Bea Siswa

Bea Siswa

- detikNews
Jumat, 20 Agu 2010 09:34 WIB
Bea Siswa
Jakarta - Kemajuan sebuah negar tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alamnya. Akan tetapi lebih ditentukan pada kecerdasan warganya. Bila dibandingkan dengan negara lain tentunya kekayaan alam Indonesia tidak ada tandingannya. Namun, fakta sejarah membuktikan kita masih menempati urutan tengah atau negara berkembang.

Catatan dari Human Development Index yang dikeluarkan pada tahun 2009 (kompilasi data 2007) menggambarkan ukuran harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan standar hidup bagi negara-negara di seluruh dunia masih menempatkan Indonesia pada urutan ke-111 (Medium Human Development). Kita masih kalah setingkat dengan Palestinian Authority. Bahkan, jauh tertinggal dari tetangga kita Malaysia (66) maupun Singapura (23).

Sebagai bangsa besar tentunya kita tidak berkecil hati. Keyakinan, kerja keras, dan kerja cerdas akan menjadikan kita lambat atau cepat menjadi negara maju. Tidak perlu jauh kita melihat negara maju sebagai patokan tetapi cukuplah menengok negeri serumpun kita Malaysia yang baru merdeka pada tahun 1957. Mengapa
saya sebutkan Malaysia. Karena, secara sosial-kultural masyarakatnya hampir sama dengan kita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu kemajuan Malaysia adalah karena kebijakan negara yang berpihak pada sistem pendidikan. Hampir 30% APBN-nya Malaysia diperuntukkan untuk sektor pendidikan. Jumlah alokasi dana untuk dunia pendidikan ini telah memberi kesempatan yang luar biasa bagi warga negara Malaysia untuk mendapat bea siswa dalam menuntut ilmu ke manca negara.

Tidak hanya itu. Banyak juga terdapat perusahaan dan institusi kerajaan di Malaysia yang memberi pinjaman kepada warga Malaysia berprestasi untuk belajar ke luar negara dengan perjanjian harus membayar balik pinjaman tersebut ketika tamat belajar. Atau pun diwajibkan bekerja di institusi yang memberi pinjaman tersebut setelah belajar tamat.

Tahun 1970-1980-an mahasiswa Malaysia dan Singapura berbondong-bondong belajar ke Indonesia. Tapi, sekarang, mereka tidak mau datang ke Indonesia. Justru mahasiswa kita yang belajar ke sana. Langkah ini sebenarnya mulai ditiru oleh Indonesia yang mulai tersadar akan pentingnya pendidikan dalam mengangkat harkat martabat bangsa.

Pemerintah telah menelurkan kebijakan 20% APBN untuk pendidikan. Ribuan masyarakat Indonesia telah mulai merasakan pendidikan murah dengan banyaknya bea siswa yang digelontorkan melalui Departemen Pendidikan Nasional maupun lembaga lainnya. Namun, ketika saya mencermati sebagian besar bea siswa hanya diberikan untuk mereka yang berprestasi secara akademik. Padahal negara menjamin pemerataan hak kepada seluruh warga negara untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan.

Pemerataan pendidikan yang bermutu tidak boleh melihat dari mana peserta didik datang. Dalam kondisi perekonomian keluarga yang seperti apa. Semestinya pendidikan bermutu menjadi hak bersama. Ukuran prestasi yang sering kita dengar adalah dengan nilai tinggi sehingga memudahkan seorang untuk mendapatkan pendidikan.

Nilai tinggi menjadi pra-syarat untuk mendapatkan bea siswa. Barangkali di masa-masa yang lalu kecerdasan akademik dianggap hal yang paling menentukan keberhasilan seseorang. Seorang murid atau mahasiswa dinilai cerdas apabila ia mempunyai prestasi akademik yang tinggi. Kalau siswa ukurannya adalah nilai NEM, UN yang tinggi, kalau mahasiswa ukurannya adalah IPK yang tinggi. Padahal ukuran kecerdasan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik.

Allah SWT telah memberikan kelebihan dan kekurangan kepada hamba-Nya Bisa saja seseorang yang tidak mempunyai nilai yang bagus tetapi dia mempunyai ketrampilan lain yang sama-sama bisa mengharumkan nama bangsa seperti olah raga, seni, maupun profesi lainnya.

Kemajuan bangsa bisa saja dilihat dari prestasi lain. Sebelas orang pemain bola bisa melambungkan nama Indonesia jika mampu masuk dalam Piala Dunia. Bisa saja harumnya melebihi peraih medali emas Olimpiade Fisika maupun menemukan karya ilmiah lainnya. Artinya negara harus mampu merangkul aspek berprestasi lainnya selain akademis.

Terobosan ini ternyata sudah diantisipasi oleh Departemen Pendidikan Nasional dengan meluncurkan program beasiswa unggulan yang ditujukan bagi warga negara yang punya prestasi lain selain akademis. Tentunya program ini harus terus didukung untuk mencetak manusia Indonesia yang unggul.

Harapan kita adalah mengubah makna prestasi yang sudah melekat di masyarakat sehingga kita mampu menghargai karya-karya lain anak bangsa. Suatu saat kita pasti akan melangkah jauh mengungguli negara tetangga dengan prestasi akademis maupun karya-karya non akademis sehingga bangsa lain akan kembali berbondong-bondong belajar kepada Indonesia.

Intan Herwindra Millyaningrum SPi (Pencari Beasiswa)
Jln Sujono 75 RT 2 RW 1 Sukorejo
Email: intan_herwindra@yahoo.com 
HP 085640543332



(msh/msh)


Berita Terkait