DetikNews
Rabu 25 Januari 2017, 14:22 WIB

Toponimi, Bagaimana Mendaftarkan Nama Geografi?

Aji Putra Perdana - detikNews
Toponimi, Bagaimana Mendaftarkan Nama Geografi? Foto: Aji Putra Perdana
Jakarta - Beberapa waktu belakangan, berita mengenai toponimi makin menggairahkan terlebih saat beberapa menteri menyampaikan pendapatnya yang didukung dengan kecintaan terhadap tanah air dan bangga dengan bahasa dan budaya bangsa.

Membuat saya pribadi sebagai pemerhati toponimi makin menikmati kabar berita dan perkembangan terkini di Indonesia. Ada dua pertanyaan yang menarik untuk dituliskan yaitu:
1. Siapakah yang memberi nama jika ada unsur rupabumi (termasuk pulau) belum bernama?
2. Apa dan bagaimanakah cara 'mendaftarkan' nama geografi ke PBB?

Kedua pertanyaan ini sempat membawa saya untuk melihat berbagai dokumentasi yang ada di dalam website UNGEGN.

Menggali informasi mengenai sejak kapan nama Indonesia ada atau tersebut di dalam berbagai dokumen tersebut, hingga menelaah sejauh mana pencapaian yang telah dilaporkan oleh Delegasi Republik Indonesia yang menghadiri Sidang UNGEGN dan Konferensi UNCSGN.

Dari hasil yang ada dan disusun dalam wujud timeline milestone perjalanan toponimi Indonesia berdasarkan dokumentasi tersebut.

Secara umum dengan membaca berbagai dokumen tersebut dan diringkas dalam timeline dapat diketahui capaian luar biasa terkait bagaimana Indonesia menyampaikan kemajuan kinerja Tim.

Dari inisiasi untuk membentuk sebuah panitia atau tim nasional, sebagai tuan rumah pelatihan toponimi Internasional, hingga aktif di dalam kegiatan divisi.

Tak lupa pula, kegiatan secara nasional yaitu mulai dari mengumpulkan, mengelola dan mempublikasikan informasi mengenai nama unsur geografis di Indonesia serta sosialisasi dan bimbingan teknis kepada panitia daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota).

Kesemuanya sesuai yang diamanatkan dalam Perpres No. 112 tahun 2006 tentang Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi dan didukung dengan Permendagri No. 39 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pembakuan Nama Rupabumi dan Permendagri No. 35 tahun 2009 tentang Pedoman Pembentukan Panitia Pembakuan Nama Rupabumi. Di dalam peraturan tersebutlah, jawaban mengenai pertanyaan pertama bisa dijawab.

BAB IV Prosedur dan Penetapan dalam Bagian Kesatu Prosedur Pasal 15 Nomer 3 (Lebih lengkapnya dapat dibaca pada Permendagri No. 39 Tahun 2008).

Tentunya permasalahan yang terjadi di lapangan tidak semudah yang ada di dalam ketentuan tersebut. Hal ini memerlukan pendekatan partisipatif dan survei identifikasi pulau-pulau kecil apalagi terluar tidak semudah tulisan di selembar kertas.

Ucapan terima kasih dan salut penulis sampaikan atas kinerja teman-teman surveyor lapangan dan pengolah data dari Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi dan tentunya dukungan dari Panitia Pembakuan Nama Rupabumi Provinsi dan Kabupaten/Kota tentunya luar biasa di dalam upaya mengejar identifikasi hingga pembakuan nama pulau.

Hingga akhirnya nanti pada bulan Agustus 2017 ini daftar nama pulau tersebut akan disampaikan sebagai bagian dari laporan kemajuan negara.

Lanjut ke pertanyaan kedua, jika melihat beberapa dokumen laporan negara Indonesia dalam UNCSGN. Tahun 1987, Indonesia menyampaikan bahwa jumlah pulau di Indonesia sekitar 17.000 an.

Kemudian pada tahun 2007 dalam pertemuan ke-9 UNCSGN, Indonesia kembali menyampaikan beberapa capaian yang penting yaitu pembentukan Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi, hingga menyampaikan bahwa sejak 2004 ada prioritas pemberian nama pulau-pulau yang belum bernama dan di tahun 2005 mulai intensif melakukan survei pulau.

Hingga pada tahun 2011 dalam UNGEGN Sesi ke-26 dan di tahun 2012 pertemuan UNCSGN ke-10, Indonesia menyampaikan dalam dokumennya mengenai 13.466 nama pulau yang sudah dibakukan oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi yang dikemas dalam wujud gasetir.

Gasetir adalah daftar nama rupabumi yang dilengkapi dengan informasi tentang jenis unsur, posisi, lokasi dalam wilayah administratif, dan informasi lain yang diperlukan (Perpres 112/2006).

Lalu, kembali ke pertanyaan. Apa yang disampaikan?

Gasetir dan Laporan Negara yang berisi informasi kegiatan dan capaian dari Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi.

Sebelum itu, semestinya telah dikelola atau disiapkan bahan untuk gasetir. Dari hasil kegiatan lapangan, identifikasi pulau dan namanya yang disepakati dan dibakukan ialah menyimpannya ke dalam geodatabase toponim.

Penyimpanan dokumentasi lapangan, baik foto, form dan sebagainya juga menjadi dokumen penting karena toponim tampaknya tak akan bisa lepas dengan pengelolaan arsip/dokumentasi yang baik.

Pengelolaan data nama rupabumi tersebut dalam wujud basisdata spasial selaras dengan yang disampaikan pada sidang ke-9 UNCSGN bahwa Tim Nasional juga mengembangkan Geodatabase Toponimi yang akan digunakan untuk penyusunan Gasetir Nasional.

Apa itu Gasetir Nasional?

Masih menurut Perpres 112/2006. Gasetir Nasional adalah daftar nama rupabumi yang telah dibakukan secara nasional.

Idealnya ialah gasetir nasional merupakan daftar nama yang akan jadi acuan mengenai nama rupabumi di Indonesia bagi pengguna peta atau informasi geospasial di berbagai tingkat, dari lokal, regional, nasional dan Internasional. Tentunya digunakan juga sebagai bagian dari kebijakan Satu Peta.

Kemudian, bagaimanakah cara 'mendaftarkan'?

Pertama tentunya dengan hadir dan/atau menyampaikan laporan negara atau bahkan menyiapkan working paper di dalam pertemuan. Di tahun 2017 ini, UNGEGN Sesi ke-30 (7 & 18 Agustus) dan UNCSGN ke-11 (8-17 Agustus) akan dilaksanakan pada tahun dan bulan yang sama yaitu Agustus 2017.

Tentunya pula dengan mempersiapkan laporan dan disertai dengan gasetir baik dalam wujud buku gasetir maupun data spasial nama pulau yang dapat dibagikan untuk diunggah di unstats.un.org juga lebih baik.

Atau yang paling bermanfaat jika dikelola dalam geonames nasional atau didiseminasikan melalui InaGeoportal (tanahair.indonesia.go.id). Berikut dapat dilihat alamat link geonames tiap negara pada website unstats.un.org.

Hal-hal seperti ini tentunya adalah bagian yang umum yang telah dilaksanakan oleh teman-teman yang aktif di dalam kegiatan Tim Nasional.

Penulis hanya ingin membagikan pendapatnya dan semoga semakin capaian dan jerih payah semuanya dapat disampaikan dalam wadah yang tepat dan berdayaguna. Salam kangen untuk Tim.

*Penulis adalah,
  • Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia PK-42
  • PhD Student di Faculty of Geo-information Science and Earth Observation, University of Twente. Saat ini sedang riset untuk studinya dengan tema "Crowdsourcing Place Names Collection and Maintenance: Preserving Local Names in Indonesian Gazetteer".
  • Staf Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim, Badan Informasi Geospasial


Aji Putra Perdana
daan_r09@yahoo.com
(wwn/wwn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed