Start Meyakinkan Partai Golkar Menuju Indonesia I

Start Meyakinkan Partai Golkar Menuju Indonesia I

- detikNews
Kamis, 05 Jul 2012 14:01 WIB
Start Meyakinkan Partai Golkar Menuju Indonesia I
Jakarta - Sentul International Convention Center (1-7-2012) siang itu terlihat sangat gemuruh, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) resmi menjadi calon presiden Republik Indonesia tahun 2014-2019 yang tentunya juga diharapkan dengan menobatkan Partai Golkar sebagai pemenang pemilu.

Pertarungan merebut kursi presiden Republik Indonesia telah ditabuh, pertanyaannya apakah langkah yang dilakukan Partai Golkar ini sudah tepat ?.

Berbagai opini pun berkembang di masyarakat, sebagian kalangan berpendapat bahwa pencalonan ARB tersebut dianggap terlalu dini—mengingat pemilihan presiden masih akan dilaksanakan 2014.

Sebagian lagi berpendapat bahwa hal ini dilakukan untuk menghidari konflik internal sedini mungkin dan dapat mensolidkan Partai Golkar (PG) untuk memasuki pertarungan sesungguhnya di tahun 2014.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wakil Ketua Umum DPP PG Agung Laksono menegaskan pencapresan ARB tersebut adalah bagian dari strategi Partai untuk memenangkan Pilpres 2014 mendatang (Tribunnews.com Senin, 2/7/2012).

Senada, penulis berpendapat apa yang dilakukan oleh PG merupakan sebuah terobosan yang positif dan belajar dari pengalaman masa lalu.

Pada tahun 2004 dan 2009 PG menggunakan jalur Konvensi dalam penetapan calon Presidennya, dalam dua pemilu tersebut selalu mengalami kegagalan bahkan menyebabkan perpecahan dalam internal yang tentunya juga membutuhkan waktu lama memperbaikinya dan jarang ada sesuatu yang sempurna apabila persiapannya dilakukan secara instant.

Hasil Pemilu 2009

Langkah menuju kemenangan di 2014 tentunya tidak mudah, ibarat jalan adalah semak belukar yang harus diretas, dirapikan setapak demi setapak untuk dilangkahi dan sedikitnya hal yang paling mendasar harus dilakukan PG adalah 'mensolidkan' internal partainya sendiri. Dalam Rapimnas ke III partai Golkar beberapa waktu lalu menghasilkan dua keputusan penting.

Pertama: secara bulat Golkar menetapkan Ketua Umum Aburizal Bakrie sebagai calon tunggal presiden di Pilpres 2014; kedua adalah memberikan sangsi apabila ada kader partai yang melakukan ‘pembangkangan’ terhadap keputusan Rapimnas ke III tersebut.

Artinya jelas, bahwa PG telah mengambil langkah pasti untuk mensukseskan ARB sebagai calon presidennya.

Pada hasil pemilu legeslatif 2009 lalu, dari 38 partai politik peserta pemilu, ada sembilan partai yang memenuhi ambang batas perolehan suara 2,5 persen, sementara sisanya harus tersingkir.

Partai Golkar sendiri memperoleh hasil suara yang sangat berpeluang untuk memenangkan pertarungan Pilpres 2014, yaitu menempati urutan kedua dengan perolehan suara sebesar 15.037.757 suara (14,45 %).

Sedangkan urutan pertama ditempati oleh partai Demokrat dengan perolehan suara sebesar 21.703.137 suara (20,85%), urutan ketiga ditempati partai PDIP dengan perolehan suara sebesar 14.600.091 suara (14,03%).

Urutan keempat ditempati partai PKS dengan perolehan suara sebesar 8.206.955 suara (7,88%), urutan kelima ditempati partai PAN dengan perolehan suara sebesar 6.254.580 suara (6,01%).

Urutan keenam ditempati partai PPP dengan perolehan suara sebesar 5.533.214 suara (5,32%), urutan ketujuh ditempati partai PKB dengan perolehan suara sebesar 5.146.122 suara (4,94%).

Urutan kedelapan ditempati partai Gerindra dengan perolehan suara sebesar 4.646.406 suara (4,46%), dan urutan kesembilan ditempati partai Hanura dengan perolehan suara sebesar 3.922.870 suara (14,03%). Dengan total suara sah nasional berjumlah 104.099.785 suara (www.pemiluindonesia.com).

Berdasarkan survei LSI yang dirilis kemarin (17/06), PG berada di posisi pertama sebagai partai pilihan responden dengan 20,9 persen. Menyusul PDIP dengan dukungan 14 persen dan Demokrat dengan 11,3 persen (detiknews-18/06/2012).

Akan tetapi hasil yang cukup menggembirakan tersebut belum diikuti oleh elektabilitas ARB sebagai kandidat presiden. Dari tiga nama yang dirilis, Ketua Umum PG hanya berada di urutan ketiga setelah Megawati Soekarno Putri dan Prabowo Subianto.

Hasil ini jelas dapat terbaca bahwa peta untuk mencapai kursi presiden sangat kompetitif dan figure calon sangat dominan/mempengaruhi, dengan demikian PG harus terus menerus mempertahankan dan melakukan upaya, seperti:

  1. Bekerja keras dalam mendongkrak elektabilitas ARB, —mengawalinya dengan memenangkan perolehan suara di pemilu legislatif nanti, sebagai bentuk perwujudan nyata. Sebab hasil survei tentu saja akan terus bergerak dinamis (naik-turun) sesuai penilaian masyarakat berdasaran kinerjanya dan sudah barang tentu hasil survei bukanlah hasil pasti yang diperoleh pemilu 2014;
  2. Melakukan pendekatan politik kepada partai lain yang satu visi agar tidak tejadi koalisi gemuk dan dapat menjadi duri dalam daging di kemudian hari;
  3. Mengantisipasi sekecil mungkin, segala persoalan yang memiliki potensi menurunkan elektabilitas partai dan ARB sendiri sebagai Capres di mata rakyat Indonesia, khususnya mengenai masalah Sidoarjo yang dapat digunakan oleh lawan politik untuk menjatuhkan ARB; dan
  4. Memilih wakil presiden yang dapat mendongkrak elektabilitas ARB yang tentunya disertai dengan integritas dan kemampuan yang baik.

Ibarat Hidangan Masakan dan Suasana

Jika Capres diibarat hidangan makanan, maka yang dibutuhkan untuk memperoleh masakan yang nikmat dan disukai—selain bahan baku yang berkualitas adalah dibutuhkannya Tim Peracik bahan baku yang handal dan bekerja dengan tulus, menjadikan pekerjaannya itu sebagai sebuah pengabdian untuk menyenangkan orang lain,bukan semata-mata kepentingan partai, melainkan kepentingan seluruh bangsa Indonesia.

Di sinilah selanjutnya kader partai memainkan perannya, mesin partai berikut ornamennya sesungguhnya tak ubahnya tim dapur yang harus mampu mengolah bahan baku makanan menjadi masakan yang nikmat dan disukai banyak orang.

Penulis berpendapat figur Cawapres pendampingnya nanti sangat penting bagi ARB untuk dapat memenangkan pemilu 2014 yang akan datang. Jika Capres tadi diibaratkan hidangan makanan, maka Cawapres adalah 'suasana' yang menjadi bagian penting untuk kenikmatan hidangan makanan tersebut. Ilustrasinya sederhana saja, seperti menyajikan menu pisang goreng hangat di pagi hari.

Artinya, Cawapres yang dibutuhkan ARB adalah Cawapres yang memiliki karakter yang berbeda dengan ARB yang masyarakat kenal sebagai pemimpin dan pengusaha tangguh.

Kriteria Cawapres yang dibutuhkan ARB adalah yang memiliki integritas, bersih, dikenal oleh masyarakat luas, berasal dari suku jawa (isu ini masih sangat strategis), berpengalaman, mengerti persoalan bangsa, mengerti hukum dan konstitusi ini penting karena Indonesia saat ini sangat bermasalah dalam penyelanggaraan hukum dan penegakan hukum.

Media sudah mulai berandai-andai siapa cawapres yang pantas mendampingi ARB, ada beberapa nama yang muncul diwacanakan,seperti Mahfud MD (Ketua MK), Pramono Edhie Wibowo (Ipar presiden SBY), Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Edi Baskoro Yudhoyono (Sekjen Partai Demokrat).

Namun siapakah di antaranya yang selanjutnya akan mendampinginya dalam Pilpres 2014 nanti? Akan sukseskah langkah PG di 2014?

Jawabannya tentu masih bergantung dari hasil kinerja Tim "dapurnya". Membangun Indonesia dari Desa itu jargon yang tepat untuk persoalan bangsa saat ini.

*Penulis adalah Ketua DPP SAPMA/SATPEL AMPI (GPMP)


Afan Muharram, SE. MM
Jl. Ampera Raya, Komp. IPDN. C19 Jakarta Selatan
afanamci@yahoo.co.id
08176449461

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads