Dunia Remaja dan Kucing Garong

Dunia Remaja dan Kucing Garong

- detikNews
Jumat, 02 Des 2011 14:53 WIB
Dunia Remaja dan Kucing Garong
Jakarta - Belum genap satu bulan dari tewasnya seorang siswa SMA Pangudi Luhur, Raafi Aga Winasya Benjamin (17), ditusuk di Kafe Shy Rooftop, Kemang Jakarta Selatan (7/11/2011). Dan Hendrian (16), siswa STM Boedi Oetomo, Jakarta Pusat (24/11/2011).

Sebuah berita kematian kembali disajikan di halaman utama sebuah surat kabar di Jakarta. Ironinya diantara tiga orang pelaku kali ini, melibatkan siswa SD dan SMP. Berawal dari aksi mencoret nama sebuah geng, siswa SD Ciracas, Jakarta Timur, terlibat pembunuhan siswa SMPN 257 (30/11/2011). Demikianlah segelintir kejadian, dari sekian banyak berita kekerasan anak-anak/ remaja di Ibu Kota Jakarta.

Dalam tulisan saya yang berjudul, "Hilangnya Ruang Kontrol Pada Generasi Baru", yang dimuat di kanal opini, di sebuah media online beberapa waktu lalu, seolah merupakan rangkaian kronologis dari klimaks kejadian kekerasan yang melibatkan anak-anak dan remaja di Indonesia, termasuk di Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam tulisan tersebut dikatakan; Ambil contoh sebuah pengamatan rutin yang saya lakukan selama tiga bulan, pada kehidupan anak-anak dan remaja di beberapa daerah di Jakarta, seperti: Johar Baru, Jakarta Pusat, Warakas, Jakarta Utara, dan Cakung, Jakarta Timur, dalam kehidupan mereka terdapat sebuah "ruang kosong" yang begitu rawan.

Dan ruang kosong itu merupakan kekosongan waktu yang dilewati pada kehidupan anak-anak dan remaja yang tidak mendapatkan pengawasan dan pengawalan dari orang tua. Waktu tersebut mereka (anak atau remaja) isi dengan full untuk bermain. Jika di rumah dan sekolah mereka mendapatkan pengawasan langsung dari orang tua dan guru, maka di dalam ruang kosong ini, mereka tidak memiliki control (detiknews.com 13/11/2011).

Artinya, sama sekali lepas dari ruang pengawasan orang tua dan guru. Sedangkan kondisi seperti ini jelas merupakan titik rawan dalam proses pembentukkan karakter dan prilaku anak-anak dan remaja untuk menjadi dewasa/muda. Saya pikir keadaan seperti ini tidak jauh berbeda dengan kota-kota atau daerah lain di Indonesia. Hanya saja mungkin "ruang kosong" itu mereka manfaatkan dalam bentuk kegiatan yang berbeda.

Kriminolog Lia Sutisna Latif, mengakui bahwa tingkat stres dan frustasi seseorang bisa berpengaruh pada keputusan seseorang untuk melakukan tindakan nekat, seperti menganiaya orang lain, bahkan hingga menyebabkan kematian. Namun ada juga pesoalan pola asuh anak saat masih kecil yang mendorong seseorang mudah melakukan kriminalitas (Kompas 7/11/2011).

Dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya tingkat terpenting dalam proses membentuk karakter dan prilaku generasi baru pada sebuah bangsa adalah; masa dimana proses menuju dewasa itu dilewati. Sebab setelah menjadi dewasa dan tuaβ€”Si anak tentunya telah memiliki kemapanan berpikir untuk bertindak baikβ€”dalam menentukan jalan kehidupannya sendiri.

Memiliki Dunianya Sendiri

Balita, kanak-kanak dan remaja adalah rentetan panjang yang tidak akan lepas dari perjalanan manusia menuju kehidupan dewasa dan tua. Artinya, kemapanan berpikir dan bertindak tidak serta-merta datang begitu saja pada manusia dewasa dan tua. Kemapanan itu tumbuh seiring dari rentetan panjang setiap masa.

Dari tiap-tiap masa yang disebutkan tadi, memiliki dunianya sendiri-sendiri. Dan hanya dapat dipahami oleh pelaku masanya masing-masing. Kalaupun ada yang mengaku paham atau mengerti, itu tak lebih hanya menerka-nerka kehidupan dari tiap-tiap masa tersebut.

Orang dewasa dan orang tua, hanya sanggup menerka-nerka kehidupan masa kanak-kanak dan remaja. Begitu juga sebaliknya. Bagi orang dewasa dan tua, stelan kemeja mungkin baik. Tapi bagi remaja gak gaul. Dan sebaliknya, celana jeans robek-robek bagi remaja keren, tetapi bagi manusia dewasa dan tua tidak sopan.

Begitulah sedikit contoh perbedaan dunia mereka. Hanya saja ketika masa kanak-kanak dan remaja mereka mencari panutan sikap untuk mereka teladani dari manusia dewasa dan tua. Panutan itulah yang memberikan inspirasi mereka dalam menjalankan roda kehidupannya.

Panutan sikaplah yang sesungguhnya mereka butuhkan. Bukan sekedar mengurusi pakaian, yang tak lebih dari topeng belaka dalam dunianya.

Panutan

Dunia kanak-kanak adalah dunia baru bagi balita. Dunia remaja adalah dunia baru bagi kanak-kanak. Masing-masing mencari dan mendapatkan panutan sesuai keberuntungan 'nasib'. Panutan itu mereka dapatkan dari lingkaran kehidupan keluarga dan lingkungannya.

Mereka tidak bisa menghindar apalagi memilih, dari dan pada siapa panutan itu datang dan menjadi inpirasi yang harus mereka teladani. Mereka lugu. Mereka 'buta'. Dan mereka akan menelan bulat-bulat apa yang mereka dapatkan tanpa sanggup berpikir benar atau salah. Sementara dunia dewasa dan dunia tua adalah dunia 'kesombongan'. Dunia yang sanggup mencari dan mendapatkan panutan sesuai apa yang diinginkan.

Kemapanan dalam berpikirlah yang menjadikan manusia dewasa dan tua mampu melakukan itu. Sementara kwalitas kemapanan berpikir manusia dewasa dan tua Indonesia agar memiliki karakter dan mental spiritual kuat, sangatlah ditentukan oleh bagaimana mereka melewati masa balita, kanak-kanak dan remaja di lingkungannya.

Solidaritas Yang Tinggi

Dari tiap-tiap masa itu memiliki kadar solidaritasnya masing-masing. Dan tentunya kita bersepakat bahwa solidaritas tertinggi dari tiap-tiap masa itu adalah solidaritas masa remaja. Mengapa bukan dunia dewasa dan tua yang telah memiliki kemapanan berpikir?

Sebab dunia mereka tak lebih dari dunia oportunis. Dunia yang hanya sedikit memiliki solidaritas. Itu pun karena sempat mengingat Tuhan. Selebihnya adalah kesadaran baru yang tumbuh untuk membela kepentingan uang dan kepentinganya sendiri. Tak salah memang. Karena kedewasaan telah melahirkan kemapanan berpikirβ€”hingga dapat membedakan jalan benar dan salah. Menjadikan makna solidaritas itu dibatasi oleh salah dan benar.

Tetapi apakah mereka mau mengawal pertumbuhan masa kanak-kanak dan remaja di lingkungannya demi solidaritas sebagai manusia? Saya pesimis untuk menyatakan "Iya", saat kenyataanya jauh dari harapan.

Berbeda dengan dunia remaja. Dunia yang melahirkan peluang 'kegilaan' kita memuncak. Dunia yang mengawali keluguan, kelucuan dan keberanian atas tindakan kita, tanpa sempat atau pernah berpikir tentang resiko.

Kita sanggup memilih atau meninggalkan kekasih, hanya karena pengaruh teman. Kita sanggup berkelahi bertaruh atau menghilangkan nyawa seseorang, hanya karena membela teman atau kelompok. Sebab itu tidak heran jika kita mendengar, melihat atau membaca sebuah kejadian kekerasan yang dilakukan remaja demi kata solidaritas. Solidaritas yang semu.

Di dunianya, mereka tidak memiliki panutan yang mengawasi dan mengawal prilaku dan tindakan mereka sehari-hari secara dekat. Dimana kita manusia-manusia dewasa dan tua?

Terbatas Ruang dan Waktu

Para guru di sekolah hanya mampu dan terbatas oleh ruang dan waktu. Orang tua selalu terbatas oleh beban yang begitu mengikat. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi adalah pilihan mutlak yang tidak dapat dihindari. Terlebih lagi bagi keluarga miskin dan tidak mampu yang hidup di tengah lingkungan padat dan kumuh.

Mereka terpaksa mempasrahkan anak-anak mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan. Sementara stakeholder pemerintah dan masyarakat hanya diam, termangu dan tak banyak membantu di wilayah itu. Seolah malah membiarkan mereka membentuk prilakunya sendiri.

Tidak peduli mereka bersahut-sautan melontarkan kata-kata kotor di jalanan sambil menggiring bola. Tidak peduli apa saja yang mereka lakukan untuk mengisi kekosongan waktu mereka di pinggir jalan atau warnet bermain games online yang mendoktrin kekerasan pada mereka, atau lain sebagainya. Mereka tidak peduli anak-anak dan remaja akan jadi apa mereka nantinya.

Jika terus begini, maka manusia dewasa dan tua kita tak lebih seperti kucing garong. Yang akan membunuh anak kucing jantanβ€”meskipun itu merupakan buah perbuatannya sendiri, karena takut akan mengancam posisinya sebagai penguasa dan pejantan dunia perkucingan.

Agar kekerasan tidak terus terulang dan terulang lagi, maka solidaritas nyata (positif) pada dunia anak-anak dan remaja di Indonesia harus dibangun. Dan itu hanya bisa ditumbuhkan secara kolektif oleh dengan terlibatnya secara langsung manusia-manusia dewasa dan tua, di tengah kekosongan waktu anak-anak dan remaja. Kecuali kita memang kucing garong!


Ichdinas Shirotol Mustaqim
Jl. Percetakan Negara V No. 2 DKI Jakarta
dinaz_zone@yahoo.co.id
085221051381, 08567190810

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads