Korupsi: Efek Psikis dan Sosial

Korupsi: Efek Psikis dan Sosial

- detikNews
Senin, 04 Jul 2011 14:11 WIB
Korupsi: Efek Psikis dan Sosial
Jakarta - Akhir-akhir ini berita tentang korupsi marak, bahkan menjadi headline di berbagai media cetak maupun elektronik. Beragam analisis dipaparkan analis atau pakar di bidangnya. Semua sepakat perbuatan korup tidak dibenarkan. Juga tidak ada satu agama manapun di muka bumi ini yang menghalalkan korupsi.

Semua agama dan penganutnya sepakat bahwa korupsi merupakan perbuatan haram, karena merampas hak-hak orang lain atau negara. Menyebabkan penderitaan publik dan menghancurkan sistem sosial.

Itulah sebabnya keluarga beragama, sejak dini ditanamkan paham kepada anak-anak agar selalu berlaku jujur dan berperilaku baik. Sejak kecil anak-anak diajarkan larangan mencuri atau mengambil hak orang lain. Bahkan orang tua tidak segan-segan menghukum seorang anak yang kedapatan mencuri meski sekecil apapun. Artinya, perilaku korup merupakan perbuatan jahat yang wajib dihindari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Motif Memenuhi Syahwat

Jamaknya keluarga koruptor hidup dalam kondisi ekonomi berlimpah. Karena memiliki kekayaan, maka mereka hidup serba fasilitas mewah. Rumah, kendaraan, alat elektronik, perkebunan dan peternakan dengan segala macam tanaman dan ternak.

Bahkan pulau atau gunungpun menjadi properti khas mereka, karena di atasnya dibangun villa mewah tempat peristirahatan keluarga yang tidak sembarang orang bisa menginjaknya.

Berlimpahnya kekayaan sang koruptor, tentu karena mereka memang sengaja mengejarnya, meski dengan jalan korupsi. Dengan alasan untuk memenuhi syahwat, maka alam pikir mereka diobsesi oleh gagasan bagaimana memperoleh kekayaan dengan cara apapun dan resikonya.

Kebanggaan Sosial Semu

Sebagai keluarga yang memiliki kekayaan dan jabatan, tentu sang koruptor merasa bangga dan terhormat. Mereka merasa tersanjung akibat perlakuan hormat dan penghargaan sosial kepadanya. Sudah menjadi rumus publik, kekayaan ibarat gula yang selalu dikerumuni semut.

Siapa yang kaya akan selalu dikelilingi orang-orang yang memendam hasrat tertentu. Dari kondisi inilah seorang koruptor sering merasa terlena seakan lupa perbuatannya yang setiap saat diintai oleh hukum.

Kehidupan serba mewah dengan anak buah siap perintah, sering membuat koruptor merasa kuat dan yakin bisa membeli segalanya, toh uang di tangan. Tapi sebagai manusia biasa, tentu tidak semua bisa dibeli dengan uang.

Terkadang upaya menutupi perbuatan jahat menemui kebuntuan, sebab penegakan hukum di republik ini masih eksis dalam wujudnya yang unik, tajam bagi rakyat kecil, tumpul bagi kalangan penguasa.

Sebagai manusia bertuhan, tentu kita yakin bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya. Dari sini pula kelihatan intervensi Tuhan yang terkadang irasional. Keadilan Tuhan sering muncul menjadi momok dan sanksi bagi para penjahat, termasuk koruptor.

Karena itu kita yakin bahwa tidak ada perbuatan jahat sekecil apapun yang lolos dari hukum Tuhan. Hukum manusia bisa saja dipermainkan oleh kekuasaan dan kekuatan, tetapi tidak dengan hukum Tuhan. Dimensi hukum Tuhan beranak panah dia, dunia dan akhirat. Maka jika bukan dihukum di dunia, akan dihukum di akhirat sebagai tempat perolehan balasan semua perbuatan.

Dengan demikian, apa yang dibanggakan berupa kekayaan dan kekuasaan dari hasil korupsi, sesungguhnya hanya kebanggaan dan kehormatan semu.

Hina di Mata Tuhan dan Manusia

Korup merupakan perilaku buruk dan tercela. Efeknya membuat orang banyak menderita, miskin dan terpuruk. Perbuatan korupsi menyebabkan ribuan bahkan jutaan rakyat menderita. Dana yang seharusnya bisa dinikmati rakyat banyak, dinikmati segelintir orang saja yaitu koruptor, keluarga dan kroninya.

Ajaran agama manapun menempatkan pelaku korupsi pada posisi yang hina, disebabkan perbuatannya terlarang. Orang yang melakukan pelanggaran berarti berdosa di mana dengan dosa itu membawa pelaku menjadi terhina, sebagaimana pelaku amal baik mendapatkan kemuliaan, baik di mata Tuhan, pun di mata manusia.

Koruptor di mata Tuhan sudah jelas kehinaannya, berdosa dan pasti ada hukumannya. Sedang di mata manusia, kehinaan koruptor dapat dilihat misalnya karena masuk penjara, jatuh sakit secara fisik dam psikis, terkucil dari orang-orang sekitar, keluarga merasa malu dan tertekan, dan masih banyak indikator lain yang menunjukkan seorang koruptor terhina di mata sesama.

Kesadaran Moral

Tidak dapat disangkal, perilaku jahat hanya dapat diatasi melalui pendekatan pendidikan moral, terutama ditanamkan sejak usia dini di dalam keluarga dan sekolah. Sedapat mungkin generasi muda dibekali dengan pendidikan agama yang kuat, sehingga jiwanya tidak terkontaminasi oleh perilaku-perilaku jelek seperti curang, dusta dan suka mengambil hak orang lain.

Lingkungan keluarga harus ditanamkan keteladanan kepada anak-anak tentang kerja keras untuk hidup mandiri, bukan hidup berfoya-foya dan mengandalkan orang tua. Menanamkan sikap solidaritas dan derma sosial kepada anak-anak. Membiasakan mereka hidup sederhana dan bersahaja agar kelak dapat diamalkan saat mereka membentuk lingkungan keluarga sendiri.

Lingkungan keluarga yang terbangun spirit moral keagamaan yang kuat, akan menjadi pilar bagi kelangsungan hidup yang benar. Menjadi benteng agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang melanggar norma-norma agama dan sosial.

*Penulis adalah Dosen STAIN Ternate

Hamzah Giling
Jl. Batu Angus Dufa-Dufa, Ternate
hamgiling@gmail.com
081355473240

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads