"Dia joint dengan Indonesia akan menambah produksi garam lokal akan ada sistem plasma inti," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di acara MoU antara Cheetam Salt dengan Bupati Nagakeo di Kemenperin, Kamis (17/6/2010). Hidayat menjelaskan jika kerja sama ini sudah direalisasikan maka akan ada tambahan produksi garam nasional sebesar 250.000 ton per tahun.
Diharapkan akan terserap 2.000 tenaga kerja dari realisasi kerja sama ini. Pihak Cheetam akan memberikan pembinaan teknologi garam kepada petani rakyat. Nantinya produksi garam di NTT tersebut akan diolah di pabrik garam Cheetam di Cilegon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekarang yang menjadi pertanyaan saya pribadi khususnya adalah apakah Indonesia tidak mampu meningkatkan teknologi pengolahan garam, yang tepat, bersih, dan sehat? Apakah sudah tidak ada SDM kita yang bisa mengerjakan itu.
Kalau pemerintah mau membuka mata itu banyak sarjana-sarjana yang teknologi dengan nilai bagus nganggur. Daripada diambil negara lain. Seperti yang terjadi pada mereka-mereka yang tergabung dalam I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia International), Mengapa tidak diberi bea siswa disekolahkan, transfer teknologi luar ke dalam negeri, yah?
Mungkin hanya hayalan. Karena, lagi-lagi memang sudah tabiat penguasa kita sepertinya tidak mau susah. Mahal-mahal menyekolahkan anak orang mending anak sendiri diberangkatkan. Jaga gengsi dong. Masak anak pejabat sekolahnya lokalan?
Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, untuk membuka lapangan pekerjaan masyarakatnya sendiri. Apakah memang harus selalu bergantung kepada pihak luar? Sampai kapan kita diajarkan untuk selalu menadahkan tangan? Sampai kapan mental dan jiwa pengemis ini bercokol kuat dibalik badan-badan berbalut jas-jas mewah dan batik-batik mahal itu?
Ketika rakyat bergerak sendiri ada saja keputusan-keputusan yang menghalangi. Turunlah satpol PP. Main obrak main abrik. Gusur sana gusur sini. Ujung-ujungnya mall mewah berdiri. Sesuatu yang tidak pernah berpihak kepada rakyat seperti yang selalu dijanjikan dalam setiap kampanye. Hanya mengisi kantong sendiri. Berpikir supaya balik modal dan untung besar.
Hmmmm, hanya teknologi untuk garam SDM kita saya rasa lebih dari mampu. Pesawat sudah pernah bikin. Mobil nasional sekarang mulai menggeliat. Produksi panser sudah banyak pesanan. Tapi, untuk teknologi garam dan lapangan pekerjaan? Mengapa masih pusing-pusing? Musyawarahkan dengan rakyat jangan dengan sesama pencari kepentingan. Hasilnya ya ujung-ujungnya "proyek".
Negara kepulauan dengan lautnya yang kaya, masih impor garam? Ah dagelan kuno tapi selalu menarik untuk diperbincangkan.
Salam untuk Indonesia kreatif.
Dhani
Masakin Suzan Mubarak 7/20
Duwaiqoh-Mansyiah Nasr-Cairo-Egypt
batar_03@yahoo.com
+20103781577
(msh/msh)











































