Teror Bom dan Doktrin Kematian?

Teror Bom dan Doktrin Kematian?

- detikNews
Kamis, 24 Mar 2011 13:37 WIB
Teror Bom dan Doktrin Kematian?
Jakarta - Jihad dan doktrin kematian adalah dua hal yang saling mengikat dalam pemahaman kelompok Islam gerakan dan kelompok Islam ideologis. Maka membaca isu teror bom yang saat ini merebak diseantero Jakarta, seolah menggurat rasa curiga bahwa benarkah teror bom tersebut bersumber dari kelompok Islam gerakan?

Pasalnya, peristiwa demi peristiwa tersebut ibarat gertakan sambal dan cenderung menyembulkan isu dengan pesan murahan yang mudah ditangkap publik.

Sepintas jika dibaca, teror bom yang terjadi di Kantor Berita 68-H Utan Kayu, Jakarta Timur solah-olah dialamatkan pada Ulil Abshar Abdallah, akibat distorsi pikiran-pikiran liberalnya yang selama ini terkesan memarjinalkan ummat Islam. Sehingga peristiwa teror bom tersebut memperhadapkan Ulil dengan kelompok yang diklaim sebagai Islam radikal, fundamentalis dan pelabelan lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan demikian, ledakan bom yang terjadi di Kantor Berita 68-H tersebut, dengan mudah dituduhkan pada kelompok Islam gerakan yang menyimpan dendam terhadap Ulil Abshar dan kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) lainnya. Demikian juga teror bom terhadap Dani Ahmad punggawa manajemen Republik Cinta. Pemusik itu selama ini diidentikkan dengan tutur dan perilakunya yang nyleneh dan cenderung melecehkan simbol-simbol sakral ummat Islam.

Dari dua peristiwa tersebut, menggambarkan bahwa ada desain kondisi yang dikemas. Artinya, teror bom saat ini seolah-olah disebabkan oleh geramnya kelompok Islam gerakan terhadap oknum-oknum yang dianggap mendistorsikan kesakralan ajaran Islam.

Dalam teori intelejen, prakondisi seperti dalam dua peristiwa teror di atas, merupakan cara melokalisir kejahatan. Meski dengan cara rekayasa intelejen. Prinsipnya adalah kejahatan dengan motif apapun tidak akan terkuak, ketika tidak dilokalisir. Semisal mengkooptasikan gerakan da’wah dalam stigma terorisme, Jamia’ahtul Islamiyah dan seterusnya.

Tapi tanpa disengaja, kedua peristiwa dramtis di atas, hampir bersamaan dengan hebohnya pemberitaan media asing dan Wikileaks yang memojokkan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudoyono (SBY) terkait beberapa kasus di Indonesia. Demikianpun hebohnya kontroversi reshuffle kabinet koalisi. Dus, dengan marakknya isu teror bom tersebut, menenggelamkan isu-isu sebelumnya yang kian memojokkan pemerintahan SBY.

Tak salah jika kita bisa simpulkan, bahwa fenomena teror bom saat ini adalah “perang isu”. Bukan ekpresi radikalisme keberagamaan yang kita kira selama ini. Sebab doktrin jihad adalah doktrin kematian. Bukan hanya untuk menghasilkan anasir-anasir isu demi konspirasi politik tertentu.

Jihad yang selama ini terkanalisasi dalam pelabelan negatif oleh kelompok fobia tertentu, adalah bersandar pada faham-faham perlawanan yang ekstrem terhadap kolonialisasi dan despotisme. Olehnya itu, melawannya dianggap "jihad" dan yang mati dijalan perlawanan tersebut disebut "syuhada".

Olehnya itu, jika kita membaca sepintas beberapa isu teror bom yang diberitakan selama ini, maka perlu berfikir dua kali untuk mengatakan bahwa teror tersebut merupakan ulah kelompok Islam gerakan. Demikian pula sebaliknya, isu teror bom yang marak saat ini, bisa saja merupakan konspirasi pengalihan isu terkait kegagalan pemerintahan SBY?

*Penuli: Peminat Sosial Keagamaan

Abdul Munir Sara
Jl Kayu Manis Baru II No.25 Kec Matraman Timur, Jakarta Timur
abdulmunir_sara@yahoo.co.id
081318004078


(wwn/wwn)


Berita Terkait