Mengembalikan Peran, Tanggung Jawab, dan Idealisme Media Massa

Mengembalikan Peran, Tanggung Jawab, dan Idealisme Media Massa

- detikNews
Senin, 04 Okt 2010 08:42 WIB
Mengembalikan Peran, Tanggung Jawab, dan Idealisme Media Massa
Jakarta - Suatu ketika saya mengantarkan atasan saya pulang ke rumahnya. Beliau adalah seorang Muslim, sarjana hukum, security senior dengan berbagai macam pengalaman dalam bidang pengamanan termasuk intelijen selama hampir 30 tahun. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kredibilitas dan integritas beliau. Terlebih bila dibandingkan dengan saya yang hanya seorang sopir.

Selama perjalanan beliau menggerutu sambil mengomentari tentang peristiwa penusukan jemaat HKBP di Bekasi. Kebetulan saat itu Radio 68 H, sebuah radio milik komunitas Jaringan Islam Liberal (JIL), tengah memberitakan tentang insiden yang terjadi pada 12 September 2010 lalu itu.

Menurut beliau peristiwa tersebut bisa terjadi karena salah satunya adalah karena pemerintah membiarkan sebuah organisasi massa masih eksis. Juga karena Majelis Ulama Indonesia (MUI) terlalu ikut campur dalam permasalahan kehidupan bernegara. Juga dalam masalah Ahmadiyah, menurut beliau kenapa Ahmadiyah dipersoalkan keberadaannya. Sedangkan perbedaan antara NU dan Muhammadiyah tidak dipersoalkan? "Biarkan saja perbedaan itu ada. Selama tidak mengganggu pihak lain", begitu menurut Beliau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari apa yang dibicarakan atasan saya tersebut saya berpikiran bukan tidak mungkin opini seperti apa yang diungkapkan atasan saya, yang notabene sudah kenyang dengan dunia pengamanan dan seorang sarjana hukum, juga hinggap di benak sebagian masyarakat Indonesia.

Tapi, saya tidak ingin menyoroti masalah NU, Muhammdiyah, Ahmadiyah, atau kekerasan sebuah organisasi massa. Namun, penyebab timbulnya opini yang berpengaruh terhadap sikap masyarakat terhadap suatu peristiwa. Menurut saya, sebenarnya yang lebih berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat adalah pemberitaan sebuah media. Entah itu koran, televisi, majalah, atau pun media online.

Seperti yang kita rasakan dan alami dewasa ini media massa sudah seperti menjadi salah satu menu pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Keberadaannya tidak lagi menjadi hal yang eksklusif seperti satu atau dua dekade lalu sehingga kini masyarakat bisa mengakses isi sebuah media kapan dan di mana saja. Lalu mulai dari warung kopi pinggir jalan sampai restoran mewah. Tidak peduli pekerja kasar yang berkeringat atau eksekutif yang berdasi licin. Semua sedikit banyak pasti membicarakan peristiwa yang tengah hangat terjadi.

Dari obrolan-obrolan tersebut atau diskusi yang terjadi maka timbulah sebuah opini yang bisa berkembang menjadi sebuah sikap terhadap suatu peristiwa. Namun, yang sangat saya sayangkan adalah saya mendapati bahwa terkadang media massa dalam memberitakan sebuah peristiwa tidak disertai dengan chek and balance. Artinya sering kali berita yang disampaikan hanya sepihak tanpa ada pemberitaan pembanding dari media yang sama.

Terlebih bila menyangkut masalah yang sangat sensitif, SARA (Suku,Agama, dan Ras), karena berita seperti inilah yang paling laku untuk dijual. Karena, behubungan erat dengan sebuah fanatisme, primordialisme masyarakat Indonesia yang majemuk.

Dalam memberitakan masalah SARA ini media massa cenderung seperti mengekspos habis-habisan dari satu sisi. Lalu kemudian beralih ke berita lain tanpa ada tanggung jawab moral untuk menyelesaikan secara tuntas berita tersebut. Sehingga, opini yang dibangun cenderung sepihak dan setengah-setengah.

Sebagai contoh berita tentang penusukan seorang jemaat HKBP di Ciketing Bekasi. Sering kali saya mendapati media massa mengekspos habis penusukan tersebut tanpa memberitakan juga sebab dan kronologis sehingga peristiwa tersebut bisa
terjadi. Yang ditulis dengan huruf besar dari media adalah terjadinya penusukan terhadap jemaat HKBI oleh umat Muslim.

Berita seperti ini ini secara tidak langsung akan menimbulkan opini dan vonis bahwa umat Muslim sebagai terdakwa. Lalu media sibuk memberitakan keadaan korban penusukan yang mendapat perhatian dari Presiden hingga menyentuh masalah SKB 2 Menteri yang diperdebatkan perlunya direvisi, dicabut, atau tidak.

Model pemberitaan seperti ini akan semakin menyudutkan pelaku penusukan (baca: umat Muslim) dalam posisi yang tidak menguntungkan. Mereka sudah divonis bersalah tanpa sempat mengajukan pembelaan, dan lucunya yang memvonis mereka bukan pengadilan melainkan media.

Beralih ke lain kasus. Tentu masih segar dalam ingatan kita ketika media televisi secara serempak memberitakan pengepungan teroris di Temanggung setahun lalu. Bahkan, sebuah media televisi nasional menyiarkan secara langsung drama pengepungan tersebut yang berlangsung kurang lebih selama 18 jam.

Saat itu di mana pengepungan belum selesai semua media sudah memberitakan bahwa tersangka teroris yang tengah dikepung Tim Densus 88 adalah Nurdin M Top. Bahkan, tidak lama kemudian semua media (bahkan media asing) secara serempak memberitakan bahwa Nurdin M Top telah tewas dalam peristiwa pengepungan tersebut. Selesai sudah petualangan buronan paling dicari. Begitu (lagi-lagi) vonis semua media massa tanpa menunggu informasi resmi dari Kepolisian. Namun, beberapa hari kemudian terungkap bahwa yang tewas dalam pengepungan selama 18 jam di Temanggung bukanlah Nurdin M Top melainkan Ibrohim.

Di sinilah yang menjadi salah satu letak kesalahan media massa. Mereka (baca: media massa-media massa) tidak pernah meminta maaf atas kesalahan yang telah mereka lakukan kepada masyarakat Indonesia atas kesalahan pemberitaan yang jelas-jelas terjadi. Dengan enaknya para media kemudian mencari bahan baru yang akan dikonsumsikan kepada masyarakat tanpa peduli dengan perasaan masyarakat yang pernah mereka giring dalam sebuah opini yang salah.

Inilah yang terjadi pada sebagian media massa di Indonesia. Mereka sering kali melupakan tanggung jawab moral sebagai sebuah sarana informasi. Karena, persaingan antar media yang kian ketat. Karena, mengejar oplah mereka cenderung memberitakan sebuah permasalahan hanya secara garis besar yang sekirannya laku untuk dijual.

Terkadang informasi yang disampaikan hanya berdasarkan "akibat" tanpa menelusuri "sebab". Cenderung arogan dengan terlebih dahulu memberi keputusan dan kesimpulan tanpa menelaah secara cermat dari sebuah permasalahan dan juga enggan meminta maaf bila terjadi kesalahan sebuah informasi.

Dan, media massa juga sudah bukan saja menjadi sarana untuk mendapat informasi yang baik dan benar. Tapi, juga menjadi ajang pengadilan bagi obyek berita. Lalu, sebuah media bisa mengeksploitasi obyek berita dan kemudian memberikan kepada masyarakat sebuah berita dengan opini yang sudah terbentuk sebelumnya.

Seharusnya sebagai sebuah media informasi dalam memberitakan media massa memiliki check and balance sehingga berita yang ditampilkan menjadi obyektif. Tidak subyektif atau berpihak kepada pihak tertentu atau justru malah memprovokasi sebuah masalah sehingga menjadi lebih keruh tanpa memberikan solusi. Karena, sebenarnya media massa memiliki kekuatan yang saling berlawanan dalam membentuk opini dan sikap masyarakat yaitu membangun masyarakat yang cerdas dan kritis atau malah sebaliknya. Menuntun masyarakat menjadi warga negara yang pasif dan mudah terprovokasi oleh berita.

Namun, yang lebih penting lagi adalah idealisme media massa sebagai sebuah sarana dan fungsi informasi yang perlu dikembalikan. Karena, ketika idealisme sudah digerogoti oleh pengejaran oplah sudah digerus oleh mengejar pendapatan iklan atau disisihkan oleh keberpihakan kepada pihak tertentu maka yang ada hanyalah informasi yang cenderung kabur, subyektif, dan tidak konstruktif bagi kemajuan sebuah masyarakat.

Hanib Rifa'i
PT KJS
Jln Paku Aji Lt 1 komplek PT PKT Bontang
paiaja66@yahoo.co.id
081253682959



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads