LPI sendiri digulirkan oleh pengusaha Arifin Panigoro sebagai akibat kekecewaan banyak pihak terhadap kepemimpinan PSSI di bawah Nurdin Halid. Berbagai upaya untuk menurunkan Nurdin Halid selama ini sepertinya selalu tak membuahkan hasil. Kongres Sepakbola Nasional (KSN) yang diselenggarakan di Malang, Jawa Timur, pada Maret 2010, yang dibuka oleh Presiden SBY sebagai upaya untuk mereformasi PSSI pun hasilnya tidak sesuai seperti yang diharapkan. Apa yang dilakukan Arifin Panigoro dengan membentuk kompetisi tandingan ini selain untuk meledek Nurdin Halid juga untuk menunjukan sebuah bukti bahwa tanpa anggaran pemerintah (daerah), kesebelasan yang selama ini dibina oleh pemerintah daerah pun bisa mengikuti kompetisi yang terbilang mahal.
Dengan bergulirnya LPI, diharapkan akan muncul pemain-pemain baru yang mempunyai mutu seperti Oktavianus Maniani, Muhammad Ridwan, Zulkifli Syukur, Muhammad Nasuha,
Muhammad Bustomi, Yongki Ariwibowo, serta pemain tim nasional lainnya. Dengan LPI itulah nantinya muncul persaingan diantara para pemain, baik yang dari LPI maupun ISL untuk menunjukan dirinyalah yang terbaik dan berhak menjadi pemain tim nasional. Namun untuk menggelar LPI dan menjadikan LPI sebagai kompetisi yang bermutu tidak semudah membalikan telapak tangan.Β ISL yang digelar saat ini saja merupakan sebuah kompetisi yang dibangun melalui berbagai tahap dan cara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tantangan-tantangan yang dihadapi LPI adalah Pertama, sebagaimana mana penulis disebutkan di atas, hanya ada 4 kesebelasan yang sudah makan asam garam kompetisi di Indonesia, yakni PSM, Persebaya, Persema, dan Persibo. Sementara yang lainnya adalah pendatang baru dalam dunia persepakbolaan di Indonesia.
Pengalaman dari ISL yang sudah-sudah, menunjukan bahwa pemain dan penonton kita terkadang menujukan karakter yang kampungan. Karakter yang kampungan itu biasa ditunjukan dengan menganiaya wasit, bila protesnya tidak diterima, atau memprovokasi penonton untuk berbuat rusuh, dan penonton pun cepat tersulut amarahnya bila tim kesayangannya kalah. Nah hal demikianlah kemungkinan bisa juga terjadi dalam LPI.
Dan bila itu terjadi maka LPI tak ubahnya seperti ISL, sering rusuh baik di dalam lapangan maupun luar lapangan.Β Untuk itu maka panitia LPI harus selalu mengkampanyekan sportifitas dan kedewasaan para pemain dan penonton. Apalagi para pemain dalam LPI bisa dikatakan tidak sematang dengan para pemain yang sudah bergabung dalam kesebelasan-kesebelasan di ISL.
Kedua, bila wasit-wasit dalam ISL dirasa banyak yang bertindak tidak adil, berat sebelah, maka di LPI wasit harus tampil beda, yakni menunjukan wasit yang fair dan profesionalitas. Bila LPI tidak mampu menghadirkan wasit yang demikian, jangan harap kompetisi di LPI lebih bermutu dibanding dengan ISL.
Ketiga, kecuali di Surabaya, Malang, Makassar, dan Bojonegoro, sepertinya pertandingan LPI ini akan sepi dari penonton. Mengapa demikian? Sebab kesebelasan-kesebelasan yang memiliki jumlah suporter yang mencapai ribuan dan fanatik masih bergabung di ISL. Tentu Jakmania akan melihat ISL sebab Persija masih main di ISL, demikian pula Viking (Persib), Singamania (Sriwijaya FC), Aremania (Arema), Persikmania (Persik), Kampak (PSMS), Garda Purwa (Pelita Jaya), The North Jack(Persitara), Japman (Persijap), LA Mania (Persela), Persipura Mania (Persipura), dan banyak lainnya lagi.
Untuk membentuk fanatisme suporter sepakbola tidak bisa dilakukan dalam waktu sepekan, namun perlu waktu yang lama. Sehingga, misalnya, salah satu kesebelasan di LPI, Jakarta 1928 FC, ketika bertanding belum tentu masyarakat Jakarta akan mendukung dia, sebab selain Jakarta 1928 sebagai kesebelasan baru, saat ini masyarakat Jakarta sudah kesedot menjadi Jackmania dan The North Jack yang akan mengawal mereka ketika bertanding (di ISL).
Keempat, sampai kapan LPI ini bisa bertahan? Bisa jadi LPI bertahan sampai ketika Nurdin Halid turun dari PSSI atau ketika kepentingan Arifin Panigoro selesai. Meski Arifin Panigoro mengatakan, LPI merupakan langkah awal menuju profesionalisme dan kemandirian sepakbola Indonesia, namun realitasnya di lapangan bisa lain. Ketika LPI di tengah masyarakat tidak diterima, dengan alasan misalnya sering ribut dan pertandingan tidak bermutu, maka LPI bisa jadi hanya bertahan semusim (setahun) sebab LPI pun juga membutuhkan dana. Dan dana itu selama ini ditanggung oleh Arifin Panigoro.
Ardi Winangun
Matraman Jakarta timur
ardi_winangun@yahoo.com
08159052503
Penulis adalah pemerhati Sepak Bola
(wwn/wwn)











































