Seolah tak ingin melewatkan momen istimewa itu khutbah-khutbah pada hari itu mengajak umat Muslim negeri ini untuk kembali pada ayat-ayat Allah. Bersama-sama melakukan instropeksi diri atas semua perbuatan yang telah kita lakukan di masa lalu di tengah hiruk pikuk permasalahan bangsa yang tak kunjung usai.
Hari Raya Idul Adha yang juga disebut dengan Hari Raya Kurban merupakan ibadah tahunan dengan dimensi sosial kemasyarakatan yang sangat dalam. Kurban merupakan manifestasi ibadah vertikal dan horisontal. Habluminallah dan habluminannas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sudah selayaknya jika kurban tidak dimaknai sebatas "pesta daging" yang diadakan setahun sekali. Hari Raya Idul Adha bukanlah hari di mana masyarakat kecil bangsa ini berdesak-desakan, berpanas-panasan, dan berdiri berjam-jam dalam antrean panjang demi sekantong daging segar. Ada keutamaan (fadhilah) ibadah yang terlupa di sana.
Tentang arti sebuah pengorbanan akan cinta yang dimiliki seorang Nabi. Tentang cinta Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT yang jauh lebih besar dibanding cinta-cinta yang lain. Ya, ibadah kurban adalah ibadah yang mengingatkan kita tentang arti sebuah pengorbanan cinta di jalan Allah.
Nabi Ibrahim kala itu rela anaknya disembelih jika memang perintah menyembelih itu datang dari Allah SWT. Sebuah ujian akan cinta. Dan, Allah pun mengakhiri ujian cinta itu dengan mengganti Nabi Ismail dengan seorang domba untuk disembelih.
Ibadah kurban bukan pula sebuah ibadah sakral yang berkaitan dengan sebuah persembahan.Β Hal ini ditegaskan dalam Alquran. Allah berfirman:
"Daging-daging dan darah unta yang disembelih untuk kurban itu, sama sekali bukan untuk mencapai (keinginan) Allah tetapi dengan ketakwaan kamu itulah yang akan mencapai (keridhaan) Allah. Demikianlah Allah memudahkan hewan sembelihan itu, supaya kamu mengagungkan Allah berupa hidayah-Nya kepadamu" (QS Al-Hajj: 37).Β
Dari ayat ini jelas terlihat bahwa ibadah kurban adalah sarana atau bukti perwujudan ketakwaan dan cinta seseorang kepada Penciptanya yang juga direalisasikan lewat ibadah sosial.
Ketika kita kembali menilik kasus-kasus yang menimpa rakyat kecil bangsa ini beberapa pekan terakhir. Maka kita seolah dihadapkan pada kenyataan yang jauh dari perwujudan ibadah sosial seperti tertulis di atas. Masyarakat kecil yang kini terjerat hukum karena kasus pencurian semangka, biji kakao, atau kapas lantaran himpitan ekonomi sehari-hari.Β
Perbuatan mencuri memang tidak dibenarkan dalam ajaran agama apa pun. Namun, ketika hukuman atas pencurian kelas kecik ini tidak sebanding dengan pencurian kelas kakap maka masyarakat pun berduyun-duyun melontarkan kritik atas keadilan hukum yang ada pada bangsa ini.
Ah, keadilan. Sampai sejauh mana kata keadilan ini bisa direalisasikan oleh manusia-manusia bangsa ini. Kondisi masyarakat kecil yang serba terbatas. Hingga kemudian alasan keterbatasan ini pula yang "memaksa" mereka melakukan tindak pencurian.
Mungkin juga terjadi karena kita tidak adil terhadap orang-orang kecil seperti mereka dalam keseharian kita. Ada hak-hak milik mereka yang secara tidak langsung kita curi lewat ibadah-ibadah sosial seperti zakat dan sedekah yang tidak kita bayarkan. Jadi sebenarnya, siapa mencuri siapa?
Momen Idul Adha Jumat (27/11) yang lalu semoga menjadi sebuah momen reflektif bagi kita semua. Tiga khutbah yang ada pada hari Idul Adha tahun ini semoga benar-benar menjadi pengingat kita semua akan arti sebuah pengorbanan cinta di jalan Allah dan mampu pula menyentil nurani kemanusiaan kita.
Ibadah kurban sejatinya tidak dimaknai sebagai pesta daging semata. Ibadah kurban semestinya mampu menjadi momentum perwujudan cinta kemanusiaan kepada sesama yang tidak hanya terjadi setahun sekali.
Kelak di waktu-waktu ke depan ketika ibadah sosial mampu kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak akan lagi menemukan kasus-kasus pencurian semangka, biji kakao, dan kapas yang dilakukan oleh masyarakat kecil bangsa ini.
Jadikan ibadah-ibadah sosial, baik kurban, zakat, dan sedekah, sebagai saranan untuk menegakkan estetika dan etika sosial kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Semoga tiga khutbah di Hari Raya Idul Adha tahun ini benar-benar mampu menjadi seruan indah akan perintah Allah yang mampu menyejukkan dan menenteramkan kita
Nurfita Kusuma Dewi
Penulis adalah Pegawai Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan.Β
(msh/msh)











































