Hidup Harmonis di "Ring of Fire"

Hidup Harmonis di "Ring of Fire"

- detikNews
Rabu, 23 Mar 2011 14:37 WIB
Hidup Harmonis di Ring of Fire
Jakarta - Belum hilang dalam ingatan dan dampaknya masih terasa hingga kini betapa dahsyatnya gempa dan gelombang tsunami Aceh, Desember 2004 yang oleh media dilaporkan bahwa lebih dari 200.000 orang tewas mengenaskan.

Bahkan puluhan ribu lainnya hingga kini belum ditemukan, bangunan yang tadinya berdiri kokoh terkoyak porak-poranda. Bencana Gempa yang berkekuatan 8,9 skala Richter dan tsunami setinggi 10 meter dengan kecepatan 800 kilometer per jam terjadi baru-baru ini (11/3) yang meluluhlantahkan sebagian wilayah Jepang, meski korban tewas tidak sebesar di Aceh. Namun diperkirakan menelan kerugian hingga US$ 100 miliar atau sekitar Rp 900 triliun. Angka itu menurut Estimasi yang dibuat oleh DBS Bank mencapai 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang.

Media melaporkan bahwa diperkirakan lebih dari 10 ribu orang dinyatakan hilang dan sekitar 2000 orang dinyatakan tewas dalam peristiwa tsunami tersebut. Untuk Jepang jumlah korban itu sudah terlalu besar karena prosedur operasional standar (SOP) bagi setiap warga Jepang saat menghadapi gempa diperkenalkan di sekolah-sekolah maupun media massa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anak TK dan SD pun paham langkah-langkah saat terjadi gempa. Jepang telah mempunyai teknologi maju dalam penyusunan data base yang dapat menganalisa gempa bumi dan memperkirakan tsunami dan disaster awareness dalam tindakan antisipatif peringatan dini tsunami.

Sedangkan dalam segi konstruksi bangunan, Jepang membangun bangunan tahan gempa dengan fondasi yang dalam dan dilengkapi penyerap guncangan yang meredam energy seismic. Metode lainnya adalah konstruksi yang memungkinkan dasar bangunan bergerak semi-independen dari struktur dasar untuk mengurangi getaran gempa.

Tsunami adalah suatu istilah yang kini digunakan di seluruh dunia, memang sebuah kata dalam bahasa Jepang yaitu Tsu= pelabuhan, nami = gelombang, yang secara harfiah berarti "gelombang pasang" dalam literature berbahasa Inggris kadang-kadang diartikan sebagai tidal wave yang datang mendadak dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Pristiwa tersebut adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba.

Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Penggunaan istilah Tsunami berarti Jepang memang sebuah negeri tsunami. Bukan itu saja, Jepang terletak di zona seismik aktif, dengan topografi yang bergunung-gunung yang kaya akan gunung api dan sekaligus juga terletak pada jalur taifun. Maka Jepang sering dilanda berbagai bencana alam seperti gempa bumi, taifun, letusan gunung api, dll. sej ak dulu kala.

Salah satu tsunami terdahsyat yang tercatat dalam sejarah Jepang adalah Tsunami Gempa Meiji Sanriku yang terjadi pada tahun 1896. Tsunami ini menewaskan lebih dari 20.000 orang. Setelah itu, pada tahun 1933 Gempa dan Tsunami Sanriku melanda daerah yang sama lagi dan menelan sekitar 3000 jiwa dan orang hilang. Kemudian tahun 1923 di Yokohama dan Tokyo yang dikenal "Kanto Daishinsai" terjadi gempa yang menewaskan 140.000 orang.

Pada Januari 1995, gempabumi dengan kekuatan 7.2 Skala Richter terjadi di bagian selatan Propinsi Hyogo. Gempabumi tersebut menyebabkan korban jiwa dan harta-benda yang tak ternilai besarnya, karena terjadi di daerah perkotaan Kobe-Hanshin yang padat penduduk. Lebih dari 6,400 jiwa manusia meninggal, 34.600 jiwa manusia luka-luka dan 250.000 buah rumah rusak.

Belajar Manajemen Bencana Jepang

Jepang dan Indonesia adalah dua Negara sama-sama berada di garis Pasifik yang rentan dan seringkali menjadi korban bencana alam yang sama sejak jaman dahulu kala. Dua pertiga dari Benua Maritim Indonesia yang secara tektonik sangat labil dan rawan gempa. Dan gempa paling akhir yang melanda kepulauan Mentawai pada Oktober 2010 makin menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat rawan dan memiliki tingkat bencana kegempaan tinggi. Indonesia memiliki gunung api yang merupakan rangkaian busur api bagian dari The Pacifik Ring of Fire yang bermula dari Alaska, Jepang, Sumatera, Jawa Bali, Lombok, Flores, Sulawesi, dan berakhir di Piliphina.

Bedanya dengan Indonesia, Jepang relatif mau belajar agar lebih siap menghadapi gempa dibandingkan Indonesia. di tempat-tempat yang diperkirakan rawan bencana, seperti gempa bumi dan tsunami, letusan gunung api, dll, penduduk mendapat fasilitas berupa buku petunjuk mengenai bencana yang bersangkutan. Berkat daya-upaya demikian, tahu n demi tahun jumlah korban akibat bencana alam makin berkurang.

Jepang memandang Gempa bumi, Tsunami, gunung meletus, banjir dan fenomena alam lain yang sering kali menyebabkan bencana bagi manusia dipandang sebagai bagian dari proses alam yang universal. Sikap ini mencerminkan hubungan yang harmonis dan selaras antara manusia dengan alam sekitarnya.

Paradigma antropocentris sudah harus diakhiri, karena manusia juga harus memberikan kesempatan kepada alam untuk menjalankan proses alamiahnya. Manusia tidak boleh merusak alam, dan sebaliknya berkewajiban memelihara, melestarikan dan mendayagunakannya secara berkelanjutan. Selain dari itu Jepang juga memandang bencana sebagai musibah yang kapan dan dimana saja dapat menimpa setiap manusia.

Sikap ini menumbuh-kembangkan perasaan untuk saling tolong-menolong, kegotong-royongan, kekeluargaan, kesetiakawanan dan solidaritas sosial yang mencerminkan hubungan harmonis dan selaras antar manusia. Sebaliknya yang sering terjadi di Indonesia adalah bencana alam terkesan malah sebagai bagian dari 'berebut' proyek antar departemen pasca bencana.

Dunia, termasuk Indonesia harus belajar dari Jepang bagaimana melakukan mitigasi bencana. Jepang adalah mascot untuk kemampuan penanggulangan bencana. Di Jepang, pengelolaan upaya penanggulangan bencana mendapat perhatian serius dari pemerintah, untuk itu ada Dewan Pusat Pengelolaan Penanggulangan Bencana (Central Disaster Management Council) yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri dibantu oleh Menteri negara untuk Pengelolaan Penanggulangan Bencana (Minister of State for Disaster Management).

Pemerintah dan rakyat Jepang bersama-sama dan melakukan usaha bersama terpimpin untuk meningkatkan metode peramalan bencana serta sistem peringatan dini di tempat-tempat yang sering dilanda bencana. Pemerintah daerah pun mengajak penduduk untuk menjalani latihan penyelamatan secara reguler, dan membangun jalan-jalan khusus untuk menyelamatkan diri.

Peringatan dini bencana dilakukan oleh pemerintah daerah antara lain dengan membunyikan sirene, memberikan pengumuman dengan pengeras suara berkeliling dan menyiarkannya melalui televisi. Pemerintah daerah mempunyai akses informasi melalui sistem satelit dan sistem komunikasi lainnya. Demikian pula untuk bantuan yang diperlukan.

Andi Iqba Burhanuddin
Jl. Sunu FX-5, Kompl Unhas Baraya Makassar
iqbalburhanuddin@yahoo.com
0811441491


(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads