DetikNews
Kamis 16 November 2017, 12:58 WIB

Ancaman Pidana bagi Pelaku Tindakan Persekusi di Cikupa

Yudha Herlangga - detikNews
Ancaman Pidana bagi Pelaku Tindakan Persekusi di Cikupa Foto: Kontrakan lokasi pasangan ditelanjangi dan dianiaya warga
Jakarta - Baru-baru ini viral di media sosial tentang sejumlah orang di daerah Cikupa, Tangerang yang telah menganiaya dan melucuti pakaian pasangan yang diduga berbuat asusila di kontrakannya. Berdasarkan berita di media online, pasangan tersebut dipaksa mengaku berbuat asusila dan juga di arak keliling kampung dengan kondisi tidak berpakaian lengkap.

Di Indonesia, tindakan "main hakim sendiri" atau disebut juga persekusi, cukup banyak contoh kasusnya bahkan hal ini sudah jauh terjadi beberapa tahun belakang, dimana orang-orang yang diduga mencuri, begal, dan berbuat asusila di "hakimi" oleh warga seolah-olah tidak peduli dengan proses hukum yang seharusnya.

Masih ingat beberapa bulan lalu, seorang laki-laki meninggal dunia karena warga menuduhnya melakukan pencurian amplifier mesjid, yang kemudian dibakar hingga meninggal. Pertanyaanya, apakah laki-laki tersebut terbukti bersalah? Bukankah secara hukum seseorang tidak dapat dinyatakan bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan dirinya bersalah?

Kembali kepada kejadian persekusi di Cikupa, kejadian ini bahkan lebih memprihatinkan karena tidak hanya menganiaya pasangan yang diduga berbuat asusila, tetapi juga melucuti pakaian serta mengarak pasangan itu keliling kampung seolah-olah ingin mempertontonkan aurat dari pasangan tersebut.

Jelas ini pun melanggar beberapa ketentuan perundang-undangan di Indonesia yaitu larangan tentang pelecehan seksual dan pornografi termasuk melanggar Undang-Undang Informasi dan Teknologi (UU ITE) bagi penyebar video yang belakangan viral di media sosial.

Penganiayaan

Tindakan persekusi dengan cara-cara penganiayaan jelas melanggar ketentuan Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang berbunyi "Barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan".

Bahkan apabila penganiayaan tersebut mengakibatkan korbannya meninggal dunia seperti yang terjadi di Bekasi, maka pelakunya dapat di pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun.

Pada video yang viral mengenai kejadian di Cikupa, Tangerang, tampak bahwa pasangan yang diduga berbuat asusila dipukul beberapa kali yang mengakibatkan luka pada tubuhnya, namun tidak diketahui apakah luka tersebut termasuk dalam luka ringan atau berat.

Penganiayaan yang menyebabkan luka-luka terhadap korbannya, jelas melanggar ketentuan Pasal 170 ayat 2 KUHP dengan ancaman pidana 7 (tujuh) tahun hingga 9 (sembilan) tahun penjara. Selain itu, tindakan yang dilakukan para terduga pelaku persekusi dapat juga dikenakan pasal mengenai tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 335 KUHP.

Dalam kasus ini, perlu diapresiasi tindakan pihak kepolisian yang sudah menangkap terduga pelaku-pelaku persekusi di Cikupa, Tangerang. Namun, pasal yang dikenakan terhadap para terduga pelaku sebaiknya tidak hanya Pasal 170 dan Pasal 335 KUHP saja, namun juga harus dikenakan pasal-pasal mengenai pelecehan seksual dan pornografi.

Pelecehan seksual dan pornografi

Pelecehan seksual atau dalam hukum pidana disebut sebagai perbuatan cabul, diatur dalam Pasal 284 KUHP yang berbunyi "Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun".

Pasal tersebut jelas menyebutkan bahwa perbuatan cabul juga termasuk segala perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan seseorang, yang mana tindakan cabul dapat diancam pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun.

Tindakan melucuti pakaian pasangan yang diduga berbuat asusila di Cikupa, Tangerang jelas dapat dikategorikan perbuatan cabul karena perbuatan tersebut telah menyerang kehormatan kesusilaan korban.

Lebih parahnya lagi, tidak hanya laki-laki yang dilucuti pakaiannya, tetapi pakaian perempuannya juga dilucuti oleh para terduga pelaku dan diarak berkeliling kampung dan dilihat oleh warga lainnya, padahal pasangan tersebut belum tentu melakukan perbuatan asusila seperti yang dituduhkan pada mereka.

Selain itu, tindakan terduga pelaku yang mengarak pasangan tersebut dengan pakaian yang sudah dilucuti keliling kampung dapat dikategorikan sebagai tindakan yang melanggar Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi (UU Pronografi) dimana berdasarkan UU Pornografi jelas melarang bagi setiap orang mempertontonkan diri atau orang lain di muka umum yang mengambarkan ketelanjangan.

Perbuatan ini jelas diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 5.000.000.000 (lima milyar rupiah).

Pihak-pihak lain juga yang dapat dijerat dengan UU Pornografi yaitu setiap orang yang merekam kejadian "arak-arakan" pasangan terduga berbuat asusila, serta menyebarkan rekaman video tersebut ke berbagai media sosial.

Penyebar video melanggar UU Pornografi dan UU ITE

Perekaman kejadian "arak-arakan" pasangan tersebar ke media sosial karena ada pihak-pihak yang merekam kejadian serta meng-upload video ke media sosial dan menjadi viral. Tindakan perekaman itu sendiri jelas melanggar UU Pornografi karena konten/objek yang direkam mengandung unsur-unsur pornografi sebagaimana yang dilarang dalam UU Pornografi.

Setiap orang yang ikut merekam tindakan yang mengandung unsur pornografi dapat dikenakan pasal UU Pornografi yang sama dengan pelaku yang mengarak pasangan diduga berbuat asusila dengan pakaian yang telah dilucuti, sehingga mengandung unsur pornografi.

Ditambah lagi, tindakan menyebarluaskan video yang memuat konten pornografi jelas melanggar ketentuan UU ITE, dimana diatur bahwa setiap orang dengan sengaja menyebarkan/mendistribusikan materi elektronik yang memiliki muatan yang melanggar asusila dapat diancam dengan pidana penjara 6 (tahun) dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar Rupiah).

Sehubungan dengan uraian di atas, maka sudah sebaiknya bagi orang-orang yang telah merekam atau menyebarkan video terkait persekusi di Cikupa, Tangerang untuk segera menghapus segala video nya baik di media elektronik offline maupun online.

Pelaku yang sengaja mengarak pasangan diduga berbuat asusila dengan mempertontonkan pornografi sepatutnya dijerat dengan ketentuan pidana seperti pidana penganiayaan, perbuatan tidak menyenangkan dan juga pidana sesuai UU Pornografi.


Yudha Herlangga
Managing Partner, Herlangga Nugraha Praya, Attorneys At Law
(wwn/wwn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed