Menimbang Pertumbuhan Ekonomi di Tahun 2011

- detikNews
Rabu, 29 Des 2010 17:09 WIB
Jakarta - Tanpa terasa kita berada di penghujung tahun 2010. Kita melewati sekian deret waktu yang panjang selama 12 bulan lamanya. Dan, selama itu kita memetik banyak kejadian dan dinamika kenegaraan yang melelahkan. Mulai dari bencana alam yang bertubi-tubi serta hiruk-pikuk sejumlah kasus korupsi yang mengendap dan belum terkuak maksimal.

Debat, kritik, dan penyampaian aspirasi multi bentuk terkait ragam soal ini pun terus berdatangan selama tahun 2010. Berjubel fakta dan fenomena ini menandakan bahwa Indonesia masih hidup dan bergerak maju. Baik di ranah demokrasi, sosial, politik dan ekonomi.

Di penghujung tahun 2010 dan di awal tahun 2011 kelak kita berharap ada perbaikan signifikan dalam kehidupan masyarakat. Roda ekonomi dapat berjalan progresif, inflasi teratasi, dan penerimaan negara semakin bertambah dan seiring dengan itu, struktur APBN semakin berpihak pada kehidupan rakyat kecil dengan memacu laju pertumbuhan disektor UKM.

Demikian pun serapan Anggaran APBN kelak. Dapat berjalan secara produktif dan menciptakan kehidupan dan kesejahteraan yang berjangka panjang bagi kehidupan masyarakat. Kira-kira seperti ini harapan ideal kita memasuki tahun 2011. 

Prediksi

Oleh sebahagian kalangan memprediksikan pertumbuhan ekonomi di tahun 2011 ini bergerak semakin optimistik. Hal ini dipertimbangkan dengan semakin membaik atau stabilnya perekonomian nasional dan global.

Pemerintah juga memprediksikan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2011 sebesar 6,3-5 persen. Dan, harapan tumbuhnya ekonomi nasional ini lebih didorong oleh membaiknya stimulus ekonomi domestik akhir-akhir ini. Demikian pun asumsi pertumbuhan ekonomi ini seiring dengan harapan bahwa inflasi dapat dikendalikan pada level sekitar 5,3 persen.

Perkiraan inflasi itu didasarkan kepada pertimbangan bahwa peningkatan kegiatan ekonomi yang ditaksasikan dapat terus diimbangi oleh meningkatnya kapasitas produksi seiring dengan membaik dan berminatnya para investor dengan prospek ekonomi Indonesia ke depan "yang semakin seksi".

Lagi-lagi keseksian masa depan ekonomi dan dan minat para investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia itu membuat pemerintah memprediksikan aliran modal asing ke pasar negara bakal berkembang (emerging market) pada 2011, hingga mencapai US$ 833 miliar atau sekitar Rp 7,500 triliun dengan kurs ekuivalen 9,000 per dolar.

Namun, pertanyaan dasar terhadap prediksi menumpuknya aliran modal asing ini adalah mau diapakan?

Akan menjadi sumir dan tak bersubstansi manakala di saat yang sama (meningkatnya aliran modal asing) pemerintah belum mempersiapkan 1001 cara untuk memberdayakan modal asing tersebut dalam mendorong laju pertumbuhuhan ekonomi ditahun 2011. Bahkan, akan menjadi ambivalensif ketika sewaktu-waktu dana asing tersebut serentak keluar dan bisa mengguncang perekonomian nasional.

Dalam kaitannya dengan ini pemerintah mestinya mempersiapkan metode-metode untuk menerjang risiko-risiko yang bakal dihadapi. Semisal mempersiapkan metode untuk menghadapi kemungkinan terjadinya gelembung nilai aset (asset bubble) dan inflasi karena kurangnya daya serap ekonomi nasional terhadap masuknya modal asing jangka pendek.

Demikian pun risiko terhentinya arus modal masuk dan bahkan terjadinya penarikan kembali modal masuk dalam jumlah besar. Semua potensi risiko ini harus diperhitungkan oleh pemerintah secara apik, jeli, dan ditangani dengan strategi penerapan yang matang dan tahan gempuran inflasi. Dengan metode ini stabilisasi ekonomi akan terwujud ditahun 2011 kelak.

Asa dan Strategi

Kendati pun di tengah membuncahnya optimesme pemerintah terkait laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,3-5 persen itu, tak bisa dinafikan, bahwa semua dimensi pertumbuhan ekonmi nasional ditopang oleh sekian ragam variabel pertumbuhan yang sangat menentukan. Terutama di sektor investasi, konsumsi masyarakat, konsumsi pemerintah, maupun ekspor.

Pada sudut pandang ini pemerintah mestinya memasang strategi jitu untuk memperkuat variabel penopang pertumbuhan dimaksud. Jika tidak demikian harapan akan pertumbuhan ekonomi yang optimistik itu hanyalah mimpi atau asa yang tak mingkin kesampaian di tahun 2011.

Sebagai langkah konkretnya pemerintah mestinya memasang kuda-kuda untuk menangkal dan meminimalisir berbagai kemungkinan-kemungkinan yang kelak menghantam pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2011. Dan, di antara sekian strategi itu adalah:

Pertama, memperkuat ekonomi basis. Dan pada ranah ini, pertumbuhan konsumsi dilakukan dengan meningkatkan daya beli masyarakat melalui pengendalian dan stabilisasi inflasi serta memacu realisasi penyerapan anggaran yang ideal dan terencana.
Kedua, membangun locus ekonomi baru yang berbasis pada multi aspek sumber daya untuk memicu pertumbuhan ekonomi dari dimensi atau sektor pertumbuhan lain yang belum tersentuhkan.
Ketiga, meningkatkan kegiatan sektor riil, dan dalam kaitannya dengan ini, pemerintah mesti mengambil langkah-langkah strategis untuk mempermudah akses kredit usaha, peningkatan pelayanan perizinan yang lebih mudah dan cepat dan penyediaan infrastruktur yang memadai dan tepat guna.
Keempat, terlepas dari penguatan sekian sektor ekonomi di atas, yang terpenting adalah, adanya keberpihakan (alignments) pemerintah dalam mendorong aspek-aspek non ekonomi yang berpengaruh erat terhadap siklus stabilitas ekonomi, semisal supremasi hukum, stabilitas sosial dan politik.

Jika semua ini dapat diwujudkan harapan perbaikan ekonomi di tahun 2011 menemukan jalan mulus. Semoga demikian.

Laurens Bahang Dama
Jalan Gatot Subroto No 6 Jakarta
laurensbahangdama@yahoo.co.id
021-5755835

Anggota DPR RI Komisi XI Periode 2009-2011. 



(msh/msh)