Menjamurkan Kembali Budaya Literasi

Menjamurkan Kembali Budaya Literasi

- detikNews
Kamis, 25 Agu 2011 12:55 WIB
Menjamurkan Kembali Budaya Literasi
Jakarta - Jika menyoal dunia literasi dalam konteks kekinian tak ubahnya dengan kita berbicara mengenai budaya malu dalam lingkup negara kita.

Kenapa demikian? Sebab bila kita telisik bahwa bangsa kita yang dulunya tersohor dengan adat ketimuranya seakan telah luntur. Bagaimana tidak, jika budaya sopan santun, tenggang rasa, saling menghormati dan lainya hampir sirna dan hanya segelintir orang saja yang masih setia menerapkanya.

Atau singkatnya budaya itu telah digantikan semua oleh budaya tak tau malu. Begitu halnya dengan Budaya literasi. Dunia literasi di negara kita saat ini bisa diibaratkan seperti seekor katak yang sedang terperosok dalam lubang yang cukup dalam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sehingga sulit untuk bisa naik ke permukaan walaupun katak itu bisa meloncat-loncat. Atau dengan kata lain tengah mengalami dekadensi yang cukup signifikan. Hal ini bisa dilihat disekitar lingkungan tempat tinggal kita yang cenderung mengabaikan itu semua.

Perihal membaca dan menulis atau literasi diibaratkan hanya omong kosong belaka. Apalagi jika yang notabenenya dalam keseharian tidak bersinggungan langsung dengan dunia pendidikan tentu acapkali menafikan.

Sebab bagi masyarakat khususnya di daerah pinggiran atau pedesaan yang terpenting adalah mencari uang. Entah karena tidak sempat atau memang tidak mau menyempatkan jadinya membaca dan menulis menjadi asing bagi mereka.

Sehingga tatkala sudah asyik dengan kesibukan atau pekerjaanya sehari-hari maka mungkin saja perihal baca-tulis itu tak terbesit sedikitpun dibenak. Kalaupun sempat terlintas, itu hanya sebatas angan-angan saja, dan enggan untuk mengaktualisasikanya Dengan alasan buang-buang waktu atau yang lainya.

Bahkan saya mempunyai pengalaman ketika sedang ngobrol-ngobrol santai dengan teman-teman di sekitar tempat tinggal saya, dan tanpa sengaja saya membahas masalah buku dan menulis. Lalu kira-kira bagaimana tanggapan mereka?

Nah, kalau tidak salah seingat saya tanggapanya seperti ini.
'Kalau untuk anak kuliahan memang penting, tapi kalau untuk buruh seperti saya ini tidak ada faedahnya. Yang penting bagi saya sudah bisa kerja, selesai (dalam bahasa indonesia-nya seperti ini). Saut salah seorang teman saya.

Sehingga saya mendapatkan kesimpulan bahwa selama ini kebanyakan telah terjebak dalam paradigma berfikir yang salah mengenai buku ataupun dunia literasi. Maksudnya, buku itu dianggap hanya diperuntukan bagi mereka yang berkecimpung di belantara pendidikan saja.

Sehingga ketika sudah tidak lagi berurusan dengan dunia pendidikan formal khususnya, maka dianggap buku sudah bukan partner lagi. Jadi persepsi yang kurang benar seperti inilah penyebabnya.

Padahal jelasnya, buku itu tidak hanya diperuntukan bagi orang-orang yang masih menempuh pendidikan atau berkecimpung di dunia pendidikan tapi pada hakikatnya dipersembahkan untuk semua orang yang membutuhkanya.

Terlebih, bukupun macamnya juga banyak dan tidak hanya yang berbau pendidikan. Mungkin penyebab lainya juga ketidaktahuan atas macam-macam buku itu. Sehingga dikiranya buku hanya bercorak pendidikan belaka. Pada akhirnya implikasi yang terjadi adalah ke-engganan untuk menyentuhnya, apalagi membaca dan menuangkanya kembali d alam sebuah tulisan yang berbeda.

Lebih dari itu, menurut kacamata penulis keasingan dengan dunia literasi ternyata tidak hanya merasuki masyarakat kita yang memang dalam pekerjaan dan keseharianya tidak berinteraksi langsung dengan pendidikan.

Akan tetapi hal demikian ternyata juga merasuk dikalangan praktisi pendidikan. Kita bisa melihat betapa minimnya kalangan pendidik yang produktif menghasilkan karya-karya tulis, khususnya di wilayah Tulungagung. Bahkan kalau boleh saya mengatakan membaca buku pun jarang (sepengamatan penulis).

Paling-paling yang sering terlihat adalah membaca koran. Oleh karena itu tak aneh jika mayoritas siswa sekarang ini tak akrab dengan dunia literasi. Pasalnya dari kalangan pendidiknyapun kurang mampu menanamkan budaya baca-tulis tersebut.

Yang sering dilakukan hanyalah intruksi tanpa adanya sebuah tindakan aplikatif. Atau dalam kalimat lain, pendidik hanya menyuruh peserta didik untuk membaca dan menulis tanpa adanya kesadaran dan kesediaan dari pendidik itu sendiri untuk langsu ng mencontohi di hadapan para siswanya. Baik secara sengaja ataupun tidak disengaja.

Bukankah sering dikatakan bahwa guru itu adalah digugu dan ditiru. Jadi jika seorang guru ingin di jiwa para siswanya tertanam budaya literasi maka si guru pun harus mau memberi contoh. Singkatnya, teori plus aplikasinya.

Nah, paradigma mengajar yang kurang benar seperti itu jugalah yang menjadi salah satu penyebab keterasingan para siswa terhadap ciri khas mereka yaitu baca-tulis.

Disamping itu penulis kembali menambahkan satu faktor lagi yang mengakibatkan budaya literasi di negara ini seperti hampir punah, yaitu budaya nonton dan sms. Budaya nonton televisi dan sms-an telah berpengaruh besar terhadap nalar pemuda kita pada khususnya.

Saya menyepesifikan pada kawula muda sebab permasalahan ini sangat mempengaruhi tingkat produktifitas dan kreatifitas. Produktif dan kreatif disini tentu saja untuk melahirkan segala sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Karena bisa dikatakan masa muda adalah masa untuk gencar-gencarnya menggali dan memaksimalkan potensi diri (seharusnya). Namun nyatanya fakta berkata lain. Pemuda kita justru menggunakan usia mudanya untuk bersenang-senang atau melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat. Atau melewatkanya dengan begitu saja.

Tahu-tahu tanpa dirasa sudah beranak cucu dan endingnya hanya bisa menyesali masa mudanya telah terlewati dengan sia-sia. Lantas apa hubunganya dengan budaya nonton televisi dan sms-an tadi? Tentu ada kait anya, bahkan cukup erat, jika boleh saya katakan.

Lagi-lagi menurut sepengamatan penulis bahwa hampir setiap waktu luang para remaja dan pemuda diisi dengan nonton televisi dan sms-an, karena si penulis pun juga pernah mengalamhnya. Tidak bisa dipungkiri hal demikian telah menjamur dikalangan pemuda kita.

Seakan media elektronik itu telah menghegemoni dan menjadi sebuah kebutuhan. Atau dengan kata lain bangsa kita lebih senang mencari informasi yang sifatnya instan. Semisal dari media elektronik telelevisi, internet dan bukan dari buku.

Alasanya jika dari buku itu terlalu ribet, disamping harus mencari bukunya juga setelah itu masih harus menganalisisnya. Belum lagi masalah ekonomi atau harganya yang relatif cukup mahal. Persepsi seperti inilah yang menjadikan budaya literasi semakin tenggelam Meskipun disisi lain media tersebut juga memiliki sisi positif, baik sebagai wahana informasi maupun komunikasi.

Tapi ya itu tadi jika kita hanya mengandalkan media elektronik untuk memperoleh informasi maka kita akan menjadi generasi bermentalitas instan dan pasif. Parahnya jika dalam mencari nafkah pun pengenya juga yang instan, wah bisa menimbulkan banyak tanda tanya.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sms-an pun juga menulis namun pertanyaanya, perihal apa yang ditulis? Kangen-kangenan dengan pasangan, buat janji dengan seseorang untuk ketemuan ataukah lelucon untuk menghabiskan bonus.

Sekali lagi disadari atau tidak budaya nonton dan sms itu telah menggeser atau bahkan menggerus budaya literasi. Padahal salah satu ciri dari majunya peradaban suatu bangsa adalah adanya produktifitas. Yaitu diawali dengan getol membaca dan diikuti dengan menghasilkan sebuah karya tulis (khususnya).

Dan bukan hanya ngomongnya saja yang dominan tapi tulisan lemah. Karena majunya peradaban islam hingga pernah menjadi mercusuar peradaban duniapun juga disebabkan oleh akrabnya dengan kebiasaan baca-tulis.

Sehingga lahirlah tokoh-tokoh islam yang kompeten diberbagai disiplin ilmu seperti, Al-kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Thufail, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd (Averrous), dsb. Walaupun pada dasarnya tradisi budaya kita adalah lisan (orality) namun bukan tidak mungkin budaya literasi akan mendarah daging jika memang dari masing-masing pribadi mau menyadari akan pentingnya pembahruan wawasan dan pemupukan potensi diri.

Oleh karena itu untuk menyambut hari literasi sedunia yang akan jatuh pada tanggal 8 September mendatang mari kita sama-sama berupaya merekonstruksi khususnya dalam dunia literasi. Tak usah muluk-muluk, minimal kita ubah dari diri kita sendiri dulu.

Semisal dengan menanamkan slogan bahwa tiada hari berlalu tanpa membaca dan menulis. Sehingga tumbuhlah bahwa membaca dan menulis adalah sebuah kebutuhan dan tidak hanya kewajiban. Dan jika dari diri kita sendiri sudah mampu konsisten maka tanpa disuruhpun orang lain akan menirukanya.

Jadi jangan bermimpi orang lain akan mengikuti jika kita sendiri saja tak mau melakukan. Ibaratnya, seperti saat kita memberi contoh disiplin kepada orang lain. Yaitu tak mungkin mereka semua akan disiplin jika kita hanya mengajari teori-teori disiplin tanpa memberi contoh tindakan langsung bagaimana disiplin itu.

Dengan lain kata bahwa intruksi itu memang penting namun aplikasi jauh lebih penting. Jadi dengan demikian maka budaya literasi yang hamp ir sepenuhnya tenggelam ini mampu mencuat kembali ke permukaan dan menjalar ke semua lini kehidupan meski arus globalisasi begitu derasnya menerpa.

Dengan corak khas dan kekayaan bahasa yang kita miliki. Dan semoga nantinya budaya literasi dapat menjadi ikon bangsa kita yang kental dengan keseberagaman ini.

*Penulis adalah Aktivis Pusat Kajian Filsafat dan Teologi (PKFT) Tulungagung.


Saiful Mustofa
Jl. Flamboyan, Tanjungsari, Sumbergempol Tulungagung
sayfulmuztofa@yahoo.com
085649133515

(wwn/wwn)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads