Dengan adanya banyaknya survei, masyarakat menjadi semakin banyak disuguhi informasi-informasi tentang realitas politik nasional. Tinggal bagaimana masyarakat "mengunyah dan menelan" informasi itu secara cerdas.
Rilis yang hampir serentak dengan hasil yang berbeda-beda antara satu dengan lembaga survei lainnya sangat mengundang pertanyaan publik. Klaim dari semua lembaga survei bahwa survei yang dilakukan telah menggunakan metode yang benar, itu sah-sah saja. Toh, mereka merupakan orang yang berkompetensi dibidangnya atau mungkin akademisi yang mempelajari dan memahami ilmu politik secara mendalam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Survei memang tidak bisa jadi tolak ukur kepastian kemenangan seseorang atau parpol dalam pemilu. Survei yang dilakukan saat pemilu masih 3 tahun lagi hanya bisa memetakan kekuatan elektabilitas dan dinamika politik hari ini saja.
Pilihan orang-orang yang menjadi objek survei pun hanya sesaat karena tergantung pada realitas politik yang dirasakan langsung pada saat survei dilakukan. Independensi dan akuntabilitas survei sangat penting sehingga proses dan hasil survei tidak terkontaminasi keinginan kotor pihak-pihak tertentu.
Hasil survei yang baru saja dirilis sangat mungkin membuat sumringah tokoh yang namanya ditempatkan pada jajaran teratas capres 2014. Namun, ada juga elite parpol yang menanggapi sinis hasil survei yang mungkin dianggap memojokkan tokoh atau parpolnya.
Sesungguhnya survei yang dirilis gratisan ke publik bisa digunakan sebagai bahan koreksi dan pemetaaan kekuatan elite parpol untuk menambalkan kekurangan dalam menghadapi kompetisi sesungguhnya pada pileg dan pilpres 2014.
Ada hal yang paling sensitif untuk dibicarakan dari hasil survei yang dirilis ke publik, yakni pendanaan survei. Soal pendanaan bisa menjadi perdebatan jika dana yang digunakan digelontorkan oleh pihak-pihak tertentu untuk membuat hasil survei yang menggiring opini yang menguntungkan sang penyandang dana.
Atau mungkin, survei dibuat untuk menggiring opini negatif kepada pihak-pihak tertentu sehingga sang pemesan memperoleh keuntungan elektabilitas. Keterbukaan dan kejujuran soal dana survei inilah yang akan membuat publik mudah menilai secara rasional independensi hasil survei lembaga tersebut. Positifnya lagi publik akan percaya terhadap lembaga survei bersangkutan sehingga istilah lembaga survei "abal-abal" bisa tersanggah dengan sendirinya.
Pengumuman hasil survei yang diumbar ke publik melalui media massa ditakutkan akan berdampak masif ke publik. Perlu diingat, pemilih aktif di Indonesia masih didominasi pemilih yang berpendidikan rendah antara SD-SMP yang daya nalar dan pemahaman terhadap hasil survei tidak terlalu rasional dibandingkan pemilih berpendidikan tinggi.
Lembaga survei pun sebaiknya tidak mudah mengumbar hasil survei yang akan menyesatkan publik dengan cara penyampaian yang mendorong publik memilih capres atau parpol tertentu. Bukan rahasia lagi kalau lembaga survei juga sering bermain sebagai konsultan politik dari tokoh atau parpol tertentu, jadi cara-cara tidak fair hanya akan merusak nilai-nilai demokrasi dan membodohi masyarakat Indonesia.
Seberapa pun besar popularitas dan elektabilitas dari seseorang atau parpol yang dihasilkan oleh survei tetap saja penentuannya sangat bergantung pada partisipasi pemilih pada saat pemilu. Catatan buruknya, pada 2009 jumlah golput diperkirakan lebih dari 50-an juta dari 170-an juta pemegang hak pilih.
Nah, dengan adanya hasil survei, para elite parpol memiliki data yang relatif valid untuk menyiapkan berbagai strategi politik dalam meraih simpati publik untuk memilih mereka. Elite parpol juga dituntut berbuat mulia dengan berkampanye membujuk para pemilih untuk datang ke TPS sehingga partisipasi pemilih dalam pemilu meningkat.
Parpol pun tidak perlu takut dengan hasil survei yang kurang baik karena pada 2009 jumlah swing voter diperkirakan mencapai 30-an%. Disinilah parpol harus cerdas menggarapkan kavling tak bertuan bernama golput dan swing voter dengan menjual program kerja yang menarik pemilih untuk memperoleh deposito suara yang lebih banyak lagi.
Survei hari ini dan pemilu 2014 adalah waktu yang berbeda. Tentu hasilnya sangat mungkin berbeda pula. Ketetapan hati pemilih dalam pemilu salah satunya ditentukan oleh fluktuasi politik nasional secara keseluruhan yang dinamis mengikuti kinerja para politikus, program kerja yang ditawarkan, manuver dan peristiwa politik yang terjadi sampai saat pemilu tiba pada 2014.
Fahmi Wahyu Bahtiar
Perumahan Puri Delta Kencana Blok N No. 3 Bogor
f.w.ayyu@gmail.com
082110517046
(wwn/wwn)











































