Haji Sunnah versus Kemiskinan

Haji Sunnah versus Kemiskinan

- detikNews
Selasa, 18 Okt 2011 14:16 WIB
Haji Sunnah versus Kemiskinan
Jakarta - Kloter demi kloter keberangkatan calon jama'ah haji Indonesia telah diberangkatkan ke tanah suci, Makkah Al Mukarramah, sejak pekan silam.

Bangsa Indonesia patut berbangga. Sebab, jumlah jamaah haji Indonesia ternyata terbanyak bila dibanding negara lain. Posisi itu paling tinggi di atas India dan Turki.

Ironi Antrian Haji

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dilansir DetikNews.com (23/06), jumlah jamaah haji tahun 2011 mencapai angka sekitar 200 ribu peserta. Peringkat paling atas diwakili Jakarta dengan jumlah 60.197 kemudian disusul Surabaya 40.398 orang.

Antuisiasme muslimin Indonesia untuk berhaji sangatlah tinggi, sementara kuota yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi sebagai Khadim al Haramain (pengurus kota Makkah dan Madinah), tidak seperti yang diharapkan. Inilah yang menyebabkan antrian panjang untuk bisa melaksanakan ibadah tersebut.

Provinsi Aceh, misalnya. Menurut data setahun terakhir, daftar tunggu jamaah calon haji Aceh kini mencapai 38.000 orang. Artinya, seorang jamaah haji yang ingin menunaikan ibadah haji dari Aceh harus mengantre selama sepuluh tahun untuk menunaikan rukun Islam ke lima tersebut.

Inilah yang memunculkan ironi perbedaan kesempatan antara mereka yang bergelimang harta dengan orang kebanyakan yang kekurangan harta, namun tetap berusaha pergi ke sana (Masjidil Haram).

Bagi yang bergelimang harta, boleh jadi, bisa pergi haji adalah suatu hal biasa. Sebagian mereka, ada yang malah bolak-balik naik haji maupun umrah tiap tahunnya. Apalagi ada celah memanfaatkan sarana haji plus, meski biayanya lebih dari 70 juta.

Namun lain halnya dengan orang Islam di Indonesia yang strata sosial menengah ke bawah. Untuk bisa naik haji, mereka harus berjuang keras. Menyisakan sedikit demi sedikit rezeki mereka untuk ditabung sebagai biaya naik haji.

Setelah sekian lama, kesiapan finansial sudah mencukupi, giliran kesiapan fisik yang kurang mendukung. Tubuh sudah renta dan sakit-sakitan.

Bila kita perhatikan, mayoritas jamaah haji Indonesia berusia di atas 50-an tahun. Bahkan pernah diberitakan Serambi Indonesia bahwa, tahun ini ada dua orang jamaah haji asal Aceh berusia 111 tahun.

Kondisi fisik sudah kurang mendukung ditambah lagi dengan pelayanan yang kurang maksimal oleh pemerintah, baik pelayanan catering, pemondokan, transportasi, kesehatan, dan lain-lain. Inilah di antara sebab-sebab meningkatnya angka kematian jamaah haji tiap tahun.

Ironi Kemiskinan

Negara ini sudah 66 tahun merdeka, namun kemiskinan masih saja tinggi. Berbagai program pengentasan kemiskinan dari dulu hingga sekarang terus-menerus dilakukan.

Demikian pula dengan dana yang digelontorkan untuk menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas perekonomian, jumlahnya sekitar Rp 95 triliun pada APBN 2011. Namun, tetap saja hal ini dinilai belum efektif.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir bahwa pada 2010 sekitar 31 juta jiwa penduduk masih dalam keadaan miskin (13.33 persen). Hal baiknya adalah jumlah ini menurun dibandingkan 2009 yang mencapai 32,5 juta jiwa (14,15 persen). Namun, hal buruknya justru terletak pada aspek fundamental, yaitu perbedaan indikator kemiskinan.

World Bank melansir bahwa seseorang dikatakan miskin ketika tidak sanggup memenuhi kebutuhan kalori standar untuk tubuhnya (2.000-2.500 kalori per hari), di mana jika dikonversi ke dalam dolar, dibutuhkan minimal satu dolar AS per hari atau 30 dolar AS per bulan (sekitar Rp 270 ribu).

Namun, BPS menggunakan indikator lebih rendah, yaitu Rp 211.726 per kapita per bulan. Belum lagi masalah perhitungan lain, di mana seseorang yang telah bekerja sudah tidak dianggap miskin. Padahal, bekerja bukan jaminan semua kebutuhannya terpenuhi.

Terlepas dari perbedaan indicator kemiskinan tersebut, satu hal yang pasti bahwa 32,5 juta jiwa dari total warga Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini adalah miskin.

Sedangkan baginda Rasulullah SAW sejak lima belas abad silam telah mewanti-wanti bahwa betapa kemiskinan itu seringkali berujung pada kekafiran, kada al faqru an yakuna kufran.

Urgensi Fiqih Prioritas

Pada prinsipnya memang tidak diragukan lagi bahwa ibadah haji merupakan syi'ar Islam yang harus diagungkan dengan menunaikannya sebagai kewajiban sekali dalam seumur hidup, ini merupakan ijma' ulama yang tidak diperselisihkan lagi.

Tujuan utama pelaksanaan ibadah haji ataupun umrah baik untuk pertama kali atau pun berkali-kali adalah tercapainya maqam ibadah yang mabrur melalui keteguhan niat yang ikhlas untuk mencari ridha Nya semata.

Yang menjadi catatan penting disini adalah bila ibadah haji atau ibadah lainnya dilakukan dengan melanggar kaidah syari'ah dalam hal skala prioritas amal dan atau mengabaikan prinsip kemaslahatan yang bersifat komprehensif-universal.

Al Qur'an secara tegas menggariskan skala prioritas bahwa aktivitas yang berorientasi pada perjuangan mengatasi berbagai krisis sosial dan problematika umat serta penegakan kebenaran itu lebih urgen daripada sekedar ritual haji, "Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang berhaji dan mengurus Masjidil Haram kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah?………." (at Taubah: 19-21).

Syaikul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan, jika kerusakan yang ditimbulkan lebih besar dibandingkan dengan kemaslahatan yang diperoleh, maka pelaksanaan suatu amalan tidak lagi diakui sebagai sesuatu yang diperintahkan atau wajib, bahkan justru dilarang atau haram (Majmu' Fatawa, Vol.28; 129).

Secara khusus Syaikh Yusuf al Qaradawi menulis buku "fiqh awlawiyyah; dirasah jadidah fi dhau al Qur'an wa al sunnah (1995)". Al Qardhawi secara luas menerangkan tentang urgensi fiqih ini untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.

Ketika kondisi kaum muslimin sedang kesulitan dan sangat membutuhkan dana, maka menginfakkan harta adalah lebih baik, dan bisa jadi merupakan suatu hal yang wajib dilakukan. Contohnya: ketika saudara-saudara kita mengalami musibah bencana alam.

Menginfakkan harta tidak terbatas pada saat ada bencana. Melihat kenyataan bahwa masih banyak saudara kita yang hidup kesulitan ekonomi, masih banyak anak-anak yang tidak mengenyam bangku pendidikan karena tidak adanya biaya, dan masih banyak yang mengalami gizi buruk karena keterbatasan ekonomi, maka menyisihkan kelebihan harta untuk mereka jelas menjadi amalan yang sangat baik, bahkan lebih baik dari mengutamakan keselamatan diri pribadi.

Ada satu kisah yang bisa kita baca dari kitab Ihya', karya Imam Al-Ghazali dari Imam Bisyr ibnu Al-Haris Al-Hafi -dia termasuk di antara lelaki sholeh dan wara' di zamannya- dia didatangi seseorang. Orang itu berkata, "Saya memiliki dua ribu dirham, dan dengan uang itu aku ingin melaksanakan haji."

Bisyr ibnu Al-Haris berkata kepada orang itu, "Apakah engkau telah melaksanakan haji sebelumnya?" Ia menjawab, "Ya". Maka beliau berkata, "Maukah engkau kutunjukkan sebuah pekerjaan yang lebih baik daripada itu? Engkau mendapatkan pahala sedangkan engkau tetap berada di negerimu?"

Ia berkata, "Apakah itu?" Ibnul Harits berkata, "Engkau pergi dan berikan kepada anak yatim segini, kepada janda segini, kepada fakir segini, dan kepada ibnu sabil segini. Akhirnya, engkau telah membagikan uang dua ribu dirham itu, dan engkau telah memenuhi hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan orang lain, dan engkau juga telah melapangkan manusia dari kesusahan."

Kemudian beliau berkata lagi, "Ini lebih mulia bagimu daripada haji tathawwu (sunnah)". Namun orang itu bertanya kepadanya kembali, "Akan tetapi hatiku lebih cenderung ke Baitullah." Maka beliau berkata, "Jika suatu harta terdapat di dalamnya keraguan, maka pemiliknya enggan menggunakannya kecuali bila menuruti hawa nafsunya, dan itulah hawa nafsumu".

Begitulah hendaknya kita pandai dalam menentukan prioritas amalan kebajikan, bahkan dalam ibadah personal sekalipun. Semoga.

*Penulis adalah delegasi khusus Pemuda Aceh & panelist speaker dalam "1st Conference on Cultural Cooperation among the Muslim Youth", Turki, 2005


Ahmad Arif
Jl. Tuan Dipakeh II No. 1 Jaya Baru, Banda Aceh
banta_lw2@yahoo.com
081360295521

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads