DetikNews
Senin 09 Oktober 2017, 18:22 WIB

Toponimi

Makna dibalik Odonim dari Identitas, Filosofi hingga Rekonsiliasi?

- detikNews
Makna dibalik Odonim dari Identitas, Filosofi hingga Rekonsiliasi? Foto: Aji Putra Perdana
Jakarta - Odonim atau nama jalan merupakan bagian dari urban names (nama geografis di wilayah perkotaan) yang juga didiskusikan dalam pertemuan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pakar Nama Geografi pada bulan Agustus 2017.

Delegasi Republik Indonesia untuk Konferensi PBB Pembakuan Nama Geografi juga mengupas filosofi nama jalan yang ada di Yogyakarta (unstats.un.org). Tulisan berjudul Changing Place Names to Reflect Heritage: A Case Study in Javanese Philosophy in Yogyakarta yang dipresentasikan oleh Prof. Multamia (Pakar Toponimi Indonesia) merupakan laporan kemajuan penelitian Komunitas Toponimi Indonesia – KOTISIA.

Tulisan berisi kajian toponimi untuk penggunaan nama Jalan Marga Utomo (sebelumnya Jalan Pangeran Mangkubumi), Jalan Margo Mulyo (sebelumnya Jalan Jenderal Ahmad Yani), dan Jalan Pangurakan (sebelumnya Jalan Trikora).

Penggantian nama jalan tersebut memiliki perspektif sejarah dan merefleksikan nilai lokal, sejarah, budaya, filosofi dan tentunya warisan budaya bangsa. Penelitian ini merupakan kajian terhadap langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta mengubah kembali 600 nama jalan sesuai dengan ciri khas Yogyakarta dan filosofi terhadap kota yang penuh dengan perjalanan sejarah (merdeka.com).

Adakah aturan umum dalam penamaan dan penggantian nama jalan di Indonesia?

Hingga kini, pemberian dan penggantian nama jalan di Indonesia belum ada sebuah pedoman baku yang berlaku secara nasional. Tiap daerah memiliki peraturan masing-masing dalam proses pemberian, penggantian nama jalan hingga pengesahannya.

Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia Jimly Asshiddiqie mengatakan pola penamaan jalan berbeda-beda di seluruh Indonesia dan di beberapa daerah tergantung pimpinan wilayah (Walikota, Gubernur) dan tentunya harus memperoleh ijin dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (hukumonline.com). Lebih lengkap pula dalam situs tersebut dilampirkan beberapa peraturan daerah pedoman penamaan jalan di beberapa wilayah Kabupaten/Kota hingga di tingkat Provinsi.

Provinsi yang telah menyusun sebuah pedoman baku untuk pemberian nama unsur buatan manusia (berlaku untuk nama bangunan, nama jalan, dan sebagainya) ialah Daerah Istimewa Yogyakarta (D.I. Yogyakarta). Berita terkini kembali muncul mengenai penggantian nama jalan di wilayah tersebut.

Nama baru untuk 6 jalan di Yogyakarta (Jalan Siliwangi, Jalan Padjajaran, Jalan Majapahit, Jalan Ahmad Yani, Jalan Prof Dr Wirjono projodikoro, Jalan Brawijaya) sebagai sebuah rekonsiliasi etnis, jiwa dan beban moral yang selama ini ada, demikian ujar Gubernur Jawa Barat dalam peresmian nama jalan yang dihadiri tiga pimpinan dari Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur (news.detik.com).

Ternyata semakin meningkat sebuah kesadaran di kalangan pimpinan di tingkat Provinsi terhadap nama jalan yang tidak hanya sebagai identitas atau penunjuk arah jalan ataupun papan nama jalan semata. Penggunaan nama jalan baru yang diatur melalui Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 166/KEP/2017 tentang Penamaan Jalan Arteri (Ring Road) Yogyakarta dilengkapi pula dengan keterangan jaringan jalan yang diganti, panjang ruas jalan dan koordinat titik awal dan akhirnya.

Pola penamaan jalan di Indonesia?

Selama ini, pola penamaan jalan yang ada di wilayah Indonesia memiliki kecenderungan sebagai berikut (1) penggunaan nama pahlawan untuk wilayah tengah kota atau pusat perkotaan yakni untuk jalan utama kota; kemudian (2) penamaan jalan dengan nama yang mengikuti obyek atau kawasan di sekitarnya, misal nama jalan menggunakan nama cabang olahraga diberikan pada wilayah yang dekat dengan Gedung Olahraga atau kawasan Olahraga; (3) untuk nama jalan yang menggunakan nama hewan, gunung, bunga, tanaman yang menyebar digunakan pada berbagai tempat termasuk di kompleks perumahan.

Sedangkan, (4) nama tokoh atau pahlawan tertentu biasanya menggunakan tokoh atau pahlawan setempat (selain nama pahlawan nasional); terakhir ada juga (5) nama jalan yang unik dan beberapa waktu belakangan ini penulis temukan di Google Maps (sebagai akibat dari vandalisme digital (penulisan nama tempat yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan) ataukah memang terdapat nama jalan yang unik, hal ini perlu penelusuran lebih lanjut).

Terobosan penamaan jalan dan tantangannya?

Penulis melihat langkah ini merupakan terobosan kedua dan gebrakan sejarah yang dilakukan oleh Sultan sebagai Gubernur D.I. Yogyakarta di dalam bidang toponim khususnya.

Sebuah makna yang ingin disampaikan secara sederhana melalui penggantian nama jalan yaitu membangkitkan persatuan bangsa dan mengangkat kembali sejarah sebagai upaya mengangkat nama kerajaan dan pahlawan yang ada di Indonesia (jogjaprov.go.id). Akan tetapi, penggunaan nama tokoh atau seseorang yang dianggap sebagai pahlawan tentunya acapkali melahirkan sebuah kontroversi.

Penulis kembali teringat pada berita di tahun 2013 tentang keberadaan Panitia 17 yang saat itu dibentuk dan diketuai oleh Jimly Asshiddiqie. Tujuan yang dicita-citakan untuk penggantian nama jalan sebagai proses rekonsiliasi kultural diwujudkan oleh Gubernur D.I. Yogyakarta.

Saat itu, Panitia 17 juga menyampaikan tiga tujuan penggantian nama jalan yaitu (1) memberikan penghargaan untuk sejarah, (2) mengapresiasi kepahlawanan, (3) rekonsiliasi (news.detik.com). Langkah Panitia 17 terkait usulan penggunaan nama Jalan Bung Karno dan Bung Hatta hingga usulan nama Bung Harto sebagai nama jalan juga belum tuntas saat itu dan menimbulkan kontroversi.

Jika melihat dari aspek kelembagaan, keberadaan Panitia 17 juga sempat melahirkan tanda tanya; tentang bagaimana semestinya dan posisinya terhadap peran dari Panitia Pembakuan Nama Rupabumi (Nama Geografi) di Tingkat Provinsi DKI Jakarta saat itu ataukah saat itu memang belum ada PPNR Provinsi DKI? Bagaimana pula respon Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi dan kemungkinan belum fokus ke nama geografi unsur buatan manusia (termasuk nama jalan).

Melihat dari tahapan dan proses yang dilakukan Panitia 17, tentunya tetap pada koridor prosedur pembakuan dengan menjunjung tinggi aspek aspirasi masyarakat dan proses pengajuan usulan nama jalan melalui usulan dan konsultasi ke Pemerintah DKI Jakarta dan DPR. Bahkan, Panitia 17 mengajak ketua MPR, ketua DPR, ketua DPD, Pak Jokowi (saat itu sebagai Gubernur) untuk menjadi Penasihat (news.detik.com).

Hal ini merepresentasikan komposisi atau menjalankan peran Panitia Pembakuan Nama Rupabumi di tingkat Provinsi. Pentingnya keberadaan dari Panitia Pembakuan Nama Rupabumi tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No.35 tahun 2009 tentang Pedoman Pembentukan Panitia Pembakuan Nama Rupabumi. Selain permasalahan kelembagaan, terdapat beberapa permasalahan dan tantangan lainnya.

Permasalahan penamaan jalan di Indonesia ketika dipergunakan sebagai identitas ialah duplikasi nama yang sering terjadi di kota-kota besar. Oleh karena itu, nama jalan sebagai identitas dalam pengiriman barang perlu ditambahkan dengan nama wilayah administrasi (misal, kelurahan) ataupun dengan kode pos.

Permasalahan lain dan tantangan berikutnya pasca penggantian nama jalan ialah respon masyarakat setempat maupun masyarakat di dunia maya. Penggantian nama jalan membutuhkan proses transisi dengan melibatkan masyarakat dan peran aktif pemerintah dalam sosialisasi penggunaan nama jalan baru.

Tulisan ini merupakan pendapat dan pertanyaan pribadi penulis berdasarkan perkembangan berita dan melihat sudut lain perjalanan toponimi di Indonesia.


Aji Putra Perdana
*Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia PK-42
*PhD Student di Faculty of Geo-information Science and Earth Observation, University of Twente. Saat ini sedang riset untuk studinya dengan tema "Crowdsourcing Place Names Collection and Maintenance: Preserving Local Names in Indonesian Gazetteer".
*Staf Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim, Badan Informasi Geospasial
(wwn/wwn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed