Lahan pertanian yang masih dinilai produktif saat ini adalah di daerah Kalimantan Timur tempat di mana akan diproyeksikan sebagai daerah tempat pertahanan pangan terakhir di negeri ini. hal tersebut seperti diungkap oleh Wakil Rektor Institut pertanian Bogor Dr Ir Anas Miftah Fauzi dalam sebuah lokakarya international.
Masalah penurunan stok pangan tidak hanya dialami oleh Indonesia saja. Namun, negara seperti Uni Emirat Arab, kuwait, China, dan Korea Selatan juga mengalami penurunan dalam stok pangan mereka akibat dari perubahan iklim secara global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara-negara importir pangan lebih senang memegang kontrak ladang dengan negara miskin ketimbang mengimpor bahan makanan lewat perdagangan international karena harga pajak untuk impor pun naik hingga 35% di tahun 2008.
Masih segar di benak kita di tahun 2008 harga pangan menyentuh titik traumatis. Hal ini bisa ditandai dengan meningkatnya harga gandum dunia hingga 83%. Oleh karenanya menyewa ladang negara miskin adalah salah satu solusi bagi negara tersebut agar kesinambungan stok tidak terganggu dan tidak tersiksa oleh krisis.
Negara yang kini tengah melirik ladang di Kalimantan timur adalah Uni Emirat Arab yang kini tengah berunding dengan Indonesia untuk menyewa ladang seluas 100 ribu hektar. Ladang tersebut niatnya akan diinvestasikan untuk memproduksi sebanyak mungkin pangan. Seperti padi, tebu, buah-buahan, dan kelapa sawit yang nantinya akan diimpor ke UEA (Uni Emirat Arab).
Kalimantan timur memang memiliki ladang subur yang menguntungkan, dan Middle East Coal (MEC) milik UEA berencana memulai proyek perkebunannya pada 2011. Sekedar Informasi UEA memiliki sebuah usaha tambang yang separuh sahamnya berada di Kalimantan Timur yakni berupa bisnis batu bara.
Ironis sekali bahwa tidak hanya sumber daya pertambangannya yang banyak dikontrak dan dikelola oleh asing. Namun, saat ini rupanya negara luar sudah mulai merambah pada sumber daya pangan Indonesia. Dua modal besar sumber daya yang dimiliki oleh negeri ini kini tengah dirambah oleh negara lain yakni pangan dan energi. Sedangkan pangan dan energi adalah modal awal negeri ini untuk membangun negara indonesia. Mengapa demikian?
Karena Indonesia merupakan negara dengan potensi sumber energi yang besar. Mulai dari batu bara, minyak bumi, hingga energi geothermal yang potensinya merupakan yang terbesar di dunia 35% panas bumi dunia.
Keberadaan sumber daya tersebut akan memberikan profit yang besar bagi negara karena keberadaan suatu industri energi fosil dan geothermal ini akan memberikan multiplyer effect yang besar khususnya pada daerah tempat industri tersebut berada sehingga akan terjadi peningkatan nilai ekonomi makro negara Indonesia.
Dalam hal human development sumber daya energi juga memberikan peranan yang penting. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa sumber daya energi tersebut memberikan pendapatan yang besar dan cepat bagi negara.
Pendapatan dari sektor energi tersebut akan dapat digunakan dengan baik untuk human development resource jika terjadi suatu transformasi yang baik pula dari sumber daya energi menjadi human development. Karena indikasi majunya suatu negara adalah meningkatnya angka Human Development Index (HDI) yang meliputi kesehatan, pendidikan, dan daya beli.
Sangat memprihatinkan jika negeri yang dikaruniai sumber daya pangan dan energi yang besar harus menjadi kuli dan pembeli di negeri sendiri. Bahkan, hingga bahan makanan pokok karena sebagian besar hasilnya akan dinikmati oleh negara lain. Dan, yang lebih menggelikan lagi Indonesia memperpanjang nota kesepakatan impor beras dari Vietnam sebanyak satu juta ton dalam jangka waktu dua tahun hingga tahun 2011.
Memperpanjang nota kesepakatan impor beras sedangkan lahan potensial di Indonesia disewakan ke pihak asing. Atau yang disebut sebagai land grabber yang akan berpotensi menggembosi ketersediaan pangan Indonesia.
Oleh karenanya sangat dibutuhkan perhatian yang lebih dari kita semua sebagai bangsa Indonesia. Baik itu pemegang kekuasaan maupun rakyat dalam mempertahankan ketersediaan pangan dan energi Indonesia.
Novrina Nur Annisaa
Jalan Ganesha Bandung
gg_erz@yahoo.co.id
081931206709
Penulis adalah mahasiswi Teknik Pertambangan ITB.
(msh/msh)











































