Adang-Dani vs Fauzi-Priyanto
Rabu, 11 Jul 2007 16:10 WIB
Jakarta - Pilkada DKI Jakarta yang hanya tinggal beberapa minggu lagi hanya memunculkan dua kandidat. Pasangan Adang-Dani yang diusung oleh PKS dan pasangan Fauzi-Priyanto yang diusung oleh koalisi partai. Dari sekian pilkada yang ada di Indonesia sepertinya hanya DKI Jakarta yang menempatkan pertarungan dua kandidat. Pertarungan satu lawan satu ini makin menambah daya tarik atau keunikan tersendiri pilkada Jakarta. Sebagai ibu kota negara dan ibu kota perekonomian Indonesia Jakarta adalah provinsi yang paling menjanjikan bagi para petualang politik untuk memenangi pilkada. Selain itu tidak seperti di provinsi lain otonomi pemerintahan di tangan bupati atau walikota. Otonomi pemerintahan DKI Jakarta ada di tangan gubernur. Mempertimbangkan besarnya potensi ekonomi dan wewenang yang dimiliki gubernur DKI Jakarta memenangi pilkada DKI Jakarta tidak bisa disangkal si pemenang akan meraup pundi-pundi uang yang teramat besar. Atau dalam hitungan dagang modal pilkada akan cepat kembali setelah terpilih.Mengingat politik pada dasarnya persepsi (citra) maka ketika orang berbicara tentang politik Pilkada DKI Jakarta orang akan berbicara apa yang dipersepsikan (dicitrakan) masyarakat DKI Jakarta tentang dua pasangan tersebut. Secara matematis, di atas kertas pasangan Fauzi-Priyanto yang didukung oleh hampir semua partai yang mempunyai kursi di parlemen akan memenangkan pertarungan ini secara mudah. Tetapi, secara matematika politik hasilnya bisa lain. Dalam matematika politik Pilkada DKI Jakarta sesungguhnya adalah pertarungan citra dari dua pasangan ini yang dibumbui oleh citra dari partai pendukungnya.Pertarungan Adang vs Fauzi ibarat dua mata koin. Di satu sisi adalah pertarungan pencitraan sektarian vs nasionalis atau pluralisme. Sementara di sisi lain adalah pertarungan pencitraan clean governance vs corrupt governance. Jika dan hanya jika pasangan Adang-Dani mampu mengiring pemilih ke dalam sebuah isu pertarungan clean party dan corrupt party, besar kemungkinan Adang-Dani bisa mencuri suara para floating voters untuk memenangi Pilkada DKI Jakarta. Sebaliknya, jika dan hanya jika Fauzi-Priyanto mampu mengiring pemilih ke dalam isu sektarian versus pluralisme, besar kemungkinan Fauzi akan memenangkan pilkada ini dengan mudah.Guna mengiring para pemilih ke arah isu pertama, clean governance versus corrupt governance, kandidat PKS harus mampu menyajikan keunggulan-keunggulan komparatif yang diraih oleh partai ini dalam pemberantasan korupsi. Mengangkat kembali berita-berita lama yang telah ada tentang anggota dewan dari PKS yang mengembalikan uang haram dari pejabat publik bisa menjadi alat untuk memperkuat pesan politik ini. Tentunya ditambah track record Adang sebagai mantan Wakapolri yang nyaris tak terdengar terlibat kasus korupsi. Kandidat PKS juga perlu menyoroti sejumlah hasil polling yang menyatakan kekecewaan masyarakat terhadap tingkah laku para anggota dewan atau partai yang kurang simpatik. Masyarakat mengangap mayoritas anggota partai/dewan korup. Jika isu ini diangkat ke publik bisa saja menjadi alasan bagi publik untuk melawan suara elit politik yaitu tidak mendukung pilihan koalisi partai Fauzi-Priyanto. Hal ini diperkuat dengan persepsi yang berkembang bahwa PKS sebagai pendukung Adang adalah partai yang lain daripada yang lain. Persepsi yang berkembang dari sejumlah jajak pendapat partai ini yang mempunyai pencitraan relatif lebih bersih dan positif ini menjadi alasan partai ini dari partai gurem menjadi partai besar. Bahkan pemenang Pemilu 2004 untuk DKI Jakarta. Kandidat PKS selain memikirkan kekuatan yang dimiliki partai juga perlu memikirkan potensi masalah yang dimiliki oleh partai. Ada persepsi yang kuat di kalangan pemilih bahwa PKS mempunyai agenda politik terselubung dan cukup menakutkan bagi para kelompok pluralis yaitu agenda penerapan Syariah Islam. Hal ini diperkuat oleh adanya persepsi di kalangan pemilih bahwa partai ini didukung oleh para pemilih Muslim yang beraliran keras dan diperkuat dengan keputusan partai ini mengusung pasangannya sendiri tanpa melihatkan partai lain. Mungkin isu ini bisa dengan mudah diatasi seandainya PKS mengusung pasangannya dengan satu atau dua partai nasionalis. Walaupun hanya partai kecil sekali pun. Sesuatu yang sudah tidak mungkin dilakukan dan yang bisa dilakukan adalah membuat pesan politik berulang-ulang bahwa pasangan Kandidat PKS menjamin pluralisme Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sayangnya sejauh ini baik PKS maupun pasangan Adang-Dani tidak memberi jawaban yang baik atas kekhawatiran masyarakat Jakarta atas isu ini.Guna mengiring para pemilih ke arah isu kedua, sectarian governance versus pluralist governance, pasangan partai koalisi Fauzi-Priyanto perlu menyajikan keunggulan komparatif yaitu keragaman pendukung dari partai koalisi ini adanya partai Islam (PPP, PBB, dan PBR) dan partai Nasionalis (PDIP, GOLKAR, PAN, dan PKB). Keragaman pendukung pasangan ini sudah memberi jawaban bahwa pasangan ini bisa memberi jaminan bahwa pluralisme Jakarta sebagai ibu kota NKRI tidak akan dimatikan. Untuk menarik simpatik pemilih Jakarta pasangan ini juga perlu menarik simpatik konstituen tentang bahayanya pemerintahan yang sektarian bagi keberlangsungan ibu kota yang metropolis seperti Jakarta ini.Pasangan Fauzi juga perlu memikirkan potensi permasalahan yang diwariskan oleh para partai pendukung. Kuatnya persepsi masyarakat bahwa mayoritas anggota partai politik maupun anggota dewan adalah korup dan tidak peduli dengan nasib rakyat merupakan potensi permasalahan yang harus mereka atasi. Terlalu mendekatkan diri ke partai-partai pendukung dalam pencitraan juga bisa menjadi bumerang politik bagi pasangan ini. KerkanSetiabudi Timur I, No 19, Jakarta Selatanker_wignyawinata@yahoo.com081-2827-1698
(msh/nrl)











































