Terapi Video Game
Kamis, 24 Mei 2007 12:12 WIB
Jakarta - Video game sudah tidak asing bagi kita. Ketika menginginkan refreshing remaja umumnya memilih video game. Kini, bukan hanya menjadi suatu budaya namun permainan ini sudah menjadi suatu predikat bagi remaja ataupun anak-anak. Kadang kita melakukan kebiasan tanpa mengetahui dampaknya. Tidak pernah kita bayangkan ternyata video game bisa menjadi suatu alternatif dalam melakukan berbagai macam terapi kesehatan.Terapi Autisme. Akhir-akhir ini bermunculan berbagai cara, obat, suplemen dengan iming-iming bisa menyembuhkan autisme. Promosi dilakukan dengan gencar baik melalui televisi, radio, maupun surat kabar. Ada 10 jenis terapi yang diakui para profesional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan. Terapi jenis apapun memerlukan waktu. Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar. Misalnya dengan sebuah metode PECS (Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi. Terapi Penglihatan. Riset di Manchester University dan Central Lanchashire University membuktikan gamer yang bermain game 18 jam per minggu memiliki koordinasi yang baik antara tangan dan mata. Kemampuan koordinasi ini setara dengan kemampuan atlet. Dr. Jo Bryce, kepala riset menemukan bahwa hardcore gamer punya daya konsentrasi tinggi yang memungkinkan mereka mampu menuntaskan beberapa tugas.Riset lain di Rochester University mengungkap anak-anak yang memainkan game action secara teratur memiliki ketajaman mata yang lebih cepat daripada mereka yang tidak terbiasa dengan joypad.NASA telah mengembangkan sistem biofeedback yang menggunakan game PlayStation, seperti Spyro the Dragon dan Tony Hawk's Pro Skater untuk meningkatkan daya konsentrasi pilot pesawat tempur. Perusahaan Attention Builders kemudian memasarkan home version-nya untuk meningkatkan kinerja otak.Video game dibuat bukan untuk menggantikan buku. Namun, keluhan soal bermain game yang dapat menurunkan budaya membaca tidaklah beralasan. Justru kebalikannya. Psikolog di Finland University menyatakan video game bisa membantu anak-anak dislexia untuk meningkatkan kemampuan baca.Beberapa profesor di Loyola University, Chicago telah mengadakan penelitian dalam komunitas Counter Strike, game First Person Shooter PC yang telah dibuat versi Xbox-nya. Menurut mereka, game online dapat menumbuhkan interaksi sosial. Game online ini juga menyediakan sarana interaksi sosial di kalangan anak dan remaja.Terapi Mengusir Stres. Politikus dan orang tua meributkan kekerasan akibat video game. Sebetulnya mereka tidak mau mengakui kalau game itu salah satu cara yang tidak berbahaya untuk mengusir stres. Para peneliti di Indiana University menjelaskan bahwa bermain game dapat mengendurkan ketegangan syaraf.Game terbukti dapat digunakan untuk pasien yang sedang mendapat terapi fisik. Dr. Mark Griffiths, psikolog di Nottingham Trent University melakukan penelitian sejauh mana manfaat game dalam terapi fisik. Pengenalan video game dalam terapi fisik ternyata sangat menguntungkan. Beberapa game digunakannya untuk membentuk otot sampai melatih anak-anak yang menderita diabetes sebagai pelengkap pengobatan medis.Terapi Trauma. Ketika seseorang pernah mengalamai suatu trauma tanpa terapi efek yang ditimbulkan akan sukar dihilangkan. Misalnya, trauma akan laba-laba (spider). Setiap penderita bertemu dengan laba-laba ia akan mengalami ketakutan. Video game Spiderman dapat digunakan sebagai terapi. Memainkan video game Spiderman, penderita trauma akan mulai menjiwai laba-laba. Penderita akan mulai menyukai laba-laba karena dia akan mencoba mempertahankan bahkan menjaga agar tetap survive dalam permainan yang dia mainkan. Akhmad FauziTeknik Industri Internasional Program FTI UII Jakal Km 14.5 Yogyakarta +6281392867555zeoes_uzk@yahoo.com
(msh/nrl)











































