Bagaimana tidak dicinta. Lha wong mereka memberi lapangan kerja sangat luas dan memberi penghasilan pada khalayak tanpa pandang bulu. Dari mulai papan atas alias para pengusaha yang terkait langsung maupun tak langsung dengan industri ini. Juga para pedagang hingga pemulung.
Belum lagi terhitung banyaknya support kegiatan di dunia hiburan, olah raga, kesenian, termasuk setiap tahun memeriahkan HUT RI. Atau pun aktivitas sosial seperti bantuan di bidang keagamaan (sumbangan bagi masjid, gereja, kelenteng), juga prasarana transportasi (jalan, jembatan, dan lain). Just name it!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pro kontra sebuah kegiatan boleh saja. Tapi, jangan egois dan mengabaikan substansinya. Negeri ini kekurangan lapangan kerja? Sangat kurang. Sementara industri rokok memiliki andil besar? Sangat besar dalam menyediakan lapangan kerja. Apakah mereka yang aktif dan vokal menyuarakan "anti rokok" sanggup menggantikan lapangan kerja dan penghasilan dari business link industri rokok yang lenyap? Bagaimana pula dengan kocek pemerintah yang selama ini digelontor melalui cukai itu?
Komplain adalah hal paling mudah yang dapat dilakukan bibir. Tapi, tak mudah bila harus dipertanggungjawabkan. Termasuk wacana rokok haram yang beberapa kali diprovokatori oleh oknum. Bila rokok hilang dari Bumi Pertiwi ini apakah rakyat dan bangsa akan lebih baik kondisinya? Apakah substitusinya siap? Ingat, yang bikin rusak negeri ini adalah mental korupsi dan egoisme para penguasa!
Satu lagi yang tak kalah penting adalah mencerdaskan rakyat. Ini bukan kalimat pemanis kampanye yang segera dilupakan oleh pengucap saat menjabat. Meskipun tak ter-statistik tapi cukup banyak anak muda yang pinter terpaksa putus sekolah. Problemnya klasik. Tak ada dana. Si miskin tetap miskin dan kian banyak karena anak-anaknya tak mampu meraih taraf hidup yang lebih baik.
Institusi pendidikan terkesan cuek (atau hampir semua memang cuek) terhadap masa depan anak didik. Guru hanya bisa "menyayangkan" murid pinter tapi miskin yang putus sekolah setelah menyelesaikan studi setingkat SMP atau SMU. Mengapa mereka tak berbuat sesuatu. Misalnya kepala sekolah (kepsek) SMP mengajukan bea siswa ke kepsek SMU. Kepsek SMU mengajukan bea siswa ke PT? Pemerintah juga cuek. Mengapa pemda setempat tidak memberi bea siswa? Lihat saat pilkada atau kampanye. Miliaran dihamburkan penuh semangat.
Demi meraih tujuan pribadi berinvestasi memperebutkan kursi agar bisa mengeruk uang sebanyak mungkin. Mereka yang sepantasnya membangun malah merusak dan hanya fokus kepentingan pribadi. Trenyuh, bukan?
Dunia pendidikan identik dengan anti rokok. Ini sudah dicanangkan bertahun-tahun lalu. Tapi, pada kenyataannya industri rokoklah yang paling gencar memberi bea siswa. Yang peduli malah dimusuhi. Sementara yang anti tetap tak peduli dan hanya pinter ngoceh atau pun ngritik. Pemerintah membuat peraturan yang berdampak dilema dan polemik tanpa akhir? Dan, tak bertanggung jawab. Sebuah kontradiksi yang lucu tapi tidak membuat tertawa.
Lalu ke mana para murid miskin yang pinter harus berharap? Bagaimana memajukan bangsa dengan pemerintah yang buta-tuli ini? Apa gunanya slogan Wajib Belajar bila hanya setingkat SMU? Bintang pelajar dan calon "orang" yang produktif selamanya akan terbenam.
Oh ya. Slogan itu harusnya diganti? Kalau belajar merupakan kewajiban maka takkan memberi hasil sepadan. Mestinya "Sadar Belajar" dan juga beri dukungan konkrit dari saat studi hingga mendapat lapangan kerja. Terutama si pintar yang miskin.
Tapi, ingat. Jangan diselewengkan! Biasanya kalau terkait dana pasti para "tikus berseragam" berebut mencaplok. Banyak orang pemerintah yang pinter tapi sayang keblinger. Sumpah jabatan saat dilantik hanya retorika dan ritual hambar. SBY presiden terpinter sejauh ini tapi apakah beliau termasuk yang keblinger? Indonesia negeri yang kaya sumber daya alam tapi tak ada niat nyata pemerintah untuk memanfaatkan demi kesejahteraan rakyat.
Pulau disewakan dan pasir dijual sehingga daratan menyempit. Bahan baku dijual dan dibeli lagi setelah menjadi produk dengan harga mahal. Dana bantuan dikorupsi. Maling berhasil ditangkap malah korban disuruh menebus barang yang dicuri dan mengobati maling (padahal bila lolos polisi tak berbuat apa pun, polisi dan maling sama saja, merugikan rakyat).
Indonesia negeriku tercinta yang rapuh dan bobrok? Kapankah dan mungkinkah para penguasa negeri ini punya hati dan pikiran jernih?
Salam,
Handoyo BsMsK
Jl Arumdalu #3A Klaten
thomazhandoy@yahoo.com
0818872008
(msh/msh)











































