Jalan Shirathaal Mustaqiim

Jalan Shirathaal Mustaqiim

- detikNews
Rabu, 29 Agu 2007 07:30 WIB
Jakarta - Al Quran sebenarnya sudah mewanti-wanti tentang adanya was-washilkonnas di dalam hati manusia (simak QS 114). Was-was adalah produk hawa nafsu yang sudah mengkristal dan berbisik. Kalau was-was ini tidak dikelola dengan benar maka ia akan berkembang menjadi penyesat manusia. Tidak peduli apakah ia tampak dari luar seperti orang saleh atau bukan.Kisah serigala berbulu domba pun sebenarnya kisah klasik yang hampir di semua tradisi agama yang ada. Kesalehan yang akhirnya menjadi kejahatan. Atau kejahatan malah berubah menjadi kebaikan bukan hal baru. Namun, merupakan kenyataan sebagai pengingat bagi manusia yang sifatnya lalai.Bahkan kisah Adam dan Hawa yang terhempas ke dunia untuk menyempurnakan maujud kemanusiaannya tidak lepas dari kejelekan bentuk kemanuisaannya yang materialistik yaitu "lalai". Kisah-kisah lainnya yang mirip juga banyak ditemukan.Dalam tradisi Yudaisme misalnya, saya pernah membaca bagaimana seorang rahib tidak kuat menahan "birahinya" ketika dititipi cewek yang digambarkan "bahenol nerkom" dan akhirnya malah menodai si cewek dan membunuhnya.Bahkan, di Indonesia kisah pagar makan tanaman sering terjadi. Di zaman Soekarno dulu, beliau pernah menulis artikel berjudul "Islam Sontolojo" (artikel tersebut terdapat di buku Soekarno "Dibawah Bendera Revolusi"). Soekarno menulis judul seperti itu untuk menanggapi kehebohan di masanya ketika seorang ustad menodai murid wanitanya.Belum lama ini, peristiwa yang mirip terjadi juga di suatu kota di Kalimantan. Bahkan, di Jawa Barat belum lama juga kehebohan antara urusan agama dan syahwat pernah merebak ketika seseorang yang mengaku mendapat wangsit dari langit menggauli anggota jemaah wanitanya. Demikian juga, kita tahu kisah Sunan Kalijaga yang begal dan rampok mendadak jadi tobat, Umar bin Khatab yang preman Mekkah mendadak jadi tobat 360 derajat.Kisah-kisah kontradiktif itu adalah kenyataan dari kehidupan manusia sepanjang zaman yang tampaknya menjadi bagian bagaimana manusia menyikapi kehidupan dengan berbagai pernak-perniknya, niat-niatnya. Baik yang menyesatkan maupun yang akhirnya membawa hikmah dan pemahaman.Iblis si penggoda iman semua manusia memang bisa hadir dari mana saja. Bahkan Quran menegaskan ia bisa datang menggoda manusia dari kiri, kanan, depan, dan belakang. Dari kalangan yang amat sangat dekat dengan kehidupan kita. Misalnya dari anak, istri atau suami, orang tua, kakak atau adik, tetangga, teman, sahabat, guru, dan bahkan dari benda-benda kesukaan kita.Tipu daya iblis ini yang memang harus disadari oleh kita sebagai suatu kenyataan sehari-hari. Apalagi di zaman sekarang di mana setiap hari berkelebat bisikan-bisikan, was-was yang menyesatkan, pantulan-pantulan yang menggoda mulai dari tayangan televisi, mobil baru, rumah baru, istri baru, dan godaan-godaan yang direfleksikan dari alam kebendaan lainnya.Bersitan was-was yang dapat menjadi pintu masuk si iblis harus segera dimusnahkan sebelum mengumpal menjadi suatu niat. Karena itu, jangan memanjakan nafsu maupun niat jahat. Gunakan strategi "Broken Arrow" yaitu patahkan anak panah sebelum diluncurkan. Atau patahkan niat buruk sekecil apapun sebelum berkembang dan menggumpal menjadi tindakan. Barangkali itu merupakan kiat singkatnya.Mengingat adanya was-was dan sifat lalai pada manusia saya termenung. Saya memang rada ngeri kalau muncul lintasan-lintasan yang jahat. Baik lintasan itu sekedar kepingin ini atau itu, berimajinasi liar menjadi ini atau itu, maupun lintasan karena sesuatu yang menggoda (misalnya cewek bahenol).Kalau sudah begitu saya biasanya mulai menegakkan kuping kayak kucing mengendus bau tikus. Kalau godaan terasa agak berat saya biasanya komat-kamit menggoyang lidah beristighfar.Sejak empat tahun yang lalu saya diajari dzikir sederhana. Petuah dari muryid dan guru mengaji saya untuk selalu dzikir menyebut nama Allah di mana pun saya berada dan dalam keadaan apapun. Awalnya, sempat pula saya tanyakan ke almarhum guru mursyid saya (meninggal 7 Januari 2005) waktu pertama kali bertemu beliau."Boleh nggak saya menyebut dalam hati nama Allah saat saya di WC atau tempat yang tidak pantas (contoh tempat tidak pantas misalnya di tempat sampah, kandang babi dll.)", tanya saya.Beliau dengan enteng menjawab, "ya boleh aja. Lha kalau pas di WC kamu mati dan tidak mengingat Allah gimana?" Beliau balik bertanya. Saya cengengesan. Memang jawaban sederhana yang masuk logika saya namun tidak masuk ke logika beberapa aturan fikih yang pernah saya baca.Allah ada di mana-mana bagi yang mampu menghadirkan-Nya di dalam hati dan pikirannya. Demikian juga iblis dan setan dalam bentuk jin maupun manusia ada di mana-mana. Pada dasarnya kita yang mempunyai sifat lalai memang harus selalu mengingat Allah dalam hati dan pikiran kita, di mana pun kita berada. Kira-kira begitulah kesimpulan akhirnya setelah saya pertama kali bertemu beliau.Petuah beliau sederhana. Namun, awalnya untuk bisa dzikir Allah terus menerus ternyata susah juga karena untuk menyelaraskan seluruh aktivitas kita, dalam keadaan apapun, dengan lafaz Allah suka lupa.Namun, pelan-pelan dzikir hanya menyebut nama "Allah" itu pun menjadi kebiasaan yang secara otomatis aktif seiring dengan denyut nafas kehidupan yang kita hirup (bahkan di dalam salat pun selain membaca surat yang wajib dibaca saya barengkan di dalam hati melafazkan dzikir Allah tersebut. Jadi ini mirip superposisi gelombang frekuensi tinggi dan rendah yang digabungkan).Itulah benteng terakhir yang selalu saya jadikan suatu kesadaran tentang kehidupan setiap saat di mana pun saya berada dan dalam keadaan apapun untuk meredam was-was dan kelalaian maupun menghempaskan bersitan-bersitan hati yang masih suka aneh-aneh dan bisa menyesatkan kalau dituruti.Kembali saya merenung. Kali ini ke acaranya Bang Napi di televisi yang selalu mengakhiri acaranya dengan kata bertanda seru "WASPADALAH!".Mengikuti gaya peringatan Bang Napi, "Waspadalah, kejahatan muncul bukan dari mana-mana. Namun, dari bolak-baliknya was-was di hati dan pikiran kita sendiri, dari kelalaian kita sendiri yang membiarkan bisikan syaiton mampir di hati, memanjakan bisikan itu sehingga menutupi pikiran dan akal sehat, menggelorakan nafsu di perut dan seluruh tubuh kita dan akhirnya dapat menjatuhkan kita semua ke jurang nestapa kehidupan."Mudahan-mudahan semua peristiwa baik yang kita alami langsung maupun dialami oleh orang lain dapat dijadikan sebagai pelajaran dan peringatan yang berharga dalam kehidupan. Semoga kita lebih dapat memaknai dan memakrifati kehidupan di jalan yang luas.Jalan Shirathaal Mustaqiim. Sebagai suatu tanda kalau kita adalah manusia yang mesti berserah diri (Islam), sehingga dari pengalaman tentang hidup dapat dibuktikan oleh kita bahwa kebijaksanaan dan pemahaman tentang kehidupan jauh lebih berharga daripada kekayaan.AtmonadiMendawai 4 No 6 Jakartaatmoon.geo@yahoo.com081585825354 (msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads