Gerakan Budaya Malu dan Gerakan Displin

Surat Terbuka Buat Presidenku

Gerakan Budaya Malu dan Gerakan Displin

- detikNews
Sabtu, 30 Okt 2010 12:45 WIB
Gerakan Budaya Malu dan Gerakan Displin
Jakarta - Alhamdulillah. Setelah 65 tahun merdeka, setelah tiga peralihan generasi, dan setelah mengalami berbagai gejolak dan pasang surut, Bangsa Indonesia memasuki abad ke-21 dalam kondisi yang lebih kokoh. Selama tahun 1998 sampai dengan 2008, Bangsa Indonesia telah melalui proses Reformasi Gelombang Pertama dengan selamat. Meskipun sarat dengan tantangan dan persoalan yang berat.

Dalam sepuluh tahun pertama reformasi itu kita telah melangkah jauh dalam melakukan transisi demokrasi. Namun, akibat dari semua itu saat ini sebagai bangsa kita betul-betul berada dalam titik nadir. Kerusuhan di mana-mana, korupsi meraja lela, mafia hukum makin sulit diberantas, anak-anak kita sekarang ini tidak lagi mempunyai panutan, urusan moral dan rasa malu bukan menjadi hal utama lagi, tetapi dapat saja diputarbalikkan dengan alasan hak asasi dan kebebasan berpendapat.

Perkelahian terjadi di mana-mana, yang dulunya sangat jarang kita lihat, sekarang dipentaskan di mana-mana, di DPR, di hampir semua peguruan tinggi, di lapangan sepak bola, di kantor pemerintah, di sekolah, di jalanan, konser, dan lain-lain. Namun, para petinggi kita saat ini seolah menganggap ringan semua persoalan moral, etika, rasa malu, disiplin dan tidak saling mengormati. Mereka lebih fokus terhadap persoalan pertumbuhan ekonomi, bunga bank, pasar modal, modal asing, dan politik melanggengkan kekuasaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyak sekali para pengamat namun semua mereka lebih suka saling menyalahkan. Saling membanggakan diri sendiri. Tidak mau mereka duduk bersama mencari jalan keluar terbaik dalam mengatasi masalah kebangsaan yang benar-benar sudah gawat ini. Tidak ada gerakan khusus. Atau pun usaha yang terstruktur untuk memperbaiki semua ini.Β 

Untuk itulah saya mengusulkan kepada pemerintah untuk melakukan suatu gerakan massal dan menyeluruh yaitu: "Gerakan pendidikan dan penegakan disiplin nasional, penegakan hukum, dan pengembangan budaya malu".

Gerakan ini adalah untuk mendidik masyarakat kita agar taat aturan, malu melanggar aturan, mau menegur dan mengingatkan kalau orang di sebelahnya yang melanggar aturan, tidak semena-mena pada orang lain, tidak suka berkelahi dan bersikap santun seperti yang sering disampaikan presiden.

Kalau kita pergi jalan keluar kantor sebentar saja, akan ditemukan minimal 10 macam tindakan masyarakat kita yang tidak disiplin, tidak taat aturan, mau menang sendiri Misalnya:

1. Angkot/ bus kota yang berhenti di persimpangan mengambil penumpang.
2. Pada saat gempa 2009 di Kota Padang, masyarakat tidak mau antri mengisi bensin, dan mengisi kedua sisi jalan sehingga mobil ambulan yang membawa pasien korban gempa tidak bisa lewat dan terpaksa diturunkan di tengah jalan dan
dibawa dengan tandu. Akhirnya terpaksa dikerahkan dua pleton Brimob hanya untuk mengatur antrian. Atau bahkan menjual bensin dengan harga gila-gilaan sampai Rp 50.000/ liter (subhanallah).
3. Membuang sampah di selokan, di tempat terbuka dengan senang hati.
4. Merokok di tempat umum, bus, angkot, rumah sakit, dan lain-lain.
5. Naik motor sampai 5 orang tanpa helm.
6. Parkir di tempat dilarang parkir.
7. Mahasiswa sekarang dengan berani dan lantangnya menantang dosennya atau bahkan rektornya sedang berbicara dengan kata-kata kotor, dan bahkan menunjuk dengan tangan kiri.Β 
8. Perkelahian antar mahasiswa dan pelajar, perkelahian antar kampung, perkelahian antar supporter, perkelahian saat menonton konser, dan lain-lain.
9. Pergi menonton bola membawa samurai, clurit, pedang panjang, dan roda gigi besi.
10. Demonstrasi dengan merusak pagar dan melempar kaca kantor, menggunakan gambar yang tidak berperikemanusian, merusak/ melecehkan simbol simbol Negara, bahkan yang terbaru ini demonstrasi dengan melempar tinja.

Kalau diteruskan menulis semua pelanggaran dan main hakim sendiri masyarakat kita ini akan menjadi sebuah buku pelanggaran yang sangat tebal. Namun, kalau mereka berada di negara lain ternyata mereka bisa sangat disiplin dan mau taat aturan. Lalu di mana salahnya. Ke mana hilangnya masyarakat kita yang terkenal ramah, santun, dan gotong royong dulu. Ke mana hilangnya rasa saling menghormati.

Untuk itulah gerakan ini harus dimulai oleh pemerintahan sekarang juga. Harus dimulai dari pusat sampai RT/RW. Mulai dari perguruan tinggi sampai tingkat TK.

Kalau perlu dibentuk sebuah badan khusus seperti masa P4 dulu. Atau bahkan dapat ditunjuk seorang menteri atau pembantu presiden yang akan menjabarkan, melakukan penelitian dan inovasi, mencari cara termudah dan efisien untuk melaksankan kegiatan ini dan mengembangkannya, melakukan penelitian tindakan apa yang dapat kita lakukan untuk melaksanakannya.

Kenapa saya katakan dimulai dari SD atau TK, karena saat ini yang paling bisa atau berani mengingatkan orang tua berbuat salah anak yang berumur dibawah 8 tahun. Karena, mereka masih belum menerima pikiran jahat. Contoh sederhana kalau orang tuanya melanggar lampu merah di persimangan maka anak akan menegur. "Papa kok melanggar lampu merah, kan harus berhenti" atau "Papa kok membawa senjata tajam keluar rumah untuk apa?" Kalau kita orang dewasa yang menegur maka dengan seenaknya mereka menjawab: "bukan urusan loe". Boleh dikatakan negara ini adalah "negara darurat preman".

Di samping itu harus melibatkan semua sektor. Aparat hukum yang konsisten dan tidak korupsi, pers, kalau perlu semua stasiun TV/ radio membuat program yang khusus membicarakan tentang gerakan ini sehingga menjadi gerakan massal. Setiap denyut nadi dan tarikan napas bangsa ini akan mengingat dan melaksanakannya sehingga akan menjadi kebutuhan dan budaya hidup sehari-hari bangsa kita ini. Kalau tidak energi dan waktu kita akan habis untuk hal-hal yang tidak penting dan akan memalukan diri kita sendiri sebagai bangsa yang dulunya beradab dan mempunyai sopan santun.

Sebagai bangsa yang besar kita merasa sangat leeelaaahhhh, malu, frustasi, atau bahkan mulai muak. Melihat tingkahpolah masyarakat atau bangsa kita yang sudah tidak ada lagi menghargai aparat penegak hukum, mengangkangi peraturan secara terang-terangan, mau menang sendiri, dan hanya berpikir untuk kepentingan diri sendiri atau golongan.

Budaya malu juga wajib dikembangkan. Kita lihat saat ini banyak ditayangkan di TV nasional para publik figur yang dengan bangganya menyatakan mereka telah hamil walaupun belum nikah. Melahirkan anak tanpa pernikahan resmi ataupun dalam usia perkawinan baru lima bulan. Atau tidak merasa malu untuk tampil di muka umum sebagai pemakai narkoba, pelaku korupsi dan lain-lain sehingga akhirnya generasi muda kita yang lahir saat ini akan merasa hal ini tidak merupakan aib atau pun sikap yang sangat tidak terpuji dan memalukan. Malahan bangga untuk berbuat asusila agar dapat menjadi terkenal?

Kita sangat rindu melihat bangsa ini menjadi bangsa yang santun, tertib, saling menganjurkan berbuat baik dan mencegah perbuatan mungkar. Seperti firman Allah: wata'awanu alal birri wattakwa wala ta'awanu alai ismi wal'udwan. Besar sekali harapan ini untuk dapat disebar-luaskan, diekpose habis-habisan ke seluruh media. Baik TV nasional, surat kabar nasional, radio nasional, dan oleh tokoh nasional yang berjuang untuk perbaikan Indonesia di masa depan. Sehingga, kita akan tersentak betapa buruknya akhlak bangsa ini.

Mudah-mudahan kalau gerakan ini dimulai dari sekarang. Insya Allah generasi muda saat ini akan bisa berubah dan akan lebih santun serta bertangung jawab. Saya pernah berpikir mungkinkah bisa dibuat satu kota sebagai kota percontohan yang menerapkan disiplin nasional, dan gerakan ini kita mulai dengan penyebaran selebaran, imbauan, pamflet kepada masyarakat, kemudian kalau perlu dilakukan apel bersama dan kesepakatan masyarakat kota untuk mencoba menjadi masyarakat yang disiplin dan berakidah.

Surat ini ini saya buat karena saya tidak begitu bisa menulis dan juga tidak tahu ke mana saya harus menyampaikan ide ini. Saya pernah mengirim e-mail kepada Yth Prseiden, Wapres, dan menteri-menteri beliau, Ketua DPR, ketua DPD atau pun para politisi. Namun, sampai saat ini tidak ada tanggapannya. Saya pernah mengirim e-mail ke beberapa media masa namun tidak ada yang berminat untuk menyebarkannya.

Besar harapan saya mudah-mudahan dengan surat ini Bapak Presiden bersedia membaca dan mempertimbangkan saran ini di tengah kesibukan Bapak memimpin negara ini. Saya yakin jika Bapak beserta jajaran pemerintah memimpin gerakan ini mempelopori gerakan ini "Tarimo Kasih".

Mudah-mudahan kita dapat bersama memperbaiki bangsa ini ke depannya sehingga insya Allah akan berhasil dan kita akan melihat generasi mendatang yang tertib santun disiplin, dan berakhlak mulia di masa yang akan datang. Sesuai dengan keinginan dan cita-cita Bapak selama ini.

Wassalam, Demi Indonesia Lebih Baik, Dirgahayu Republik Indonesia.

Wassalam
Dr Hermansyah,
RSUD Lubuk Basung Kabupaten Agam



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads