Mereka tidak lagi berada dalam kesatuan jamaah kaum Muslim secara hakiki sebagaimana dulu kaum Muslim saat berada dalam naungan Daulah Islam masa Rasulullah SAW dan KeKhalifahan Islam setelahnya. Mereka dicengkeram 'ashobiyah sempit. Berkubang dalam sistem jahiliyah modern: naionalisme dan negara-bangsa (nation-state).
Umat Islam saat ini bisa bersatu dalam satu ibadah mahdoh yakni ibadah haji. Mereka mengarah ke kiblat yang satu dan berada di tempat ibadah yang sama. Namun, mereka begitu saja abai terhadap kewajiban mereka untuk berada dalam satu kepemimpinan yang juga satu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, di luar itu seperti kewajiban mereka untuk berada dalam satu kepemimpinan Islam (khilafah) dan keharusan mereka untuk membuang sikap ashobiyah yang sempit. Seolah tidak pernah diwajibkan oleh Allah dan tidak pernah tertuang dalam lembaran wahyu (Al Quran dan As-sunnah).
Al Quran telah mengabadikan kisah dahsyat nabiyullah Ibrahim As. Beliau adalah manusia yang menyadari hakikat dirinya sebagai seorang hamba berikut kewajibannya sekaligus menyadari siapa Tuhannya berikut hak-haknya. Kecintaan Ibrohim As kepada Tuhannya sampai pada tingkatan mutlak.
Baginya, Allah SWT adalah segalanya. Karena itulah demi kecintaan atas Tuhannya Ibrohim As tidak pernah merasa berat hati mesti Allah SWT memintanya untuk mengorbankan putranya Ismail As, yang puluhan tahun ia nantikan kehadirannya. Demikianlah, Ibrohim As dengan ringan tanpa beban 'menyembelih' ego dan keakuannya, serta dengan tulus ikhlas mengorbankan rasa cinta kepada Tuhannya. Demikian besar cintanya kepada Allah hingga melebihi kecintaan kepada selainnya. Pantaslah jika Ibrahim As digelari sebagai khalilullah (kekasih Allah).
Sikap dan pengorbanan Ibrohim As ini diteladani secara sempurna. Bahkan, dengan kadar yang istimewa oleh Baginda Raulullah SAW. Bukan hanya waktu, tenaga, harta, dan keluarga yang Rasulullah korbankan nyawa pun beliau pertaruhkan demi tegaknya Islam dan kemuliaan kaum Muslim.
Dzulhijjah, adalah bulan di mana umat Islam sedang melangsungkan perhelatan besar, ibadah haji. Dari seluruh dunia kaum muslim berbondong-bondong datang ke tanah suci. Dengan berbagai latar belakang, ras, suku bangsa, dan bahasa. Kesamaan Islam dan iman yang mengikat mereka untuk berada dalam satu tempat bersama-sama demi mengerjakan semua perintah Allah SWT dengan penuh ketundukan dan ketulusan.
Pengorbanan waktu, tenaga, harta, dan pikiran mereka persembahkan hanya kepada Allah SWT. Berharap perniagaan mereka dengan Allah diterima dan dibeli dengan Ridha dan syurganya.
Apakah ibadah haji hari ini sama kondisinya dengan ibadah pada masa Rasulullah SAW. Apakah umat Islam sekarang bisa menangkap ibadah haji ini. Bagaimana pula pengorbanan umat Islam saat ini sebagai salah satu pesan dari ibadah kurban untuk kemuliaan agamanya.
Di tengah Padang Arofah, pada hari Tariyah 10 H, di tengah-tengah 144.000 kaum Muslim, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah haji terakhir beliau "haji wada":
Wahai manusia. Sesungguhnya darah dan harta kalian terpelihara atau haram atas diri kalian hingga kalian menjumpai Tuhan kalian, sebagaimana haramnya hari ini dan bulan ini. Sesungguhnya kalian pasti akan menjumpai Tuhan kalian dan kalian akan ditanya tentang amal-amal kalian. Sesungguhnya riba jahiliyah dihapukan seluruhnya. Kalian hanya menerima pokok harta kalian, kalian tidak mendzalimi dan tidak didzalimi.
Semua persoalan yang terjadi pada zaman jahiliyyah yang selama itu masih di bawah telapak kakiku, mulai hari ini dihapuskan. Sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian esuatu yang menjadikan kalian tidak akan sesat selamanya jika kalian berpegang teguh pada Kitabullah dan sunnah Raulullah.
Wahai manusia. Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu. Sesungguhnya kalian berasal dari satu Bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Tuhan adalah yang paling bertaqwa (HR AlBukhori).
Dari khutbah Nabi SAW di atas ada beberapa pelajaran penting bagi umat Islam.
Pertama, umat Islam adalah umat yang mulia, yang tegak, dan terikat oleh iman. Inilah ikatan ideologi yang paling kokoh dan menjadikan umat Islam istimewa dan berbeda dengan umat lain. Yang membedakan umat islam dengan umat lainnya adalah ketaqwaan mereka sebagai pembuktian atas keimanan mereka kepada Allah SWT.
Kedua, umat Islam sejak awal berdirinya di bawah kepemimpinan Rawulullah SAW telah membuang sistem yang melahirkan derita dalam kehidupan ekonomi mereka: sistem riba yang penuh dengan kedzaliman dan manipulasi. Islam telah mengubur sistem ekonomi riba ini sejak awal berdirinya masyarakat Islam di Madinah.
Ketiga, Rasulullah SAW dengan jelas menggambarkan telah tumbangnya sistem jahiliyyah yang rendah dan sangat tidak berharga. Ini adalah gambaran tegaknya kepemimpinan Islam atas semua yang berbau jahiliyyah. Pemimpinnya adalah Rasulullah SAW. Sistem dan hukum-hukum yang tegak di dalam masyarakatnya adalah sistem dan hukum Islam.
Keempat, keistiqomahan dalam memegang teguh kitabullah dan sunnah Rasul adalah pangkal keselamatan dunia dan akhirat.
Hasanah SP
Jl Brigjend Katamso Gang Beringin No 10
Sukaharja Ketapang Kalimantan Barat 78851
fath_alfairuz@plasa.com
081320936871
(msh/msh)











































