi musim pembentukan geng-geng pembuat onar. Di Bandung dengan menggunakan motor untuk berbuat kerusuhan di tempat umum. Di Jakarta dengan menggunakan alibi senioritas untuk menganiaya yuniornya.

Di Sekolah Pendidikan Pamong Praja. Sejak di pendidikan awal, para calon pamong praja itu telah terdidik untuk mengagungkan para senior. Pendidikan penuh kekerasan mulai terorganisasi dari kampus pamong praja ini. Entah, sejak lembaga pendidikan itu berdiri, sudah berapa puluh nyawa melayang.Β Β  Β 

Anehnya, korban kekerasan, tidak pernah terjadi di institusi militer. Yang terjadi hanya di institusi sipil. Entah karena tidak ada, atau hanya beritanya saja yang tak ada.Β  Β 

Sepertinya, di negara itu, mahluk yang lemah harap minggir. Tak ada tempat untuk mereka. Negara itu sudah mirip dengan hutan rimba di zaman modern. Yang kuat serta berpangkat akan memangsa yang lemah agar mereka mampu berkuasa.

D Panduprakarsa
Bapindo Plaza Mandiri Tower
Jl Jend Sudirman Kav 54-55 Jakarta 12190
haryuslaensyar@yahoo.com
0811941945

(msh/msh)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads