Psikologi Tradisi Mudik

Psikologi Tradisi Mudik

- detikNews
Senin, 05 Sep 2011 13:44 WIB
Psikologi Tradisi Mudik
Jakarta - Mengapa tradisi mudik yang menyeluruh di tanah air menjadi peng-akhir dari puasa Ramadhan di Indonesia? Disiarkan semua media massa dan dijadikan "ritual tahunan" yang euforia.

Pertanyaan ini sudah lama mengusik para peneliti agama, sosiolog bahkan psikolog. Tetapi belum ada penjabaran yang memuaskan dari sisi psikologis.

Kita tahu, Ramadan adalah bulan puasa dan bulan penuh perjuangan. Masuk dalam bulan ini artinya masuk dalam ranah perjuangan dan ujian untuk menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya (seperti makan, minum, hubungan Intim, gibah, fitnah dan sebagainya) dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan disertai niat ibadah Lillaahita’ala seraya mengharapkan ridlo-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan taqwa kepada-Nya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagaimana ibadah ritual lainnya, fokus utama ibadah puasa adalah manusia yang beriman dan bertakwa (manunggaling kawula gusti). Meneladani sifat-sifat kerasulan bahkan ketuhanan sekaligus.

Tetapi, perjuangan ini bukan tradisi Islam saja sebab, Allah mewajibkan seluruh kaum beriman untuk menjalankan perjuangan dan puasa, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah, ayat 183, yang artinya: (Wahai sekalian orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada mereka sebelummu, agar kamu bertaqwa).

Ini menunjukkan bahwa puasa merupakan bentuk perjuangan umat-umat sebelum Islam. Artinya, perjuangan dalam bentuk berpuasa menjadi perjuangan universal milik semua kaum beriman.

Pendapat para ahli mengatakan, perjuangan dalam bentuk puasa merupakan salah satu bentuk ibadat yang paling purba dan mula-mula serta yang paling luas tersebar di kalangan umat manusia. Semua umat bertuhan selalu menyediakan ritual puasa. Bagaimana puasa itu dilakukan, dapat berbeda-beda dari satu umat ke umat yang lain, serta dari satu wilayah ke wilayah yang lain.

Bentuk puasa yang umum selalu berupa sikap menahan diri dari makan dan minum serta dari pemenuhan kebutuhan biologis bahkan dari berbicara. Menahan diri adalah usaha pertobatan yang menghantarkan manusia pada sifat kesucian, sifat ketuhanan.

Berpuasa dengan demikian intinya adalah bertaubat. Sebagaimana kata Rasul, inti ibadah adalah taubat dan barangsiapa yang sengaja mengurangi imannya dan tidak mau bertaubat, maka benar-benar dia telah dengan sengaja membuat kemurkaan Tuhannya.

"Barangsiapa yang sengaja membuat kemarahan Tuhannya, maka benar-benar dia telah mengkufuri nikmatNya. Barangsiapa yang bertaubat dan memperbaiki kelakuannya, dan kembali kepada Tuhannya, maka sesungguhnya Allah adalah Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang, Maha Pengampun lagi Maha Dermawan" (HR Bukhari).

Karena itu, perjuangan yang panjang selama sebulan pastilah menghabiskan tenaga, pikiran bahkan perasaan. Setelah berjuang sebulan penuh, jiwa akan lelah sekaligus bahagia.

Raga akan kurus sekaligus sehat. Perasaan akan tanak dan penuh sekaligus bahagia. Dengan ragam seperti itu pantaslah jiwa-raga dan rasa membutuhkan oase dan terminal untuk berbagi. Karena itu, mudik dan berlebaran menjadi terminal yang dituju, tempat yang diharapkan bagi pemenuhan berikutnya.

Mudik artinya pulang. Lebih luas adalah menghadiri upacara keluarga setelah sebulan penuh berpuasa. Secara psikologis, setiap orang ingin berjumpa dengan masa lalunya, tanah kelahirannya, dan keluarga besarnya. Romantisme ini disebut dengan reuni.

Dengan reuni, seseorang seakan sedang kembali. Gerak kembali adalah gerak abadi yang selalu laten di dalam hati. Begitulah reuni, sebuah tradisi yang luar biasa enigmatik sehingga banyak yang memahaminya sebagai candu tanpa bentuk konkret, obat tanpa resep kedokteran, imajinasi tanpa bukti dan kegandrungan bahkan kelanggengan (kerinduan amat dalam) tanpa ujung.

Mudik adalah reuni dan reuni adalah perjalanan fisik sekaligus psikis, material sekaligus immaterial, intelektual sekaligus spiritual. Di sinilah manusia mencoba menemukan kemanusiaannya yang sudah lama ia tinggalkan. Rumah dan kampung halaman kemudian menjadi seperti tiruan sorga yang menunjukkan bahwa manusia rindu terhadap realitas yang sulit dipahami tetapi akrab.

Keyakinan ini dapat ditemukan dalam semua kebudayaan-kebudayaan manusia dan bukan sekedar daerah netral melainkan suatu lanskap atau teritori yang akan diiklankan dan ditunjukkan pada keturunan dan manusia selanjutnya.

Mudik pada akhirnya menjadi kanal untuk saling berbagi "kemenangan," kegembiraan, dan pelepasan penat yang takberkesudahan. Lebih jauh saling bermaafan dan sungkeman, menjalin persahabatan dan silaturrahim dengan melepas kangen dan kerinduan mendalam yang telah ditumpuk bertahun bahkan berwindu di rantau orang.

Sebab, merantau di Indonesia adalah mencari nafkah dan memadatkan waktu. Menumpuk waktu dalam kesendirian tanpa sanak, kadang di kota adalah menjumlahkan keterasingan. Suasana persaingan dan perasaan keterasingan inilah biang merosotnya rasa kekeluargaan dan pendorong meningkatnya derajat kekangenan.

Persaingan dan keterasingan di urban seperti menjadikan manusia menjadi aneh dan "tersesat" dari tradisi besar masa lalunya. Ia menjadi sendirian dan dalam lubuk hatinya yang terdalam mengalami kesengsaraan sambil linglung antara mengikuti tradisi masa lalu yang masih terpatri atau terus berjalan dalam rute yang belum jelas dan tak terpeta-kan; tanpa mobil dan sopir, tanpa navigator dan bensin yang cukup, tanpa kawan yang jelas dan musuh yang tak abadi.

Dalam keterasingan dan "kekalahan", mudiklah obatnya. Pulang kampunglah diagnosanya. Dan mencari sandaran pada orang tua serta saudaralah tenaga baru didapatkan. Akhirnya, dunia mereka adalah dunia kering yang perlu disuburkan kembali dengan mudik. Dunia mereka akan menjadi luka bernanah apabila tanpa adanya kepulangan yang dirayakan sekaligus dipaksakan.

Karena itu, tugas kaum beriman sesungguhnya memperbaiki jiwa yang sepi dan duka serta dunia yang luka dan asing. Jika kaum beriman tidak mampu melakukannya, tidak ada gunanya suatu iman, tidak ada manfaatnya suatu agama, mubazirlah perjuangan dan puasa.

Dengan demikian, apa yang dibutuhkan dunia sekarang adalah bukan sekadar iman, bukan hanya agama, juga bukan sekadar dogma kaku tapi belas kasih dan tindakan yang menunjukkan penghormatan pada nilai sakral seluruh mahluk hidup; siapapun mereka, terutama yang luka-lukanya menganga.

Di luar itu, kita semua dan kaum beriman juga harus berani jujur mengakui bahwa mungkin di luar dunia tidak ada apa-apa. Mungkin bukan agama obatnya, juga bukan iman terapinya, melainkan sikap yang jelas pada penghormatan kemanusiaan.

Karena itu, mudik dan acara romantisme keluarga harus dijadikan reuni akbar walau dibayar dengan mahal dan diritualkan dengan berhimpit dan berdesakan tetapi tetap harus dengan sikap empati sebagai usaha mendapatkan "rasa kemanusiaan yang telah dirampas oleh urban" dan tidak didapatkan pembelaannya dari agama, iman dan dogma.

Di sini, mudik baru mendapatkan pemaknaannya secara subtansial, bukan sekadar tradisi tahunan tetapi juga sebagai pemuas psikologis manusia.

*Penulis adalah Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU)


Abdul Ghopur
Jl. Kramat Raya No 164 DKI Jakarta
ghopur_fksp@yahoo.com
081314214341

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads